BREAKING
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2022

Jangan Lewatkan Beberapa Amalan Ini pada Sepuluh hari Terakhir Ramadhan !

“Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan ramadhan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut. (HR. Muslim) Sebentar lagi umat muslim memasuki penghujung bulan Ramadhan. Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan inilah Rasulullah melakukan ibadah lebih giat dari malam-malam sebelumnya. Seperti halnya hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA di atas. Dalam sepuluh malam terakhir itu, rasulullah mengajak anggota keluar yang lain untuk memperbanyak i’tikaf, bertaqarrub serta memperbanyak aktivitas ibadah-ibadah yang lain. Kalimat “bersungguh-sungguh” pada hadis di atas juga menunjukkan bahwa Rasulullah menunjukkan anjuran kepada ummatnya agar tidak kendor dan lesu dalam beribadah di sepertiga terakhir bulan Ramadhan. Meskipun malam-malam Ramadhan adalah malam baik untuk beribadah, namun sepuluh malam terakhir ini yang lebih dianjurkan dan diutamakan. Mengingat menjelang akhir Ramadhan banyak masyarakat yang terlena akan datangnya hari raya. Beberapa keutamaan di sepuluh malam bulan Ramadhan yang menjadi alasan Rasulullah mengajak agar lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah ini adalah sebagai berikut : Pertama, sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan ini merupakan malam-malam yang paling dicintai Rasulullah SAW. Kedua, sepuluh hari terakhir ini menjadi penutup bulan Ramadhan yang penuh berkah. Setiap amalan manusia, biasanya dinilai dari amalan penutupnya. Ketiga, terdapat Lailatul Qadar atau malam seribu bulan yang biasanya pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Keempat, beliau mencontohkan agar umatnya tidak terlena dengan kesibukan menjelang hari raya. Justru harus disibukkan dengan ibadah-ibadah yang lebih berkualitas maupun secara kuantitasnya. Berikut ini sepuluh amalan utama yang menjadi perhatian Rasulullah di malam-malam terakhir bulan Ramadhan. 1. Memperpanjang Shalat Malam Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut, “Rasulullah SAW biasa ketika memasuki 10 Ramadan terakhir, beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Rasulullah menikmati kesyahduan malam-malam terakhir Ramadhan dengan membangunkan anggota keluarganya untuk bersama-sama beribadah kepada Allah. Bahkan sampai ada kata “mengencangkan ikat pinggang”. Ini mengisyaratkan bahwa Rasulullah bersungguh-sungguh dan lebih bersemangat lagi dalam beribadah. 2. Memperbanyak Sedekah Sedekah merupakah amalan sebagai ungkapan rasa syukur. Termasuk juga bersyukur telah dipertemukan dengan bulan puasa ramadhan ini. Bersyukur karena mampu menjalankan ibadah-ibadah selama bulan puasa Ramadhan. Tidak hanya sedekah wajib berupa zakat fitrah dan zakat mal, sedekah sunnah pun sangat dianjurkan untuk dilakukan. Sebagaimana hadis Rasulullah berikut ini, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Qs. As-Sajdah: 16). Sedekah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini bisa dengan berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim atau dhuafa. Dengan membagi makanan saat berbuka puasa, paket ramadhan berupa sembako atau pakaian dan sebagainya. 3. I’tikaf I’tikaf berarti berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT. Tidak keluar dari masjid kecuali ketika ada hajat lain yang sangat mengharuskan. I’tikaf sebenarnya dianjurkan dalam setiap waktu, namun Rasulullah lebih menganjurkan lagi pada sepuluh terakhir hari terkahir pada bulan Ramadhan. Sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA , Rasulullah SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadan. (HR. Muttafaq ‘alaih) 4. Membaca Al-Qur’an Meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam membaca Al-Qur’an juga merupakan anjuran ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Membaca Al-Qur’an dapat dilakukan di mana saja, asal tempatnya suci. Baik di masjid maupun di rumah masing-masing. Tentu juga setelah suci dari hadas. Terkadang juga bulan Ramadhan dijadikan momentum untuk memperbanyak khatam dalam membaca Al-Qur’an. Sehingga tradisi mengejar khataman ini menjadi kebahagiaan serta kepuasan tersendiri bagi yang biasanya sibuk dengan berbagai aktivitas pekerjaan lain. Demikian beberapa anjuran amalan yang bisa dilakukan selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Mari jadikan momentum Ramadhan kali ini dengan lebih giat lagi dalam beribadah kepada Allah SWT sehingga menjadi hamba yang bertaqwa di sisiNya. Aamiin.

Sabtu, 29 Agustus 2020

Peran Perempuan Milenial dalam Keluarga

 


Saat ini, problem gender di Indonesia masih menjadi pembahasan dan kajian yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Terbukti dengan adanya polemik Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga belum lama ini dipandang para aktivis gender seakan mendeskreditkan perempuan. Selain itu pula RUU ini dianggap terlalu mengatur ranah privat warga negara, terutama yang berhubungan dengan suami istri (Sumber: kompas.com).

Pasal-pasal yang dianggap ganjil lainnya seperti kewajiban suami-istri untuk saling mencintai atau kewajiban istri untuk mengurusi rumah tangga. Banyak orang yang menganggap RUU tersebut tidak akan menjamin keluarga Indonesia menjadi lebih sejahtera dan bahagia. Namun mungkin justru sebaliknya, malah membingungkan dan merepotkan. Inilah yang kemudian RUU tersebut mendapat banyak pertentangan di kalangan aktivis.

            Dari segi katanya, ada keistimewaan tersendiri pada kata perempuan ini. Mengapa tidak menggunakan kata wanita atau cewek atau bahasa selainnya? Kata ‘perempuan’ jika dipenggal akan menjadi tiga suku kata yakni per-empu-an. Kata ‘Per’ dan ‘an’ dalam tata bahasa Indonesia merupakan kata awalan dan akhiran. Yang mana ‘per’ dan ‘an’ menunjukkan proses pekerjaan. Seperti misal kata Penurunan Bendera artinya sedang menurunkan bendera atau Pengembalian Hak berarti proses mengembalikan sebuah hak, dan contoh-contoh lainnya.

            Sedangkan kata ‘empu’ sendiri zaman dulu sudah sangat lazim digunakan pada seseorang yang mampu menciptakan karya. Semisal Empu Gandring sebagai ahli dalam menciptakan keris. Empu Tantular dengan Kitab Sutasomanya yang kala itu sebagai kitab undang-undang Kerajaan Majapahit. Jadi, ‘perempuan’ dapat disimpulkan sebagai seseorang yang memang ahli dalam menciptakan.

            Sehingga kemudian mengapa kata perempuan ini diartikan sebagai ahli menciptakan atau membuat dikarenakan perempuan inilah yang memiliki peran sebagai pembentuk kepribadian manusia (baca; anak). Karena anak yang nantinya bakal menjadi generasi penerus orang tua, keluarga bahkan bangsa. Maka wajar jika ada maqolah mengatakan Al ummu madrasatul ulaa Lil Aulaad yang artinya ibu adalah madrasah atau sekolah pertama bagi anak-anaknya.

            Peran perempuan sebagai madrasah atau pendidik pertama dalam lingkungan keluarga ini tentunya harus diperhatikan. Jika dilihat dari proses panjang dari masa kehamilan hingga kelahiran seorang anak tentu sangat panjang dan perjuangannya tidak mudah. Setelah anak lahir dan beranjak menuju dewasa pun, orang tua (khususnya ibu) memiliki peran utama. Meskipun saat ini dengan kemajuan dan kemodernan ada yang bisa menggantikan perannya (misal asisten rumah tangga). Namun tetap saja peran tersebut tidak bisa tergantikan sepenuhnya.

Sungguh sangat berbeda jika anak diasuh oleh ibu kandungnya secara langsung dibandingkan dengan asisten . Dimulai dari memberikan ASI sebagai makanan utamanya, kasih sayang serta ikatan batin antara ibu dan anak hingga pendidikan semasa bayi. Tentu hasilnya berbeda. Terutama dari segi karakter si anak.

Ibu Milenial

Istilah Milenial biasanya dilekatkan pada mereka yang lahir dan berusia produktif pada zaman penuh kemajuan seperti saat ini. Termasuk yang sudah berperan menjadi ibu. Ditandai dengan meleknya mereka terhadap media dan sumber-sumber informasi yang semakin membanjiri manusia milenial kini. Selain menjadi kesempatan, tak terlepas pula hambatan dan tantangan yang menghadang.

Dari segi kesempatan, sangat mungkin jika para ibu milenial ini mudah mengakses hal-hal baru dari teknologi setiap hari atau bahkan setiap detik. Maraknya media sosial semakin memudahkan untuk mencari berbagai referensi keilmuan. Media sosial pun menjadi kunci utama bagi para ibu milenial ini. Seperti contoh jika ingin memasak sebuah menu masakan, tak perlu repot menanyakan pada orang lain. Cukup klik dan mencarinya di Youtube atau sumber internet lainnya.

Selain kesempatan, hambatan serta tantangan yang ada juga menjadi masalah serius. Tantangan dalam menghadapi era teknologi dan informasi yang semakin lama tak bisa dibendung ini bagi mereka yang kurang selektif dalam memilih dan memilah sumber informasi dan kurang dalam penguasaan media teknologi. Sebagai contoh, ibu milenial memiliki Smartphone dan anak akan dengan mudahnya melihat aktivitas keseharian si ibu dengan smartphone ini. Ini akan bahaya jika suatu waktu si anak ikut memegangnya.

Pengawasan ibu milenial ini selaku pendidik utama tadi sangat dibutuhkan untuk pengawasan aktivitas anaknya dengan smartphone. Pengawasan orang tua sangat dibutuhkan untuk memfilter hal-hal yang cenderung negatif bagi si anak. Jangan sampai si anak mengakses hal-hal yang kurang bermanfaat, bahkan malah membahayakan. Akan sangat lebih baik lagi jika anak diarahkan meggunakan smartphone untuk mengakses tentang pendidikan. Yang tentunya sesuai dengan jenjang usia dan pendidikan si anak.

Perempuan Milenial dan Ketahanan Keluarga

Kokohnya sebuah negara ditentukan oleh perempuannya. Jika perempuan sebagai pendidik generasi bangsa (baca; anak dalam keluarga) itu kokoh dan mampu, berarti suatu negara akan kokoh pula tiang penyangganya. Lantas di mana letak milenialisme seorang perempuan sebagai ibu dalam lingkungan keluarganya dapat memperkuat ketahanan keluarga?

Seperti fakta yang ada, bahwa peran seorang perempuan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tak terlepas perannya di dalam lingkungan keluarganya sendiri. Kuatnya peran ibu dalam keluarga ini akan membawa anak untuk memiliki karakter yang kuat pula. Sehingga diharapkan jika semua keluarga dalam satu negara dapat memaksimalkan peran mereka mendidik anak, maka diharapkan dapat membawa menuju ke arah kokohnya ketahanan dalam keluarganya sendiri. Bahkan bisa saja pada aspek ketahanan nasional.

Karena sejatinya ketahanan nasional bangsa berawal dari ketahanan di dalam keluarga. Sebaliknya, jika keluarga di suatu negara banyak terdapat kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) maka mustahil suatu bangsa akan maju. Bayangkan saja, bagaimana akan memperkokoh tiang sebuah bangsa, jika menciptakan tiang-tiang keluarga yang kokoh dan baik saja belum mampu.

Inilah kemudian yang menjadi kegelisahan bersama. Bahwa di satu sisi ibu milenial memiliki andil besar dalam keluarga, namun di sisi lain pula dapat membawa keluarga (khususnya anak) dalam jurang ‘malapetaka’ jika tidak tepat dalam memainkan peran sebagai seorang ibu rumah tangga.

Terlebih dalam situasi pandemi saat ini yang semakin mempersulit keadaan. Baik segi ekonomi maupun psikologi dalam keluarga. Ini yang menjadi tugas bersama negara dan semua elemen masyarakat untuk saling bahu membahu menyelesaikan permasalahan saat ini. Semoga segala kesulitan dan cobaan bangsa dapat kita lalui bersama serta senantiasa diberi kesehatan dan kelancaran olehNya. Aamiin.

 


Jumat, 28 Agustus 2020

Pahlawan ‘Rebahan’

 

 

            Memang, keadaan saat ini sungguh memprihatinkan. Tak hanya lingkup pribadi dan keluarga saja, namun sudah melingkupi seluruh elemen bangsa. Ya, seperti kita tahu pendemi ini terus saja menyerang kita. Sudah bukan saatnya lagi kita hanya memikirkan diri sendiri dan keluarga, namun lebih dari itu kita semua selaku warga negara hendaknya saling membantu berjuang melawan pandemi yang terus menerus mengguncang negeri. Tak main-main, semua menjadi terombang-ambing.

Selain kesehatan yang menjadi masalah serius, juga dalam berbagai sisi lain pun ikut terimbas. Termasuk ekonomi. Negara saat ini sangat membutuhkan partisipasi aktif seluruh warganya tanpa terkecuali. Seluruh warga negara hendaknya ikut mendukung pemerintah dan tenaga medis dalam menangani pandemi yang terus mewabah ini. Jika kita lihat data, sudah berapa banyak tenaga medis yang gugur ketika berjuang menangani para pasien yang terjangkit virus ini. Sudah berapa banyak pula pasien yang berjuang dan bertahan melawan virus ini. Sudah selayaknya mereka juga dikatakan sebagai pahlawan.

            Untuk menjadi seorang pahlawan dalam keadaan genting seperti saat ini tak harus dengan cara yang wah. Semua orang bisa menjadi pahlawan. Dengan apa saja yang kita mampu untuk membantu menangani penyebaran virus saat ini merupakan sebuah usaha yang perlu diapresiasi. Banyak hal yang dapat dilakukan. Yang mana sesuai kemampuan dan bidang yang dikuasai. Misal bagi yang memang mempunyai kelebihan dalam bidang kesehatan dan akses yang lebih luas, bisa membantu dalam bidang kesehatan atau menangani secara langsung. Bagi yang memiliki kelebihan harta atau lebih dari cukup, bisa membantu para warga di sekitar tempat tinggal yang kurang mampu dan terdampak akibat pandemi.

Bahkan yang jika benar-benar tidak memiliki keahlian di bidang kesehatan pun bisa berpartisipasi dengan menggalang dana dari para donatur atau para pengusaha sukses. Salah satu upaya menjadi pahlawan paling mudah dan murah saat ini ialah mengikuti peraturan pemerintah agar selalu di rumah dan tak usah dulu berkumpul dengan banyak orang. Hal ini sebagai upaya pencegahan penyebaran virus.

Mereka ini yang kemarin-kemarin sempat viral dengan sebutan ‘Kaum Rebahan’. Ya, cukup rebahan di rumah dan melakukan segala aktivitas yang bisa dilakukan dengan online sudah cukup membantu pemerintah. Itu saja. Mudah bukan?

            Memang, kita semua dihadapkan dengan masa-masa sulit seperti sekarang ini. Di mana ketika tidak dalam musibah pandemi saja masyarakat kita sudah sulit secara ekonomi. Apalagi ditambah lagi saat ini terjadi pandemi.

Namun kita semua harus yakin bisa dan selalu berdoa supaya pandemi ini segera berakhir. Dengan tetap bersabar serta ikhtiar dengan segala upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dan para ahli mengenai wabah yang sedang melanda negeri ini. Wallahu A’lam. #30HariLebihProduktif

Kamis, 27 Agustus 2020

Momen Pandemi Yang Merekatkan

 


Pada setiap musibah tentu ada hikmah. Pada setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Begitu pula dengan yang terjadi saat ini. Di saat-saat terjadi musibah yang menasional bahkan mendunia, juga banyak yang merasa mendapat kemudahan dan berkah tersendiri.

            Pandemi berupa Virus Korona ini memang membuat susah sebagian besar orang. Mulai dari pemerintah hingga masyarakat bawah. Semua merasa dibuat kewalahan. Para tenaga medis sudah berjuang mati-matian menyembuhkan pasien yang positif terpapar virus. Pemerintah dan segenap perangkatnya seperti TNI-Polri-Dokter pun turut membantu dengan segala daya upayanya. Tak luput pula, kita dengan apapun yang bisa dilakukan.

            Pandemi ini juga membuat sebagian orang perantauan memilih pulang ke kampung halamannya. Di satu sisi karena alasan ekonomi dan di sisi lain mungkin karena kangen keluarga. Di rumah, selain mengikuti aturan ahli kesehatan dari desa, juga ikut sedikit-sedikit membantu pekerjaan orang tua. Apapun itu, baik ibu maupun bapak. Atau bahkan tetap berusaha mengikuti perkuliahan atau pekerjaan secara Daring (Dalam Jaringan).

            Pulang ke rumah selain tujuan untuk membantu orang tua, juga ternyata bisa menjadi kesempatan curhat dan merembugkan berbagai hal. Baik cerita-cerita ketika di perantauan maupun rencana-rencana yang akan dilakukan selanjutnya. Di saat berkumpul dengan keluarga, bapak dan ibu saya menanyakan dan ngobrol ringan dengan kami anak-anaknya. Hal-hal yang diobrolkan pun seperti meliputi proses pendidikan, pekerjaan di perantauan, jodoh, dan lain sebagainya.

            Hal-hal seperti ini dirasa perlu dalam keluarga. Tanpa bicara dan kehangatan keluarga, terkadang bisa membuat keadaan kurang harmonis di antara anggota keluarga. Bahkan lebih dari itu anak-anak bisa saja menjadi liar tanpa arah di perantauan sana. Salah satu manfaat dari adanya kumpul keluarga ini adalah adanya saling keterbukaan antar anggota keluarga. Dengan keterbukaan ini diharapkan dapat memberikan gambaran-gambaran tujuan dan rencana yang akan dilakukan ke depannya lagi. Misal soal pendidikan, pekerjaan, karir, serta hal lain yang memang perlu dibicarakan dalam lingkup keluarga.

            Yang lebih penting dari itu semua adalah adanya rasa saling mengasihi antar anggota keluarga. Sehingga tercipta hubungan harmonis dan kedekatan yang baik. Ini lah yang saat ini banyak hilang di banyak keluarga di mana-mana, termasuk Indonesia apalagi di Amerika. Banyak contoh dari keluarga yang kurang harmonis dapat menyebabkan anggota keluarga (dalam hal ini adalah anak) tujuan hidup maupun dalam menjalani hidupnya kurang lancar dan dipenuhi banyak cobaan yang beresiko membuat si anak menjadi liar tadi. Meskipun tidak semua orang pula mengalami hal ini.

Ini biasa disebut dengan broken home atau keluarga buruk. Ada pula yang keluarganya broken home tetapi dirinya sukses. Ini saya juga tidak menjamin. Tentu kita semua tak berharap menjadi bagian dari korban broken home ini. Maka, kedekatan dan keharmonisan di dalam keluarga ini dirasa perlu adanya.

Pandemi Korona ini selain menjadi musibah, juga menjadi berkah dan kesempatan tersendiri bagi keluarga yang selama ini sulit berkumpul karena alasan kesibukan pekerjaan di perantauan. Sehingga momen pandemi ini dapat kita lihat dari sudut pandang positifnya juga. Sembari mencari solusi juga menata apa-apa yang selama ini belum tertata di dalam lingkup keluarga. 


Rabu, 26 Agustus 2020

Panduan Mencari Istri Shalihah Menurut Al-Qur’an dan Hadits

 


                Semua makhluk diciptakan Allah di muka bumi ini dengan berpasang-pasangan. Termasuk manusia, diciptakan dari jenis laki-laki dan perempuan. Soal jodoh tentu menjadi rahasia Allah, tak Ada seorang pun yang tahu. Hanya saja manusia bisa berusaha mencari dan berusaha mendapatkannya.

Seorang lelaki yang baik tentu mendambakan istri shalihah. Karena istri shalihah inilah yang akan mampu menciptakan keluarga sakinah, melahirkan, mengasuh dan mendidik keturunannya menjadi anak baik-baik, yang shalih dan shalihah. Allah Swt berfirman

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِي ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًاۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيّٗا كَبِيرٗا ٣٤

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisaa’ : 34)

Bagi seorang laki-laki beriman dalam mencari pendamping hidupnya tentu harus mempunyai pedoman. Saking pentingnya memperoleh istri shalihah ini, Nabi Saw sampai bersabda

“Tidaklah seorang mukmin memperoleh sesuatu yang lebih baik sesudah taqwa kepada Allah Swt selain dari  istri yang shalihah ; jika diperintah ia patuh, jika dipandang menyenangkan, jika diminta untuk menunaikan sesuatu ditunaikannya dengan baik, dan jika suami jauh darinya, dijagalah harta dan harga dirinya.”

Berikut ini adalah beberapa ciri istri shalihah menurut Al-Qur’an dan Hadits Nabi.

1.    Jika diperintah ia patuh

Posisi istri di dalam rumah tangga tentu bukan sebagai pembantu rumah tangga yang selalu siap untuk disuruh-suruh suami maupun untuk mengurus seluruh tugas rumah. Namun adakalanya ketika suami meminta istri dalam suatu hal yang dirasa mampu untuk dilakukannya, istri sebaiknya melakukan dan patuh terhadap perintah tersebut. Selama perintah suami tersebut tidak maksiat dan melanggar agama, maka wajiblah hukumnya seorang istri patuh. Sebagaimana dalam sebuah hadits

“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, lalu istrinya tidak mau menurutinya dan suaminya sepanjang malam marah kepadanya, niscaya dia dilaknat oleh malaikat hingga pagi hari.” (HR. Bukhari Muslim)

2.    Jika dipandang menyenangkan

Siapa sih suami yang ingin memandang istrinya yang acak-acakan dan kurang enak dipandang mata? Tentu semua suami normalnya ingin melihat penampilan istri yang baik dan enak dipandang. Namun dipandang sedap bukan berarti dengan selalu berpenampilan mewah dan merias wajah dengan wah. Penampilan dari sikap yang  baik, tutur kata yang sopan dan bibir yang sering menampakkan senyum pun sudah cukup dan dianggap menyejukkan mata bagi suami. Adakalanya juga seorang wanita merias diri dan berpenampilan menarik di hadapan suaminya. Selama sesuai kondisi dan situasi.

3.    Jika diminta untuk menunaikan sesuatu ditunaikannya dengan baik

Selama perintah dari suaminya baik dan tidak melanggar agama, si istri wajib patuh dan menunaikannya. Termasuk kewajiban melayani hasrat sebagai seorang lelaki. 

4.    Jika suami jauh darinya, dijagalah harta dan harga dirinya.

Suatu ketika suami pergi meninggalkan rumah dan meninggalkan harta bendanya, ia tidak lantas berfoya-foya dan bebas menggunakan harta. Selain itu pula ia mampu menjaga dirinya di hadapan laki-laki lain yang bukan mahramnya. Jangan sampai ketika suami pergi keluar kota  malah istri berkeluyuran kemana-mana dan tidak menjaga harta justru malah menghabiskannya.

“Apabila seorang istri telah mendirikan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, selalu menjaga diri dan menaati suaminya, niscaya dia masuk surga Tuhannya.” (HR. Al Bazaar)

                        Demikian beberapa poin ciri-ciri istri shalihah menurut Al-Qur’an dan hadits. Semoga kita semua senantiasa mendapat kebaikan-kebaikan di dunia maupun di akhirat kelak, termasuk bagi para pembaca jomblowan-jomblowati yang belum menemukan jodoh agar segera dipertemukan dengan jodohnya yang shalih-shalihah dan dapat menuju ke jenjang ke pernikahan hingga membina kehidupan rumah tangga yang sesuai dengan yang diperintahkan agama. Wallahu A’lam. 

Rabu, 19 Agustus 2020

Balasan Haji Mabrur Pada Masa Pandemi

  

“Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya selain syurga”

(HR. Bukhari No. 1773 dan Muslim No. 1349)

Ada banyak alasan orang Islam pergi ke Tanah Haramain untuk melaksanakan Ibadah Haji. Baik alasan ukhrawi maupun duniawi. Alasan ukhrawi tentu yang didasarkan pada kewajiban agama, itupun bagi yang sudah mampu melaksanakannya. Alasan ukhrawi yaitu sesuai pada banyak keterangan dalam hadits dan Al-Qur’an. Sedangkan alasan duniawi mungkin saja untuk menambah titel di depan nama atau mendapat status sosial yang lebih tinggi di lingkungan masyarakatnya. Wallahu A’lam. Hanya Tuhan lah yang lebih mengetahui hati manusia.

            Ibadah haji yang diwajibkan bagi orang Islam dan dilaksanakan setahun sekali merupakan sebuah keistimewaan tersendiri. Pasalnya tidak mudah dan tidak murah untuk bisa mencapai tanah suci dan kemudian melaksanakan perintah agama rukun terakhir ini. Biaya yang harus dikeluarkan pun tak sedikit. Juga kondisi fisik pun harus fit dan siap karena ibadah haji adalah ibadah yang lebih banyak menggunakan tenaga ekstra. Rukun ibadah yang berupa fisik seperti sa’i, melempar jumroh, wukuf, mabit, tahallul dan lainnya. Sebagian besar rukun haji adalah menggunakan fisik. Inilah yang memberatkan bagi para orang tua yang berusia lanjut.

            Haji merupakan sebuah kewajiban yang tentunya tidak memaksakan semua umat Islam. Namun dari segi kemampuan juga dipertimbangkan. Inilah yang kemudian dalam ketentuan haji adalah bagi orang yang mampu. Baik dari fisik maupun biaya. Namun ada juga yang mampu keduanya, namun tidak ada niat untuk melaksanakannya. Banyak alasan memang. Mungkin karena sayang terhadap harta bendanya atau hal lainnya. Inilah yang dimaksud dari ‘panggilan ilahi’. Karena panggilan ilahi sendiri berhubungan dengan hati dan hidayah kepada seseorang. Bisa juga dikarenakan hal lain yang lebih rumit seperti kesibukan hidup atau pekerjaan.

            Kebijakan Ibadah Haji Karena Pandemi

            Kegalauan dan kegelisahan mungkin menyelimuti para calon jamaah haji yang akan berangkat di bulan Dzulhijjah tahun ini. Sebagaimana yang telah dimaklumi bersama bahwa dikarenakan pandemi yang melanda dunia, keputusan dari Kementerian Agama di berbagai  negara melarang adanya haji tahun ini. Semua itu demi memutus rantai penularan virus. Terlebih di Haramain adalah tempat bertemunya para jamaah haji dari berbagai belahan dunia. Berjuta-juta orang datang berjubel dan berkerumun. Sehingga dari segi kesehatan potensi penularannya pun lebih tinggi.

            Lalu bagaimana dengan nasib 221 ribu lebih calon jamaah haji Indonesia yang gagal berangkat tahun ini? Karena pemerintah Indonesia secara resmi telah mengumumkan kebijakan ini pada Selasa, 2 Juni 2020 lalu. Bahkan tak hanya Indonesia, calon jamaah haji dari berbagai negara pun mungkin demikian. Apakah calon jamaah haji yang gagal berangkat itu tetap memperoleh titel haji mabrur?

            Nilai dalam Ibadah Haji

            Haji sendiri merupakan ibadah yang sarat akan simbol-simbol dalam ritualnya. Filosofi atau makna dalam berhaji sendiri tidak jauh dengan apa yang menjadi kisah Nabi Ibrahim alaihis salaam. Praktek ibadah haji merupakan manifestasi kehidupan Nabi Ibrahim bersama istrinya Siti Hajar serta putranya Nabi Ismail di Makkah. Seperti misalnya Sa’i merupakan lari-lari kecil Siti Hajar untuk menemukan air dari Bukit Safa dan Marwah. Kemudian melempar Jumroh adalah peristiwa ketika Iblis menggoda Nabi Ibrahim tatkala akan menyembelih putranya sesuai dengan perintah Allah. Iblis menggoda supaya perintah dari Allah tersebut tidak dilaksanakannya. Sehingga sesuai perintah Allah, Nabi Ibrahim melempari Iblis tersebut dengan batu.

            Dalam sebuah hadits Hasan, Syaikh Muhammad Nashiruddin Albani menjelaskan bahwa ciri haji mabrur sendiri ada tiga yang semuanya mengandung pesan sosial bagi sesama. Suatu ketika Nabi Muhammad SAW ditanya tentang kebaikan (Albirru) dalam haji. Beliau menjawab, ith’amut tha’aam (memberi makan), ifsya’us salaam (menebarkan kedamaian) dan thayyibul kalaam (bagusnya perkataan). Pada intinya manusia harus berbuat baik dan bermanfaat bagi sesama. Inilah yang kemudian sebagai para calon jamaah haji yang gagal berangkat tahun ini dapat mengambil makna dalam ibadah haji.

            Sehingga apabila nila-nilai kebaikan (albirru) dalam haji tersebut dapat diemplementasikan dengan memberi makan (ith’amut tha’aam) atau bisa juga pada sektor kesehatan dengan memberikan APD bagi relawan yang menangani pasien di rumah sakit. Sehingga kemudian akan muncul Ifsya’us salaam (menebarkan kedamaian atau keselamatan). Terakhir, thayyibul kalaam (bagusnya perkataan) berarti juga dengan tidak menyebar informasi bohong atau hoax di media sosial.

Kisah Haji Mabrur Karena Berderma

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa pada intinya ada seseorang yang gagal berangkat haji karena ongkosnya diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Namun karena yang dilakukan itu, ia justru menjadi haji mabrur. Bahkan dikarenakan doa orang tersebut, jamaah haji yang lain ikut menjadi haji mabrur pula. Orang tersebut bernama Muwaffaq yang tinggal di Damaskus. Ia hanyalah seorang pedagang sepatu yang mengumpulkan biaya haji selama kurang lebih 40 tahun. Kisah ini diceritakan langsung oleh Muwaffaq kepada Abdullah bin Mubarrak (118-181 H/726-797 M), seorang ulama Marwaz, Khurasan yang mendambakan dua hal dalam ibadah yakni haji dan jihad.

            Di masa pandemi seperti ini, harapan menjadi mabrur bagi para calon jamaah haji bisa saja terwujud jika kita melihat kisah Muwaffaq di atas. Mendapat predikat haji mabrur meski tak jadi berangkat ke tanah suci lantaran lebih mementingkan orang lain yang kelaparan dan kesusahan. Di masa pandemi seperti ini tentu banyak juga orang-orang yang merasa kesusahan dan kesulitan ekonomi. Terutama mereka yang berpenghasilan pas-pasan dan bergantung pada gaji harian. Dampak pandemi ini bahkan dirasakan kalangan menengah ke atas. Apalagi kaum bawah yang ketika hari-hari biasa saja penghasilan mereka sangat minim dan kekurangan.

            Maka dari itu, bagi para calon jamaah haji hendaknya bisa mengambil hikmah akan adanya pandemi seperti ini. Meski belum bisa berangkat tahun ini, alangkah lebih baiknya harta yang ada digunakan untuk menolong sesama di sekitar lingkungan tempat tinggal. Terutama bagi mereka  yang terdampak dan semakin terhimpit masalah ekonomi. Karena jika dilihat dari segi katanya, Mabrur adalah isim maf’ul (objek) dari akar kata albirru yang berarti ‘kebaikan’ sehingga alhajjul mabruru dapat diartikan dengan ‘haji yang diberi kebaikan’. Semoga dengan mengambil semangat kemabruran ini, kita semua mendapat pahala mabrur sebelum atau tanpa haji. Wallahu A’lam.

Selasa, 18 Agustus 2020

Anggaran Dana Desa Sebagai Solusi ; Jangan Sampai Dimanipulasi (lagi)

 


“Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”

“Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan”

 “Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak” 

(Bunyi UUD 1945 Pasal 34 ayat 1-3)

 

Kalimat yang bunyinya sangat jelas di atas merupakan contoh undang-undang negara yang sengaja dibuat para pemangku kebijakan demi kebaikan dan kesejahteraan rakyatnya. Undang-undang dibuat bertujuan untuk mengatur jalannya pemerintahan agar berjalan dengan baik dan pada akhirnya untuk kesejahteraan rakyat suatu negara. Namun, siapa sangka jika undang-undang terkadang masih sebatas menjadi de jure saja, masih sangat jauh dari de facto. Undang-undang disoroti masih sebatas sebagai kalimat-kalimat yang memenuhi kitab suci negara.

Anggaran Dana Desa (ADD) Sebagai Suatu Solusi

Berbagai program yang telah dicanangkan oleh pemerintah untuk menangani banyaknya persoalan di negeri ini sebenarnya sudah menunjukkan keseriusan terhadap rakyat. Berbagai upaya -terutama mengenai kesejahteraan di daerah pelosok pedesaan- terus ditingkatkan oleh pemerintah pusat. Banyak program-program yang berorientasi pada sektor menengah ke bawah. Hal ini tentu akan sangat berguna dan diharapkan dapat meningkatkan taraf perekonomian rakyat.

Anggaran Dana Desa (ADD) ini merupakan program yang semenjak pencalonan presiden tahun 2014 lalu sudah sering digaungkan. Seperti untuk menarik simpati rakyat di pedesaan. Dengan salah satu alasannya anggaran daerah atau kabupaten masih sulit sampai ke tingkat desa atau jika sampai pun, ‘tidak utuh’. Kemudian muncul lah program semacam ini. Sebuah program yang mana dana dari pusat langsung disalurkan ke tingkat desa dengan pengelolaan dan pengawasannya langsung diserahkan kepada aparatur pemerintah desa maupun yang ditunjuk masyarakat. Sangat menjajnjikan dan bermanfaat memang, jika semuanya dapat berjalan dinamis.

Persoalan diambang Ketidakpastian

Namun, persoalan yang dari dulu hingga kini belum terselesaikan dan dirasa masih menjadi ‘PR’ serius ialah dari pengelola yang diberi amanah untuk menjalankan program-program tersebut. Masih saja banyak ‘tangan-tangan jahil’ yang tega menyelewengkan dana milik rakyat itu. Menurut catatan dari ICW (Indonesia Corruption Watch), kasus korupsi di sektor anggaran desa menjadi kasus terbanyak yang ditindak oleh aparat penegak hukum sepanjang tahun 2019 lalu bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya (www.kompas.com, 18 Februari 2020).

Data ICW menyebutkan terdapat 46 kasus korupsi di sektor anggaran desa dari 271 kasus korupsi di sektor anggaran desa. Bahkan tercatat merugikan anggaran negara hingga Rp.32,3 miliar. Miris memang. Hal semacam ini ibarat kran yang terus mengalir namun airnya tak sampai kepada yang memang benar-benar membutuhkan air. Hingga pada akhirnya mati kehausan.

Seperti yang dirasakan oleh penulis saat ini. Tinggal di sebuah daerah yang bisa dikatakan ‘tertinggal’ jika dibandingkan dengan daerah lain. Sulitnya akses transportasi dan komunikasi menjadi masalah penting untuk daerah pelosok transmigrasi yang penulis tinggali ini. Keterbatasan fasilitas dan kesulitan akses dalam bidang pendidikan serta kesehatan menjadi kegelisahan tersendiri bagi penulis. Dengan adanya program dana desa itu diharapkan dapat digunakan sebaik-baiknya oleh pemerintah desa untuk kesejahteraan seluruh warganya, termasuk untuk memperbaiki fasilitas dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Tujuan adanya anggaran tersebut juga untuk perbaikan sarana prasarana yang sudah ada, mengembangkan usaha, mendirikan lapangan kerja, atau dalam hal lain yang sekiranya dapat memajukan pembangunan di desa.

            Perbaiki Sistem Yang Sudah Ada

Setelah adanya persoalan semacam ini, hendaknya menjadi pembelajaran penting dan serius bagi pemerintah pusat dalam pencairan dana di tahun-tahun mendatang. Lebih mengawal dan mencermati lagi penyaluran dana desa ini agar benar-benar sampai dengan ‘selamat’ di kas desa hingga ke individu masyarakatnya merasakan program ini. Bahkan bukan hanya itu, pemerintah juga perlu mendorong keterbukaan dan akuntabilitas dalam pengelolaannya. Pemanfaatan teknologi informasi harus dimaksimalkan sebaik mungkin guna pelaporan hal-hal penting kepada pusat.

Hal ini karena untuk mengantisipasi dana yang seharusnya menjadi hak milik desa tidak dimanipulasi lagi oleh oknum-oknum yang memang seharusnya bertanggung jawab itu. Sehingga diharapkan dana desa yang seharusnya memang diperuntukkan bagi warga desa ini dapat tepat sasaran dan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat di seluruh desa. Hingga pada akhirnya dapat mempercepat laju pembangunan di pedesaan. Semoga saja dana desa ini memang dapat disebut ‘Dana Desa’ sebagai solusi dan jangan sampai dimanipulasi oleh para tikus-tikus berdasi. Ya, semoga saja. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan. Wallahu A’lam.

 

Minggu, 16 Agustus 2020

Keterbatasan Ruang Virtual ; Masalah Fatal?

 

Di era revolusi industri 4.0 saat ini, hampir semua kehidupan manusia dipengaruhi oleh teknologi informasi dan ‘hidup’ dalam ruang-ruang virtual. Terutama masyarakat perkotaan menengah ke atas dengan segudang aktivitas yang melingkupinya. Bahkan juga masyarakat pedesaan semi perkotaan yang mulai berkembang. Namun, tidak bisa dipungkiri pula masih banyak daerah di pelosok bumi pertiwi ini yang belum menikmati dan merasakan teknologi informasi dan ruang virtual.

            Masih banyak persoalan di daerah pelosok pedesaan, khususnya di luar Pulau Jawa. Seperti yang penulis  rasakan, di daerah transmigrasi untuk sekedar pengetahuan atau bahkan akses teknologi dan informasi masih sangatlah minim. Utamanya bagi masyarakat awam yang pendidikannya hanya sampai tingkat dasar. Tentu mereka belum melek digital, bahkan sudah sangat sulit jika harus belajar dari usia menjelang senja. Sedikit berbeda dengan anak-anak mereka yang bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi ke luar daerah, terutama ke Pulau Jawa. Peluang mendapat akses teknologi dan informasi tentu lebih luas jika dibandingkan di desa dengan keterbatasan sinyal internet.

            Di daerah pelosok pedesaan, khususnya di daerah transmigrasi penulis, masalah jaringan hingga saat ini menjadi suatu kendala penting. Baik jaringan telepon maupun internet. Belum lagi akses transportasi serta finansial yang kebanyakan masih bergantung dengan bidang pertanian. Belum banyak yang beralih ke industri kreatif rumahan maupun bisnis perdagangan layaknya daerah perkotaan. Bisa jadi masalah utamanya adalah akses teknologi, transportasi dan informasi atau komunikasi.

            Ruang Virtual sebagai Ekosistem Baru Masyarakat

Ruang virtual saat ini bagaikan sudah menjadi tempat hidup baru bagi mayoritas manusia kini, khususnya masyarakat melek teknologi menengah ke atas di perkotaan. Tak terkecuali pula masyarakat pedesaan di beberapa daerah yang sudah berkembang dan mulai melek teknologi informasi. Bukan di daerah yang masih bisa dikatakan tertinggal dari itu semua.

            Televisi yang dulu menjadi idola banyak orang, kini seakan sudah mulai ditinggalkan karena media sosial dan media virtual sudah dalam genggaman. Mencari informasi apapun sudah bisa dilakukan melalui sebuah perangkat kecil yang biasa disebut smartphone atau telepon pintar. Bahkan saking pintarnya, telepon bisa membodohkan manusia penggunanya. Pada intinya, gawai menjadi sarana penting dan praktis bagi manusia zaman ini. Namun bukan berarti seluruh masyarakat Indonesia sudah merasakan kemerdekaan teknologi dan informasi dengan berbagai warna-warni di dalamnya. Masih banyak dari mereka yang masih terjajah dan buta akan media informasi. Gerakan literasi belum sampai kepada mereka.

            Bukan perkara mudah memang. Membeli ruang virtual pun tidak murah. Perangkat yang dibutuhkan pun lumayan mahal bagi masyarakat menengah ke bawah.  Belum lagi soal transportasi yang masih membutuhkan sentuhan para pemangku kebijakan ataupun masalah keamanan dari para penjahat yang sudah hilang akal sehat. Masalah inilah yang kiranya dapat menghambat laju perkembangan daerah pelosok pedesaan, utamanya daerah luar Pulau Jawa. Dengan keterbatasan jaringan telepon atau internet, akses transportasi yang sulit serta keamanan yang senantiasa mengincar tentu memperlambat kemajuan suatu daerah.

            Imbas Keterbatasan Virtual

Dengan banyaknya keterbatasan tersebut, sehingga membuat banyak masalah yang ada. Mulai perkembangan pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, budaya hingga politik pun menjadi terdampak. Seperti contoh pada bidang pendidikan, akses jalan yang sulit tentu akan membahayakan anak-anak berangkat ke sekolah. Jalan rusak, becek, berlumpur, menjadi pemandangan biasa tatkala hujan datang.

            Belum lagi masalah saat ini bertambah dengan adanya pandemi yang merepotkan seluruh negeri. Jika di daerah perkotaan masih teratasi dengan akses kesehatan yang bisa dijangkau dengan mudah, informasi mengenai kesehatan dari pusat atau daerah provinsi bisa dengan cepat didapatkan, hingga gerakan-gerakan sosial yang lebih cepat datang ke rumah-rumah. Belum lagi dengan berbagai upaya dan strategi jitu para ahli yang menyasar ke daerah perkotaan lebih mudah untuk diterima dan dipraktekkan. Termasuk ketika halal bi halal virtual saat lebaran. Semua bisa merasakan pertemuan meski tak berjabat tangan dan berpelukan. Itulah rekayasa dunia virtual.

            Namun itu semua tidak berlaku dan masih sulit dirasakan masyarakat pelosok pedesaan. Jaringan internet yang sulit, listrik yang sering padam, hingga mahalnya harga kuota internet membuat pertemuan virtual seperti yang dilakukan masyarakat perkotaan sangat sulit dilakukan. Kendala tiba-tiba listrik padam atau kehilangan jaringan, sangat biasa bagi warga pelosok pedesaan. Jalinan silaturrahim saat Hari Raya Idul Fitri yang ingin dibangun dalam ruang virtual pun menjadi batal. Kehangatan bersama orang banyak dalam dunia virtual pun tak jadi sebuah penawar rindu. Sehingga, dengan sulitnya banyak akses di desa pelosok ini apakah menjadi masalah fatal? Tentu saja. Jika pemerintah ingin memeratakan pembangunan serta lebih cepat dalam menyelesaikan masalah-masalah klasik para transmigran dan pelosok pedesaan. Wallahu A’lamu.

 

Penulis adalah salah satu dari dari sekian banyak orang desa yang bersyukur bisa mendapat kesempatan mencicipi rasanya pendidikan kuliah dan nyantri di Kota Yogyakarta yang kata banyak orang Istimewa. J

 
Copyright © 2013 PUJAKESUMA BLOGGER
Design by FBTemplates | BTT