skip to main |
skip to sidebar
Ah, ini bukan apa-apa...
Tiga hari perjalananku menuju kampung halaman belum seberapa..
Bila dibanding dengan perjalanan dakwah para wali berhari-hari
Menyusuri hutan belantara..
Lebih sulit, lebih pedih, bahkan lebih letih..
Itu semua demi tegak dan jayanya agama Allah di bumi nusantara...
Lelahku dalam berjalan itu terlalu biasa...
Bila dibandingkan dengan para kyai yabg berdakwah berhari-berhari tanpa kenal masa...
Mengislamkan yang masih awam dan menaubatkan manusia berlumur dosa..
Rasa lapar dan hausku ini hanya sebentar saja..
Dapat terobati dengan beberapa teguk es teh atau es jeruk di kala
berbuka..
Sedang mereka (para wali dan kyai), lapar dan hauslah yang justru
menjadi santapannya...
Aku menyeberangi lautan bisa beberapa jam saja..
Dengan kapal-kapal yang siap berlayar mengantar kapan saja...
Tetapi para wali dan kyai..
Dulu, mereka harus menempuh hitungan hari.. bahkan bulan..
Agar sampai di seberang pulau sana..
Hanya berbekal tekad dan ridho Ilahi Rabbi, mereka rela syahid di
jalanNya..
ah, tentu ini belum seberapa..
Tiga hari saja...
#selatsunda,23rmdhn1438H
#salamsatujiwasantri
#sedang'otewe'sumatera
Aku ingin berkelana..
Bukan karena apa apa..
Hanya saja, aku ingin tahu..
Seluas apa tanah nusantara
Bahkan dunia..
Memuji besarnya ciptaan-Mu
Aku ingin berkelana..
Menghirup udara pada setiap tempat
di belahan bumi pertiwi
Menjejakkan kaki di setiap ranah yang berbeda
Mencium harumnya tanah dan air pusaka
Aku ingin berkelana...
Mengejar asa, menemukan cita
Bahkan tak dipungkiri pula, cinta
Yah, cinta. (Masih) cinta manusia biasa
Aku ingin berkelana...
Menemukan hal baru yang belum pernah ada dalam hidupku
Menyendiri, sembari memuji kebesaran ciptaan-Mu
Dalam relung kalbu, aku merindu.
Aku ingin berkelana...
Entah mengapa, hati serasa hampa
Teramat sesak di dada
Semoga Dia tunjukkan jalanNya
Di sudut sebuah pesantren... Sepi. Sunyi. Seorang pemuda dengan membawa segenggam harapan, ia melangkah. Beranjak dari kamar usangnya. Menyambar sebuah tas dengan beberapa tumpuk buku di dalamnya. Menuruni tangga, menyusuri lorong-lorong kelam, berteman suara jangkrik dan cicak yang setia menemani malam.
Beberapa saat kemudian, sampailah ia di sebuah gubuk reyot pinggir sawah. Bersanding segelas kopi hitam yang semakin dingin. Sedingin malam itu. Cahaya rembulan serta kerlip bintang seakan berdoa. Berharap Tuhan selalu membimbing dan mengabulkan segala pintanya. Sang pujangga ilmu yang sedang menyusuri jejak-jejak, menuju singgasana dan tahta. Namun bukanlah yang disangka kebanyakan manusia.
*sang_jejak*