Selasa, 19 April 2022
Jangan Lewatkan Beberapa Amalan Ini pada Sepuluh hari Terakhir Ramadhan !
Sabtu, 29 Agustus 2020
Peran Perempuan Milenial dalam Keluarga
Saat ini, problem gender di Indonesia masih
menjadi pembahasan dan kajian yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Terbukti
dengan adanya polemik Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga belum lama ini
dipandang para aktivis gender seakan mendeskreditkan perempuan. Selain itu pula
RUU ini dianggap terlalu mengatur ranah privat warga negara, terutama yang berhubungan
dengan suami istri (Sumber: kompas.com).
Pasal-pasal yang dianggap ganjil lainnya
seperti kewajiban suami-istri untuk saling mencintai atau kewajiban istri untuk
mengurusi rumah tangga. Banyak orang yang menganggap RUU tersebut tidak akan
menjamin keluarga Indonesia menjadi lebih sejahtera dan bahagia. Namun mungkin
justru sebaliknya, malah membingungkan dan merepotkan. Inilah yang kemudian RUU
tersebut mendapat banyak pertentangan di kalangan aktivis.
Dari segi katanya, ada keistimewaan tersendiri pada kata perempuan ini. Mengapa tidak
menggunakan kata wanita atau cewek atau bahasa selainnya? Kata ‘perempuan’ jika
dipenggal akan menjadi tiga suku kata yakni per-empu-an. Kata ‘Per’ dan ‘an’
dalam tata bahasa Indonesia merupakan kata awalan dan akhiran. Yang mana ‘per’ dan
‘an’ menunjukkan proses pekerjaan. Seperti misal kata Penurunan Bendera artinya
sedang menurunkan bendera atau Pengembalian Hak berarti proses mengembalikan
sebuah hak, dan contoh-contoh lainnya.
Sedangkan kata ‘empu’ sendiri zaman
dulu sudah sangat lazim digunakan pada seseorang yang mampu menciptakan karya.
Semisal Empu Gandring sebagai ahli dalam menciptakan keris. Empu Tantular
dengan Kitab Sutasomanya yang kala itu sebagai kitab undang-undang Kerajaan
Majapahit. Jadi, ‘perempuan’ dapat disimpulkan sebagai seseorang yang memang
ahli dalam menciptakan.
Sehingga kemudian mengapa kata
perempuan ini diartikan sebagai ahli menciptakan atau membuat dikarenakan
perempuan inilah yang memiliki peran sebagai pembentuk kepribadian manusia
(baca; anak). Karena anak yang nantinya bakal menjadi generasi penerus orang
tua, keluarga bahkan bangsa. Maka wajar jika ada maqolah mengatakan Al ummu
madrasatul ulaa Lil Aulaad yang artinya ibu adalah madrasah atau sekolah
pertama bagi anak-anaknya.
Peran perempuan sebagai madrasah
atau pendidik pertama dalam lingkungan keluarga ini tentunya harus
diperhatikan. Jika dilihat dari proses panjang dari masa kehamilan hingga
kelahiran seorang anak tentu sangat panjang dan perjuangannya tidak mudah.
Setelah anak lahir dan beranjak menuju dewasa pun, orang tua (khususnya ibu)
memiliki peran utama. Meskipun saat ini dengan kemajuan dan kemodernan ada yang
bisa menggantikan perannya (misal asisten rumah tangga). Namun tetap saja peran
tersebut tidak bisa tergantikan sepenuhnya.
Sungguh sangat berbeda jika anak diasuh oleh
ibu kandungnya secara langsung dibandingkan dengan asisten . Dimulai dari
memberikan ASI sebagai makanan utamanya, kasih sayang serta ikatan batin antara
ibu dan anak hingga pendidikan semasa bayi. Tentu hasilnya berbeda. Terutama
dari segi karakter si anak.
Ibu Milenial
Istilah Milenial biasanya dilekatkan pada
mereka yang lahir dan berusia produktif pada zaman
penuh kemajuan seperti saat ini. Termasuk yang sudah berperan menjadi ibu. Ditandai dengan
meleknya mereka terhadap media dan sumber-sumber informasi yang semakin
membanjiri manusia milenial kini. Selain menjadi kesempatan, tak terlepas pula
hambatan dan tantangan yang menghadang.
Dari segi kesempatan, sangat mungkin jika para
ibu milenial ini mudah mengakses hal-hal baru dari teknologi setiap hari atau
bahkan setiap detik. Maraknya media sosial semakin memudahkan untuk mencari
berbagai referensi keilmuan. Media sosial pun menjadi kunci utama bagi para ibu
milenial ini. Seperti contoh jika ingin memasak sebuah menu masakan, tak perlu
repot menanyakan pada orang lain. Cukup klik dan mencarinya di Youtube atau
sumber internet lainnya.
Selain kesempatan, hambatan serta tantangan
yang ada juga menjadi masalah serius. Tantangan dalam menghadapi era teknologi
dan informasi yang semakin lama tak bisa dibendung ini bagi mereka yang kurang
selektif dalam memilih dan memilah sumber informasi dan kurang dalam penguasaan
media teknologi. Sebagai contoh, ibu milenial memiliki Smartphone dan
anak akan dengan mudahnya melihat aktivitas keseharian si ibu dengan smartphone
ini. Ini akan bahaya jika suatu waktu si anak ikut memegangnya.
Pengawasan ibu milenial ini selaku pendidik
utama tadi sangat dibutuhkan untuk pengawasan aktivitas anaknya dengan smartphone.
Pengawasan orang tua sangat dibutuhkan untuk memfilter hal-hal yang
cenderung negatif bagi si anak. Jangan sampai si anak mengakses hal-hal yang
kurang bermanfaat, bahkan malah membahayakan. Akan sangat lebih baik lagi jika
anak diarahkan meggunakan smartphone untuk mengakses tentang pendidikan.
Yang tentunya sesuai dengan jenjang usia dan pendidikan si anak.
Perempuan Milenial dan Ketahanan
Keluarga
Kokohnya sebuah negara
ditentukan oleh perempuannya. Jika perempuan sebagai pendidik generasi bangsa
(baca; anak dalam keluarga) itu kokoh dan mampu, berarti suatu negara akan
kokoh pula tiang penyangganya. Lantas di mana letak milenialisme seorang perempuan sebagai ibu dalam lingkungan keluarganya dapat memperkuat
ketahanan keluarga?
Seperti fakta yang ada,
bahwa peran seorang perempuan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tak terlepas
perannya di dalam lingkungan keluarganya sendiri. Kuatnya peran ibu dalam
keluarga ini akan membawa anak
untuk memiliki karakter yang kuat pula. Sehingga diharapkan
jika semua keluarga dalam satu negara dapat memaksimalkan peran mereka mendidik
anak, maka diharapkan dapat membawa
menuju ke arah kokohnya ketahanan dalam keluarganya sendiri. Bahkan bisa
saja pada aspek ketahanan nasional.
Karena sejatinya ketahanan nasional bangsa berawal
dari ketahanan di dalam keluarga. Sebaliknya, jika keluarga
di suatu negara banyak terdapat kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) maka mustahil suatu bangsa akan maju. Bayangkan saja, bagaimana akan
memperkokoh tiang sebuah bangsa, jika menciptakan tiang-tiang keluarga yang kokoh
dan baik saja belum mampu.
Inilah kemudian yang menjadi kegelisahan
bersama. Bahwa di satu sisi ibu milenial memiliki andil besar dalam keluarga,
namun di sisi lain pula dapat membawa keluarga (khususnya anak) dalam jurang ‘malapetaka’
jika tidak tepat dalam memainkan peran sebagai seorang ibu rumah tangga.
Terlebih dalam situasi
pandemi saat ini yang semakin mempersulit keadaan. Baik segi ekonomi maupun
psikologi dalam keluarga. Ini yang menjadi tugas bersama negara dan semua elemen
masyarakat untuk saling bahu membahu menyelesaikan permasalahan saat ini.
Semoga segala
kesulitan dan cobaan bangsa dapat kita lalui
bersama serta senantiasa diberi kesehatan dan kelancaran olehNya. Aamiin.
Jumat, 28 Agustus 2020
Pahlawan ‘Rebahan’
Memang, keadaan saat ini
sungguh memprihatinkan. Tak hanya lingkup pribadi dan keluarga saja, namun
sudah melingkupi seluruh elemen bangsa. Ya, seperti kita tahu pendemi ini terus
saja menyerang kita. Sudah bukan saatnya lagi kita hanya memikirkan diri
sendiri dan keluarga, namun lebih dari itu kita semua selaku warga negara
hendaknya saling membantu berjuang melawan pandemi yang terus menerus
mengguncang negeri. Tak main-main, semua menjadi terombang-ambing.
Selain kesehatan yang menjadi masalah serius, juga dalam berbagai sisi lain
pun ikut terimbas. Termasuk ekonomi. Negara saat ini sangat membutuhkan partisipasi aktif seluruh warganya tanpa
terkecuali. Seluruh warga negara hendaknya ikut mendukung pemerintah dan tenaga
medis dalam menangani pandemi yang terus mewabah ini. Jika kita lihat data,
sudah berapa banyak tenaga medis yang gugur ketika berjuang menangani para
pasien yang terjangkit virus ini. Sudah berapa banyak pula pasien yang berjuang
dan bertahan melawan virus ini. Sudah selayaknya mereka juga dikatakan sebagai
pahlawan.
Untuk menjadi seorang
pahlawan dalam keadaan genting seperti saat ini tak harus dengan cara yang wah. Semua orang bisa menjadi pahlawan. Dengan apa saja yang
kita mampu untuk membantu menangani penyebaran virus saat ini merupakan sebuah
usaha yang perlu diapresiasi. Banyak hal yang dapat dilakukan. Yang mana sesuai kemampuan dan bidang yang dikuasai. Misal bagi yang
memang mempunyai kelebihan dalam bidang kesehatan dan akses yang lebih luas,
bisa membantu dalam bidang kesehatan atau menangani secara langsung. Bagi yang
memiliki kelebihan harta atau lebih dari cukup, bisa membantu para warga di
sekitar tempat tinggal yang kurang mampu dan terdampak akibat pandemi.
Bahkan yang jika benar-benar tidak memiliki keahlian di bidang kesehatan
pun bisa berpartisipasi dengan menggalang dana dari para donatur atau para
pengusaha sukses. Salah satu upaya menjadi pahlawan paling mudah dan murah saat
ini ialah mengikuti peraturan pemerintah agar selalu di rumah dan tak usah dulu
berkumpul dengan banyak orang. Hal ini sebagai upaya pencegahan penyebaran
virus.
Mereka ini yang kemarin-kemarin sempat viral dengan sebutan ‘Kaum Rebahan’.
Ya, cukup rebahan di rumah dan melakukan segala aktivitas yang bisa dilakukan
dengan online sudah cukup membantu pemerintah. Itu saja. Mudah bukan?
Memang, kita semua
dihadapkan dengan masa-masa sulit seperti sekarang ini. Di mana ketika tidak
dalam musibah pandemi saja masyarakat kita sudah sulit secara ekonomi. Apalagi
ditambah lagi saat ini terjadi pandemi.
Namun kita semua harus yakin bisa dan selalu berdoa supaya pandemi ini segera berakhir. Dengan tetap bersabar serta ikhtiar dengan segala upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dan para ahli mengenai wabah yang sedang melanda negeri ini. Wallahu A’lam. #30HariLebihProduktif
Kamis, 27 Agustus 2020
Momen Pandemi Yang Merekatkan
Pada setiap
musibah tentu ada hikmah. Pada setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Begitu
pula dengan yang terjadi saat ini. Di saat-saat terjadi musibah yang me ‘nasional’ bahkan mendunia, juga banyak yang merasa
mendapat kemudahan dan berkah tersendiri.
Pandemi berupa Virus Korona ini
memang membuat susah sebagian besar orang. Mulai dari pemerintah hingga
masyarakat bawah. Semua merasa dibuat kewalahan. Para tenaga medis sudah
berjuang mati-matian menyembuhkan pasien yang positif terpapar virus.
Pemerintah dan segenap perangkatnya seperti TNI-Polri-Dokter pun turut membantu dengan segala daya upayanya. Tak luput pula, kita dengan apapun yang bisa dilakukan.
Pandemi ini juga membuat sebagian
orang perantauan memilih pulang ke kampung halamannya. Di satu sisi karena
alasan ekonomi dan di sisi lain mungkin karena kangen
keluarga. Di rumah, selain mengikuti aturan ahli kesehatan dari desa, juga ikut
sedikit-sedikit membantu pekerjaan orang tua. Apapun itu, baik ibu maupun
bapak. Atau bahkan tetap berusaha mengikuti
perkuliahan atau pekerjaan secara Daring (Dalam
Jaringan).
Pulang ke rumah selain tujuan untuk
membantu orang tua, juga ternyata bisa menjadi kesempatan curhat dan merembugkan
berbagai hal. Baik cerita-cerita ketika di perantauan maupun rencana-rencana yang
akan dilakukan selanjutnya. Di saat berkumpul dengan keluarga, bapak dan ibu
saya menanyakan dan ngobrol ringan dengan kami anak-anaknya. Hal-hal
yang diobrolkan pun seperti meliputi proses pendidikan, pekerjaan di perantauan,
jodoh, dan lain sebagainya.
Hal-hal seperti ini dirasa perlu
dalam keluarga. Tanpa bicara dan kehangatan keluarga, terkadang bisa membuat
keadaan kurang harmonis di antara anggota keluarga. Bahkan lebih dari itu
anak-anak bisa saja menjadi liar tanpa arah di perantauan sana. Salah satu manfaat dari adanya
kumpul keluarga ini adalah adanya saling keterbukaan antar anggota keluarga.
Dengan keterbukaan ini diharapkan dapat memberikan gambaran-gambaran tujuan dan
rencana yang akan dilakukan ke depannya lagi. Misal soal pendidikan, pekerjaan,
karir, serta hal lain yang memang perlu dibicarakan dalam lingkup keluarga.
Yang lebih penting dari itu semua
adalah adanya rasa saling mengasihi
antar anggota keluarga. Sehingga tercipta hubungan harmonis dan kedekatan yang
baik. Ini lah yang saat ini banyak hilang di banyak keluarga di mana-mana,
termasuk Indonesia apalagi di Amerika. Banyak contoh dari keluarga yang kurang harmonis dapat menyebabkan anggota
keluarga (dalam hal ini adalah anak) tujuan
hidup maupun dalam menjalani hidupnya kurang lancar dan dipenuhi banyak cobaan
yang beresiko membuat si anak menjadi liar tadi. Meskipun tidak semua orang
pula mengalami hal ini.
Ini biasa disebut dengan broken home atau keluarga buruk. Ada pula
yang keluarganya broken home tetapi dirinya sukses. Ini saya juga tidak
menjamin. Tentu kita semua tak berharap menjadi bagian dari korban broken
home ini. Maka, kedekatan dan keharmonisan di dalam keluarga ini dirasa perlu
adanya.
Pandemi Korona
ini selain menjadi musibah, juga menjadi berkah dan kesempatan tersendiri bagi
keluarga yang selama ini sulit berkumpul karena alasan kesibukan pekerjaan di
perantauan. Sehingga momen pandemi ini dapat kita lihat dari sudut pandang
positifnya juga. Sembari mencari solusi juga menata apa-apa yang selama ini
belum tertata di dalam lingkup keluarga.
Rabu, 26 Agustus 2020
Panduan Mencari Istri Shalihah Menurut Al-Qur’an dan Hadits
Semua makhluk diciptakan Allah di
muka bumi ini dengan berpasang-pasangan. Termasuk manusia, diciptakan dari
jenis laki-laki dan perempuan. Soal jodoh tentu menjadi rahasia Allah, tak Ada
seorang pun yang tahu. Hanya saja manusia bisa berusaha mencari dan berusaha
mendapatkannya.
Seorang lelaki
yang baik tentu mendambakan istri shalihah. Karena istri shalihah inilah yang
akan mampu menciptakan keluarga sakinah, melahirkan, mengasuh dan mendidik
keturunannya menjadi anak baik-baik, yang shalih dan shalihah. Allah Swt
berfirman
ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ
عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ
حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ
فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِي ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ
فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًاۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيّٗا كَبِيرٗا
٣٤
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh
karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian
yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian
dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada
Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah
memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka
nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah
mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan
untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisaa’ : 34)
Bagi seorang laki-laki beriman dalam
mencari pendamping hidupnya tentu harus mempunyai pedoman. Saking pentingnya
memperoleh istri shalihah ini, Nabi Saw sampai bersabda
“Tidaklah
seorang mukmin memperoleh sesuatu yang lebih baik sesudah taqwa kepada Allah
Swt selain dari istri yang shalihah ;
jika diperintah ia patuh, jika dipandang menyenangkan, jika diminta untuk
menunaikan sesuatu ditunaikannya dengan baik, dan jika suami jauh darinya,
dijagalah harta dan harga dirinya.”
Berikut ini adalah beberapa ciri istri shalihah menurut
Al-Qur’an dan Hadits Nabi.
1. Jika diperintah ia
patuh
Posisi istri di dalam rumah tangga tentu bukan
sebagai pembantu rumah tangga yang selalu siap untuk disuruh-suruh suami maupun
untuk mengurus seluruh tugas rumah. Namun adakalanya ketika suami meminta istri
dalam suatu hal yang dirasa mampu untuk dilakukannya, istri sebaiknya melakukan
dan patuh terhadap perintah tersebut. Selama perintah suami tersebut tidak
maksiat dan melanggar agama, maka wajiblah hukumnya seorang istri patuh.
Sebagaimana dalam sebuah hadits
“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, lalu istrinya tidak mau menurutinya dan suaminya sepanjang malam marah kepadanya, niscaya dia dilaknat oleh malaikat hingga pagi hari.” (HR. Bukhari Muslim)
2. Jika dipandang
menyenangkan
Siapa sih suami yang ingin memandang istrinya yang acak-acakan dan kurang enak dipandang mata? Tentu semua suami normalnya ingin melihat penampilan istri yang baik dan enak dipandang. Namun dipandang sedap bukan berarti dengan selalu berpenampilan mewah dan merias wajah dengan wah. Penampilan dari sikap yang baik, tutur kata yang sopan dan bibir yang sering menampakkan senyum pun sudah cukup dan dianggap menyejukkan mata bagi suami. Adakalanya juga seorang wanita merias diri dan berpenampilan menarik di hadapan suaminya. Selama sesuai kondisi dan situasi.
3. Jika diminta untuk
menunaikan sesuatu ditunaikannya dengan baik
Selama perintah dari suaminya baik dan tidak melanggar agama, si istri wajib patuh dan menunaikannya. Termasuk kewajiban melayani hasrat sebagai seorang lelaki.
4. Jika suami jauh
darinya, dijagalah harta dan harga dirinya.
Suatu ketika suami pergi meninggalkan rumah dan
meninggalkan harta bendanya, ia tidak lantas berfoya-foya dan bebas menggunakan
harta. Selain itu pula ia mampu menjaga dirinya di hadapan laki-laki lain yang
bukan mahramnya. Jangan sampai ketika suami pergi keluar kota malah istri berkeluyuran kemana-mana dan
tidak menjaga harta justru malah menghabiskannya.
“Apabila
seorang istri telah mendirikan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan,
selalu menjaga diri dan menaati suaminya, niscaya dia masuk surga Tuhannya.”
(HR. Al Bazaar)
Demikian
beberapa poin ciri-ciri istri shalihah menurut Al-Qur’an dan hadits. Semoga kita semua senantiasa mendapat
kebaikan-kebaikan di dunia maupun di akhirat kelak, termasuk bagi para pembaca jomblowan-jomblowati
yang belum menemukan jodoh agar segera dipertemukan dengan jodohnya yang shalih-shalihah
dan dapat menuju ke jenjang ke pernikahan hingga membina kehidupan rumah tangga
yang sesuai dengan yang diperintahkan agama. Wallahu A’lam.
Rabu, 19 Agustus 2020
Balasan Haji Mabrur Pada Masa Pandemi
“Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya
selain syurga”
(HR. Bukhari No. 1773 dan Muslim No. 1349)
Ada banyak alasan orang Islam pergi ke Tanah
Haramain untuk melaksanakan Ibadah Haji. Baik alasan ukhrawi maupun duniawi.
Alasan ukhrawi tentu yang didasarkan pada kewajiban agama, itupun bagi yang
sudah mampu melaksanakannya. Alasan ukhrawi yaitu sesuai pada banyak keterangan
dalam hadits dan Al-Qur’an. Sedangkan alasan duniawi mungkin saja untuk
menambah titel di depan nama atau mendapat status sosial yang lebih tinggi di
lingkungan masyarakatnya. Wallahu A’lam. Hanya Tuhan lah yang lebih mengetahui
hati manusia.
Ibadah
haji yang diwajibkan bagi orang Islam dan dilaksanakan setahun sekali merupakan
sebuah keistimewaan tersendiri. Pasalnya tidak mudah dan tidak murah untuk bisa
mencapai tanah suci dan kemudian melaksanakan perintah agama rukun terakhir ini.
Biaya yang harus dikeluarkan pun tak sedikit. Juga kondisi fisik pun harus fit dan
siap karena ibadah haji adalah ibadah yang lebih banyak menggunakan tenaga
ekstra. Rukun ibadah yang berupa fisik seperti sa’i, melempar jumroh, wukuf,
mabit, tahallul dan lainnya. Sebagian besar rukun haji adalah menggunakan
fisik. Inilah yang memberatkan bagi para orang tua yang berusia lanjut.
Haji
merupakan sebuah kewajiban yang tentunya tidak memaksakan semua umat Islam.
Namun dari segi kemampuan juga dipertimbangkan. Inilah yang kemudian dalam
ketentuan haji adalah bagi orang yang mampu. Baik dari fisik maupun biaya.
Namun ada juga yang mampu keduanya, namun tidak ada niat untuk melaksanakannya.
Banyak alasan memang. Mungkin karena sayang terhadap harta bendanya atau hal
lainnya. Inilah yang dimaksud dari ‘panggilan ilahi’. Karena panggilan ilahi
sendiri berhubungan dengan hati dan hidayah kepada seseorang. Bisa juga
dikarenakan hal lain yang lebih rumit seperti kesibukan hidup atau pekerjaan.
Kebijakan
Ibadah Haji Karena Pandemi
Kegalauan
dan kegelisahan mungkin menyelimuti para calon jamaah haji yang akan berangkat
di bulan Dzulhijjah tahun ini. Sebagaimana yang telah dimaklumi bersama bahwa
dikarenakan pandemi yang melanda dunia, keputusan dari Kementerian Agama di
berbagai negara melarang adanya haji
tahun ini. Semua itu demi memutus rantai penularan virus. Terlebih di Haramain
adalah tempat bertemunya para jamaah haji dari berbagai belahan dunia.
Berjuta-juta orang datang berjubel dan berkerumun. Sehingga dari segi kesehatan
potensi penularannya pun lebih tinggi.
Lalu
bagaimana dengan nasib 221 ribu lebih calon jamaah haji Indonesia yang gagal
berangkat tahun ini? Karena pemerintah Indonesia secara resmi telah mengumumkan
kebijakan ini pada Selasa, 2 Juni 2020 lalu. Bahkan tak hanya Indonesia, calon
jamaah haji dari berbagai negara pun mungkin demikian. Apakah calon jamaah haji
yang gagal berangkat itu tetap memperoleh titel haji mabrur?
Nilai
dalam Ibadah Haji
Haji
sendiri merupakan ibadah yang sarat akan simbol-simbol dalam ritualnya.
Filosofi atau makna dalam berhaji sendiri tidak jauh dengan apa yang menjadi
kisah Nabi Ibrahim alaihis salaam. Praktek ibadah haji merupakan
manifestasi kehidupan Nabi Ibrahim bersama istrinya Siti Hajar serta putranya
Nabi Ismail di Makkah. Seperti misalnya Sa’i merupakan lari-lari kecil Siti
Hajar untuk menemukan air dari Bukit Safa dan Marwah. Kemudian melempar Jumroh
adalah peristiwa ketika Iblis menggoda Nabi Ibrahim tatkala akan menyembelih
putranya sesuai dengan perintah Allah. Iblis menggoda supaya perintah dari
Allah tersebut tidak dilaksanakannya. Sehingga sesuai perintah Allah, Nabi
Ibrahim melempari Iblis tersebut dengan batu.
Dalam
sebuah hadits Hasan, Syaikh Muhammad Nashiruddin Albani menjelaskan bahwa ciri
haji mabrur sendiri ada tiga yang semuanya mengandung pesan sosial bagi sesama.
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW ditanya tentang kebaikan (Albirru) dalam
haji. Beliau menjawab, ith’amut tha’aam (memberi makan), ifsya’us
salaam (menebarkan kedamaian) dan thayyibul kalaam (bagusnya
perkataan). Pada intinya manusia harus berbuat baik dan bermanfaat bagi sesama.
Inilah yang kemudian sebagai para calon jamaah haji yang gagal berangkat tahun
ini dapat mengambil makna dalam ibadah haji.
Sehingga
apabila nila-nilai kebaikan (albirru) dalam haji tersebut dapat diemplementasikan
dengan memberi makan (ith’amut tha’aam) atau bisa juga pada sektor
kesehatan dengan memberikan APD bagi relawan yang menangani pasien di rumah sakit.
Sehingga kemudian akan muncul Ifsya’us salaam (menebarkan kedamaian atau
keselamatan). Terakhir, thayyibul kalaam (bagusnya perkataan) berarti
juga dengan tidak menyebar informasi bohong atau hoax di media sosial.
Kisah Haji
Mabrur Karena Berderma
Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa pada
intinya ada seseorang yang gagal berangkat haji karena ongkosnya diberikan
kepada orang yang lebih membutuhkan. Namun karena yang dilakukan itu, ia justru
menjadi haji mabrur. Bahkan dikarenakan doa orang tersebut, jamaah haji yang
lain ikut menjadi haji mabrur pula. Orang tersebut bernama Muwaffaq yang
tinggal di Damaskus. Ia hanyalah seorang pedagang sepatu yang mengumpulkan
biaya haji selama kurang lebih 40 tahun. Kisah ini diceritakan langsung oleh
Muwaffaq kepada Abdullah bin Mubarrak (118-181 H/726-797 M), seorang ulama
Marwaz, Khurasan yang mendambakan dua hal dalam ibadah yakni haji dan jihad.
Di
masa pandemi seperti ini, harapan menjadi mabrur bagi para calon jamaah haji
bisa saja terwujud jika kita melihat kisah Muwaffaq di atas. Mendapat predikat
haji mabrur meski tak jadi berangkat ke tanah suci lantaran lebih mementingkan
orang lain yang kelaparan dan kesusahan. Di masa pandemi seperti ini tentu
banyak juga orang-orang yang merasa kesusahan dan kesulitan ekonomi. Terutama
mereka yang berpenghasilan pas-pasan dan bergantung pada gaji harian. Dampak
pandemi ini bahkan dirasakan kalangan menengah ke atas. Apalagi kaum bawah yang
ketika hari-hari biasa saja penghasilan mereka sangat minim dan kekurangan.
Maka dari itu, bagi para calon jamaah haji hendaknya bisa mengambil hikmah akan adanya pandemi seperti ini. Meski belum bisa berangkat tahun ini, alangkah lebih baiknya harta yang ada digunakan untuk menolong sesama di sekitar lingkungan tempat tinggal. Terutama bagi mereka yang terdampak dan semakin terhimpit masalah ekonomi. Karena jika dilihat dari segi katanya, Mabrur adalah isim maf’ul (objek) dari akar kata albirru yang berarti ‘kebaikan’ sehingga alhajjul mabruru dapat diartikan dengan ‘haji yang diberi kebaikan’. Semoga dengan mengambil semangat kemabruran ini, kita semua mendapat pahala mabrur sebelum atau tanpa haji. Wallahu A’lam.
Selasa, 18 Agustus 2020
Anggaran Dana Desa Sebagai Solusi ; Jangan Sampai Dimanipulasi (lagi)
“Fakir miskin dan
anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”
“Negara mengembangkan
sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang
lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan”
“Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak”
(Bunyi UUD 1945 Pasal 34 ayat 1-3)
Kalimat yang bunyinya sangat jelas di atas merupakan contoh undang-undang
negara yang sengaja dibuat para pemangku kebijakan demi kebaikan dan
kesejahteraan rakyatnya. Undang-undang dibuat bertujuan untuk mengatur jalannya
pemerintahan agar berjalan dengan baik dan pada akhirnya untuk kesejahteraan
rakyat suatu negara. Namun, siapa sangka jika undang-undang terkadang masih
sebatas menjadi de jure saja, masih sangat jauh dari de facto.
Undang-undang disoroti masih sebatas sebagai kalimat-kalimat yang memenuhi
kitab suci negara.
Anggaran Dana Desa (ADD) Sebagai Suatu Solusi
Berbagai program yang telah dicanangkan oleh pemerintah untuk menangani banyaknya
persoalan di negeri ini sebenarnya sudah menunjukkan keseriusan terhadap
rakyat. Berbagai upaya -terutama mengenai kesejahteraan di daerah pelosok
pedesaan- terus ditingkatkan oleh pemerintah pusat. Banyak program-program yang
berorientasi pada sektor menengah ke bawah. Hal ini tentu akan sangat berguna
dan diharapkan dapat meningkatkan taraf perekonomian rakyat.
Anggaran Dana Desa (ADD) ini merupakan program yang semenjak pencalonan
presiden tahun 2014 lalu sudah sering digaungkan. Seperti untuk menarik simpati
rakyat di pedesaan. Dengan salah satu alasannya anggaran daerah atau kabupaten
masih sulit sampai ke tingkat desa atau jika sampai pun, ‘tidak utuh’. Kemudian
muncul lah program semacam ini. Sebuah program yang mana dana dari pusat
langsung disalurkan ke tingkat desa dengan pengelolaan dan pengawasannya
langsung diserahkan kepada aparatur pemerintah desa maupun yang ditunjuk
masyarakat. Sangat menjajnjikan dan bermanfaat memang, jika semuanya dapat
berjalan dinamis.
Persoalan diambang Ketidakpastian
Namun, persoalan yang dari dulu hingga kini belum terselesaikan dan dirasa
masih menjadi ‘PR’ serius ialah dari pengelola yang diberi amanah untuk
menjalankan program-program tersebut. Masih saja banyak ‘tangan-tangan jahil’ yang
tega menyelewengkan dana milik rakyat itu. Menurut catatan dari ICW (Indonesia
Corruption Watch), kasus korupsi di sektor anggaran desa menjadi kasus
terbanyak yang ditindak oleh aparat penegak hukum sepanjang tahun 2019 lalu
bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya (www.kompas.com, 18
Februari 2020).
Data ICW menyebutkan terdapat 46 kasus korupsi di sektor anggaran desa dari
271 kasus korupsi di sektor anggaran desa. Bahkan tercatat merugikan anggaran
negara hingga Rp.32,3 miliar. Miris memang. Hal semacam ini ibarat kran yang
terus mengalir namun airnya tak sampai kepada yang memang benar-benar
membutuhkan air. Hingga pada akhirnya mati kehausan.
Seperti yang dirasakan oleh penulis saat ini. Tinggal di sebuah daerah yang
bisa dikatakan ‘tertinggal’ jika dibandingkan dengan daerah lain. Sulitnya
akses transportasi dan komunikasi menjadi masalah penting untuk daerah pelosok transmigrasi
yang penulis tinggali ini. Keterbatasan fasilitas dan kesulitan akses dalam
bidang pendidikan serta kesehatan menjadi kegelisahan tersendiri bagi penulis. Dengan
adanya program dana desa itu diharapkan dapat digunakan sebaik-baiknya oleh
pemerintah desa untuk kesejahteraan seluruh warganya, termasuk untuk
memperbaiki fasilitas dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Tujuan adanya
anggaran tersebut juga untuk perbaikan sarana prasarana yang sudah ada,
mengembangkan usaha, mendirikan lapangan kerja, atau dalam hal lain yang
sekiranya dapat memajukan pembangunan di desa.
Perbaiki Sistem Yang Sudah Ada
Setelah adanya
persoalan semacam ini, hendaknya menjadi pembelajaran penting dan serius bagi pemerintah
pusat dalam pencairan dana di tahun-tahun mendatang. Lebih mengawal dan mencermati
lagi penyaluran dana desa ini agar benar-benar sampai dengan ‘selamat’ di kas
desa hingga ke individu masyarakatnya merasakan program ini. Bahkan bukan hanya
itu, pemerintah juga perlu mendorong keterbukaan dan akuntabilitas dalam
pengelolaannya. Pemanfaatan teknologi informasi harus dimaksimalkan sebaik
mungkin guna pelaporan hal-hal penting kepada pusat.
Hal ini karena
untuk mengantisipasi dana yang seharusnya menjadi hak milik desa tidak dimanipulasi
lagi oleh oknum-oknum yang memang seharusnya bertanggung jawab itu. Sehingga
diharapkan dana desa yang seharusnya memang diperuntukkan bagi warga desa ini dapat
tepat sasaran dan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat di seluruh desa.
Hingga pada akhirnya dapat mempercepat laju pembangunan di pedesaan. Semoga
saja dana desa ini memang dapat disebut ‘Dana Desa’ sebagai solusi dan jangan
sampai dimanipulasi oleh para tikus-tikus berdasi. Ya, semoga saja. Mohon maaf
atas segala kekurangan dan kesalahan. Wallahu A’lam.
Minggu, 16 Agustus 2020
Keterbatasan Ruang Virtual ; Masalah Fatal?
Di era revolusi industri 4.0 saat ini, hampir semua kehidupan manusia dipengaruhi
oleh teknologi informasi dan ‘hidup’ dalam ruang-ruang virtual. Terutama
masyarakat perkotaan menengah ke atas dengan segudang aktivitas yang
melingkupinya. Bahkan juga masyarakat pedesaan semi perkotaan yang mulai
berkembang. Namun, tidak bisa dipungkiri pula masih banyak daerah di pelosok
bumi pertiwi ini yang belum menikmati dan merasakan teknologi informasi dan
ruang virtual.
Masih
banyak persoalan di daerah pelosok pedesaan, khususnya di luar Pulau Jawa.
Seperti yang penulis rasakan, di daerah
transmigrasi untuk sekedar pengetahuan atau bahkan akses teknologi dan
informasi masih sangatlah minim. Utamanya bagi masyarakat awam yang pendidikannya
hanya sampai tingkat dasar. Tentu mereka belum melek digital, bahkan sudah
sangat sulit jika harus belajar dari usia menjelang senja. Sedikit berbeda
dengan anak-anak mereka yang bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi ke luar
daerah, terutama ke Pulau Jawa. Peluang mendapat akses teknologi dan informasi tentu lebih luas jika dibandingkan di desa dengan keterbatasan sinyal
internet.
Di
daerah pelosok pedesaan, khususnya di daerah transmigrasi penulis, masalah
jaringan hingga saat ini menjadi suatu kendala penting. Baik jaringan telepon
maupun internet. Belum lagi akses transportasi serta finansial yang kebanyakan
masih bergantung dengan bidang pertanian. Belum
banyak yang beralih ke industri kreatif
rumahan maupun bisnis perdagangan layaknya daerah perkotaan. Bisa jadi masalah
utamanya adalah akses teknologi, transportasi dan informasi atau komunikasi.
Ruang
Virtual sebagai Ekosistem Baru Masyarakat
Ruang virtual saat ini bagaikan sudah menjadi
tempat hidup baru bagi mayoritas manusia kini, khususnya masyarakat melek
teknologi menengah ke atas di perkotaan. Tak
terkecuali pula masyarakat pedesaan di beberapa daerah yang sudah berkembang dan mulai melek teknologi informasi. Bukan di daerah yang masih bisa dikatakan tertinggal dari itu
semua.
Televisi yang dulu menjadi idola banyak orang, kini seakan sudah mulai
ditinggalkan karena media sosial dan media virtual sudah dalam genggaman.
Mencari informasi apapun sudah bisa dilakukan melalui sebuah perangkat kecil yang
biasa disebut smartphone atau telepon pintar. Bahkan saking pintarnya,
telepon bisa membodohkan manusia penggunanya. Pada intinya, gawai menjadi
sarana penting dan praktis bagi manusia zaman ini. Namun bukan berarti seluruh
masyarakat Indonesia sudah merasakan kemerdekaan teknologi dan informasi dengan
berbagai warna-warni di dalamnya. Masih banyak dari mereka yang masih terjajah dan buta akan media informasi. Gerakan literasi belum sampai kepada
mereka.
Bukan
perkara mudah memang. Membeli ruang virtual pun tidak murah. Perangkat yang
dibutuhkan pun lumayan mahal bagi masyarakat menengah ke bawah. Belum lagi soal transportasi yang masih
membutuhkan sentuhan para pemangku
kebijakan ataupun masalah keamanan dari para penjahat yang sudah
hilang akal
sehat. Masalah
inilah yang kiranya dapat menghambat laju perkembangan daerah pelosok pedesaan,
utamanya daerah luar Pulau Jawa. Dengan keterbatasan jaringan telepon atau internet, akses
transportasi yang sulit serta keamanan yang senantiasa mengincar tentu
memperlambat kemajuan suatu daerah.
Imbas
Keterbatasan Virtual
Dengan banyaknya keterbatasan tersebut,
sehingga membuat banyak masalah yang ada. Mulai perkembangan pendidikan,
kesehatan, ekonomi, sosial, budaya hingga politik pun menjadi terdampak.
Seperti contoh pada bidang pendidikan, akses jalan yang sulit tentu akan
membahayakan anak-anak berangkat ke sekolah. Jalan rusak, becek, berlumpur,
menjadi pemandangan biasa tatkala hujan datang.
Belum
lagi masalah saat ini bertambah dengan adanya pandemi yang merepotkan seluruh
negeri. Jika di daerah perkotaan masih teratasi dengan akses kesehatan yang
bisa dijangkau dengan mudah, informasi mengenai kesehatan dari pusat atau
daerah provinsi bisa dengan cepat didapatkan, hingga gerakan-gerakan sosial
yang lebih cepat datang ke rumah-rumah. Belum lagi dengan berbagai upaya dan
strategi jitu para ahli yang menyasar ke daerah perkotaan lebih mudah untuk
diterima dan dipraktekkan. Termasuk ketika halal bi halal virtual saat lebaran.
Semua bisa merasakan pertemuan meski tak berjabat tangan dan berpelukan. Itulah
rekayasa dunia virtual.
Namun
itu semua tidak berlaku dan masih sulit dirasakan masyarakat pelosok pedesaan.
Jaringan internet yang sulit, listrik yang sering padam, hingga mahalnya harga
kuota internet membuat pertemuan virtual seperti yang dilakukan masyarakat
perkotaan sangat sulit dilakukan. Kendala tiba-tiba listrik padam atau
kehilangan jaringan, sangat biasa bagi warga pelosok pedesaan. Jalinan
silaturrahim saat Hari Raya Idul Fitri yang ingin dibangun dalam ruang virtual pun menjadi batal. Kehangatan bersama orang banyak dalam dunia virtual pun tak
jadi sebuah penawar rindu. Sehingga, dengan sulitnya banyak akses di desa
pelosok ini apakah menjadi masalah fatal? Tentu saja. Jika pemerintah ingin
memeratakan pembangunan serta lebih cepat dalam menyelesaikan masalah-masalah
klasik para transmigran dan pelosok pedesaan. Wallahu A’lamu.
Penulis adalah salah satu dari dari
sekian banyak orang desa yang
bersyukur bisa mendapat kesempatan mencicipi
rasanya pendidikan kuliah dan nyantri di Kota Yogyakarta yang kata banyak orang
Istimewa. J







