BREAKING
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2022

Jangan Lewatkan Beberapa Amalan Ini pada Sepuluh hari Terakhir Ramadhan !

“Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan ramadhan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut. (HR. Muslim) Sebentar lagi umat muslim memasuki penghujung bulan Ramadhan. Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan inilah Rasulullah melakukan ibadah lebih giat dari malam-malam sebelumnya. Seperti halnya hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA di atas. Dalam sepuluh malam terakhir itu, rasulullah mengajak anggota keluar yang lain untuk memperbanyak i’tikaf, bertaqarrub serta memperbanyak aktivitas ibadah-ibadah yang lain. Kalimat “bersungguh-sungguh” pada hadis di atas juga menunjukkan bahwa Rasulullah menunjukkan anjuran kepada ummatnya agar tidak kendor dan lesu dalam beribadah di sepertiga terakhir bulan Ramadhan. Meskipun malam-malam Ramadhan adalah malam baik untuk beribadah, namun sepuluh malam terakhir ini yang lebih dianjurkan dan diutamakan. Mengingat menjelang akhir Ramadhan banyak masyarakat yang terlena akan datangnya hari raya. Beberapa keutamaan di sepuluh malam bulan Ramadhan yang menjadi alasan Rasulullah mengajak agar lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah ini adalah sebagai berikut : Pertama, sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan ini merupakan malam-malam yang paling dicintai Rasulullah SAW. Kedua, sepuluh hari terakhir ini menjadi penutup bulan Ramadhan yang penuh berkah. Setiap amalan manusia, biasanya dinilai dari amalan penutupnya. Ketiga, terdapat Lailatul Qadar atau malam seribu bulan yang biasanya pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Keempat, beliau mencontohkan agar umatnya tidak terlena dengan kesibukan menjelang hari raya. Justru harus disibukkan dengan ibadah-ibadah yang lebih berkualitas maupun secara kuantitasnya. Berikut ini sepuluh amalan utama yang menjadi perhatian Rasulullah di malam-malam terakhir bulan Ramadhan. 1. Memperpanjang Shalat Malam Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut, “Rasulullah SAW biasa ketika memasuki 10 Ramadan terakhir, beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Rasulullah menikmati kesyahduan malam-malam terakhir Ramadhan dengan membangunkan anggota keluarganya untuk bersama-sama beribadah kepada Allah. Bahkan sampai ada kata “mengencangkan ikat pinggang”. Ini mengisyaratkan bahwa Rasulullah bersungguh-sungguh dan lebih bersemangat lagi dalam beribadah. 2. Memperbanyak Sedekah Sedekah merupakah amalan sebagai ungkapan rasa syukur. Termasuk juga bersyukur telah dipertemukan dengan bulan puasa ramadhan ini. Bersyukur karena mampu menjalankan ibadah-ibadah selama bulan puasa Ramadhan. Tidak hanya sedekah wajib berupa zakat fitrah dan zakat mal, sedekah sunnah pun sangat dianjurkan untuk dilakukan. Sebagaimana hadis Rasulullah berikut ini, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Qs. As-Sajdah: 16). Sedekah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini bisa dengan berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim atau dhuafa. Dengan membagi makanan saat berbuka puasa, paket ramadhan berupa sembako atau pakaian dan sebagainya. 3. I’tikaf I’tikaf berarti berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT. Tidak keluar dari masjid kecuali ketika ada hajat lain yang sangat mengharuskan. I’tikaf sebenarnya dianjurkan dalam setiap waktu, namun Rasulullah lebih menganjurkan lagi pada sepuluh terakhir hari terkahir pada bulan Ramadhan. Sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA , Rasulullah SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadan. (HR. Muttafaq ‘alaih) 4. Membaca Al-Qur’an Meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam membaca Al-Qur’an juga merupakan anjuran ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Membaca Al-Qur’an dapat dilakukan di mana saja, asal tempatnya suci. Baik di masjid maupun di rumah masing-masing. Tentu juga setelah suci dari hadas. Terkadang juga bulan Ramadhan dijadikan momentum untuk memperbanyak khatam dalam membaca Al-Qur’an. Sehingga tradisi mengejar khataman ini menjadi kebahagiaan serta kepuasan tersendiri bagi yang biasanya sibuk dengan berbagai aktivitas pekerjaan lain. Demikian beberapa anjuran amalan yang bisa dilakukan selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Mari jadikan momentum Ramadhan kali ini dengan lebih giat lagi dalam beribadah kepada Allah SWT sehingga menjadi hamba yang bertaqwa di sisiNya. Aamiin.

Senin, 25 Januari 2021

Renungan Manusia dalam Membersamai Semesta (Sebuah Refleksi Awal Tahun)

 


        Jika biasanya refleksi dibahas dan dibicarakan -ataupun ditulis- di akhir tahun, namun bagaimana jika sebuah refleksi -renungan- itu justru sudah dibicarakan di awal-awal tahun? Bahkan, ketika masih di awal hari-hari bulan pertama. Jika refleksi akhir tahun biasanya membahas mengenai pencapaian-pencapaian serta evaluasi kinerja sebuah lembaga, pemerintahan maupun hanya sebatas bahan renungan pribadi bagi diri sendiri, kini renungan dan refleksi tak butuh untuk dilakukan pada akhir tahun dan membicarakan soal pencapaian atau evaluasi. Justru malah jauh dari itu.

    Seperti yang telah kita ketahui bersama,  hampir satu tahun kita dihadapkan cobaan berupa pandemi Covid-19. Cobaan yang melanda manusia di berbagai belahan dunia. Semua usia merasakan, segala aspek merasa menerima beban. Sudah tak terhitung lagi berapa korban yang disebabkan oleh makhluk kecil ciptaan Yang Maha Kuasa ini. Sudah berapa kepala keluarga kehilangan pekerjaan. Sudah tak terhitung lagi kerugian para pedagang. Atau bahkan, sudah berapa kali diadakan acara yang membahas mengenai pandemi yang satu ini. Hingga, sudah berapa podcast yang hadir di beranda Youtube kita yang mencoba mengulik, mengupas dan mencoba mengurai benang kusut pandemi (-tentang birokrasi, konspirasi hingga mencari solusi).

    Hampir satu tahun menahan derita pandemi. Ketika pandemi belum sepenuhnya beranjak pergi, kini kita sudah berada di awal tahun yang berbeda. Belum hilang bekas air mata kesedihan, kini di awal tahun kita disambut lagi dengan berbagai ujian dan cobaan dari Sang Maha Pemilik Semesta. Di akhir tahun lalu hingga di awal tahun ini, beberapa musibah mengiringi dan membersamai pandemi. Mulai dari di wafatkannya para ulama besar di negeri ini, bencana alam, korupsi pejabat negara di tengah masyarakat yang sedang kesusahan, hingga deretan bencana alam dan bencana transportasi pesawat terbang.

    Deretan peristiwa itu seakan melengkapi deretan pilu berkepanjangan yang dialami negeri ini. Tak kurang dari 13 ulama besar telah diwafatkan Yang Maha Mematikan. Berikut ini daftar ulama besar yang wafat tersebut: Habib Ja’far bin Muhammad Al Kaff Kudus (1 Januari 2021), KHR Muhaimin Asnawi – PP Al Asnawi Magelang (1 Januari 2021), KHR Abdullah Nachrowi – PP Ash-Shogiri Bogor (2 Januari 2021), KHR Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir – PP Al Munawir Krapyak (4 Januari 2021), Drs. M.Sai MHI – PP Nurul Yakin Malaka (5 Januari 2021), KH Muhammad Nuruddin A.Rahman – PP Al Hikam Bangkalan (9 Januari 2021), Habib Abu Bakar bin Salim Al Hamid Bondowoso – (9 Januari 2021), KH.Zainuddin Badrus – PP Al Hikmah Kediri (10 Januari 2021), KH. A. Yasin Asmuni – PP Hidyatut Thullab (11 Januari 2021), Drs. H. Ibnu Hazen – LTMNU (12 Januari 2021), Syekh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber (14 Januari 2021), Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf (15 Januari 2021). Selain nama-nama beliau di atas, tentu juga masih banyak ulama yang tidak terberitakan di media massa.

    Ke 13 ulama besar tersebut sudah tidak diragukan lagi keluasan ilmunya. Para tokoh pengayom masyarakat dan agama yang fatwa dan petuahnya selalu di nanti-nanti umat. Maka sangat wajar dan maklum jika sepeninggalan beliau-beliau ini masyarakat menjadi sangat bersedih hati. Bahkan, alam pun turut menunjukkan kesedihannya. Dibuktikan dengan gerimis yang menyertai setiap pemakaman para ulama dan kiai tersebut. Seakan alam pun ikut menangis. Tentu saja kematian adalah suatu keniscayaan bagi setiap yang bernyawa. Kull nafsin dzaiqatul mauut. Semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati.

    Namun, bukan itu yang membuat hati pilu dan kalut. Bukan tentang kematian setiap manusianya. Namun tentang siapa yang dikehendaki untuk segera bertemu denganNya. Mereka adalah para ulama pewaris para Nabi dan sebagai penerus risalah agama. Ilmupun dicabut dari muka bumi dengan cara diwafatkannya para pemilik ilmu itu. Inilah yang selayaknya menjadi kesedihan bersama. Ketika para ulama banyak yang sudah wafat sementara umat masih kebingungan mencari dan mengais ilmu yang tak kunjung paham.

    Selain wafatnya para ulama dan kiai, baru-baru ini juga kita sedang dihadapkan dengan berbagai bencana yang mengawali tahun. Mulai dari gunung meletus, jatuhnya pesawat terbang jatuh, banjir, longsor, gempa bumi, puting beliung hingga hujan es yang merupakan fenomena langka di negeri tropis kita ini.

    Rentetan peristiwa bencana alam di negeri tersebut mulai dari musibah banjir yang melanda Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Gempa di Majene Sulawesi Barat, Longsor di Sumedang Jawa Barat, banjir dan longsor di Gunung Emas Bogor, Erupsi Gunung Merapi dan Semeru, hingga jatuhnya pesawat terbang Sriwijaya SJ 182 dan yang terakhir ada peristiwa hujan es di Cianjur Jawa Barat. Memang, dari kacamata alam itu disebut dengan ‘fenomena alam’ atau ‘perjalanan alam’.

    Namun, berbeda jika dilihat dari kacamata agama. Kejadian-kejadian alam bukan saja menjadi sebuah fenomena biasa. Lebih dari itu, sebagai manusia dan hambaNya, hendaknya menjadikan setiap kejadian sebagai ibrah atau pelajaran. Sebagai motivasi untuk semakin mendekat kepada Sang Pencipta. Juga sebagai bahan renungan bagi setiap diri manusia.

    Sesungguhnya ada apa dengan semua semua rentetan peristiwa itu? Apakah alam murka? Bumi muak dengan segala tingkah laku manusia? Yang seenaknya mengeksploitasi alam sesuka mereka. Banjir yang disebabkan gundulnya hutan hanya dianggap sepele dengan ungkapan ‘karena curah hujan tinggi’. Miris. Belum lagi dengan murkanya deretan gunung berapi karena wilayah Indonesia berada di Cincin Api Pasifik atau Lingkaran Api Pasifik (bahasa Inggris: Ring of Fire). Yang tentu, itu semua hanya Allah yang tahu.

    Di awal tahun 2021 ini, setidaknya sebagai manusia kita mampu merefleksikan atau merenungkan setiap kejadian agar lebih waspada. Karena ada sebuah pepatah Jawa mengatakan, "Sak bejo-bejone wong kang lali, isih luwih bejo wong kang eling lan waspodo” (seberuntung-beruntungnya orang lupa, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada). Wallahu a’lam.

Minggu, 30 Agustus 2020

Sabar di Tengah Cobaan

 


            Pada zaman dahulu tersebutlah seorang yang bernama Abul Hasan. Ia pergi haji ke Baitul Haram dan ia melihat sebuah keajaiban. Sewaktu tawaf, dia tiba-tiba  melihat seorang wanita dengan wajah bersinar dan berseri-seri. Dengan kagum ia memuji, “Demi Allah saya belum pernah melihat wanita secantik dan secerah wanita ini, pasti tidak lain ia tidak pernah risau dan susah.”

            Rupanya wanita tersebut mendengar ucapan Abul Hasan, dan lantas ia bertanya, “Apa katamu, wahai saudaraku? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan duka cita dan luka hati yang mendalam karena risau”.

Abul Hasan heran, “Lalu apa yang membuatmu risau, saudaraku?”

Wanita itupun menjawab, “Suatu ketika suamiku menyembelih kambing qurban dan kala itu aku mempunyai dua orang anak.”

Saat aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang besar berkata, “Hai Dik, maukah kamu saya tunjukkan bagaimana cara ayah menyembelih kambing?” “Baiklah jika begitu,” Jawab adiknya,

Lalu disuruhlah adiknya tadi berbaring dan disembelihlah leher sang adik hingga meninggal. Setelah melihat darah bercucuran, ia disergap perasaan takut yang hebat sehingga larilah ia ke pucuk bukit dan bersembunyi, tetapi ia di sana malah dimakan srigala. Lalu ayahnya mencarinya dengan menyusul ke bukit. Setelah sekian lama mencari-cari anaknya yang tak kunjung ditemukan, akhirnya ia pun mati karena kelelahan dan kehausan.

Lalu Abul Hasan berkata, “Bagaimana kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu?”

Wanita itu menjawab, “Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dan mengeluh, melainkan ia menemukan di antaranya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan lebih terpuji akibatnya, Dan adapun mengeluh, maka seseorang tidak mendapatkan ganti kecuali hanya kesia-siaan saja.”

(Sumber : Ihya’ ‘Ulumiddin)

Sabtu, 29 Agustus 2020

Peran Perempuan Milenial dalam Keluarga

 


Saat ini, problem gender di Indonesia masih menjadi pembahasan dan kajian yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Terbukti dengan adanya polemik Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga belum lama ini dipandang para aktivis gender seakan mendeskreditkan perempuan. Selain itu pula RUU ini dianggap terlalu mengatur ranah privat warga negara, terutama yang berhubungan dengan suami istri (Sumber: kompas.com).

Pasal-pasal yang dianggap ganjil lainnya seperti kewajiban suami-istri untuk saling mencintai atau kewajiban istri untuk mengurusi rumah tangga. Banyak orang yang menganggap RUU tersebut tidak akan menjamin keluarga Indonesia menjadi lebih sejahtera dan bahagia. Namun mungkin justru sebaliknya, malah membingungkan dan merepotkan. Inilah yang kemudian RUU tersebut mendapat banyak pertentangan di kalangan aktivis.

            Dari segi katanya, ada keistimewaan tersendiri pada kata perempuan ini. Mengapa tidak menggunakan kata wanita atau cewek atau bahasa selainnya? Kata ‘perempuan’ jika dipenggal akan menjadi tiga suku kata yakni per-empu-an. Kata ‘Per’ dan ‘an’ dalam tata bahasa Indonesia merupakan kata awalan dan akhiran. Yang mana ‘per’ dan ‘an’ menunjukkan proses pekerjaan. Seperti misal kata Penurunan Bendera artinya sedang menurunkan bendera atau Pengembalian Hak berarti proses mengembalikan sebuah hak, dan contoh-contoh lainnya.

            Sedangkan kata ‘empu’ sendiri zaman dulu sudah sangat lazim digunakan pada seseorang yang mampu menciptakan karya. Semisal Empu Gandring sebagai ahli dalam menciptakan keris. Empu Tantular dengan Kitab Sutasomanya yang kala itu sebagai kitab undang-undang Kerajaan Majapahit. Jadi, ‘perempuan’ dapat disimpulkan sebagai seseorang yang memang ahli dalam menciptakan.

            Sehingga kemudian mengapa kata perempuan ini diartikan sebagai ahli menciptakan atau membuat dikarenakan perempuan inilah yang memiliki peran sebagai pembentuk kepribadian manusia (baca; anak). Karena anak yang nantinya bakal menjadi generasi penerus orang tua, keluarga bahkan bangsa. Maka wajar jika ada maqolah mengatakan Al ummu madrasatul ulaa Lil Aulaad yang artinya ibu adalah madrasah atau sekolah pertama bagi anak-anaknya.

            Peran perempuan sebagai madrasah atau pendidik pertama dalam lingkungan keluarga ini tentunya harus diperhatikan. Jika dilihat dari proses panjang dari masa kehamilan hingga kelahiran seorang anak tentu sangat panjang dan perjuangannya tidak mudah. Setelah anak lahir dan beranjak menuju dewasa pun, orang tua (khususnya ibu) memiliki peran utama. Meskipun saat ini dengan kemajuan dan kemodernan ada yang bisa menggantikan perannya (misal asisten rumah tangga). Namun tetap saja peran tersebut tidak bisa tergantikan sepenuhnya.

Sungguh sangat berbeda jika anak diasuh oleh ibu kandungnya secara langsung dibandingkan dengan asisten . Dimulai dari memberikan ASI sebagai makanan utamanya, kasih sayang serta ikatan batin antara ibu dan anak hingga pendidikan semasa bayi. Tentu hasilnya berbeda. Terutama dari segi karakter si anak.

Ibu Milenial

Istilah Milenial biasanya dilekatkan pada mereka yang lahir dan berusia produktif pada zaman penuh kemajuan seperti saat ini. Termasuk yang sudah berperan menjadi ibu. Ditandai dengan meleknya mereka terhadap media dan sumber-sumber informasi yang semakin membanjiri manusia milenial kini. Selain menjadi kesempatan, tak terlepas pula hambatan dan tantangan yang menghadang.

Dari segi kesempatan, sangat mungkin jika para ibu milenial ini mudah mengakses hal-hal baru dari teknologi setiap hari atau bahkan setiap detik. Maraknya media sosial semakin memudahkan untuk mencari berbagai referensi keilmuan. Media sosial pun menjadi kunci utama bagi para ibu milenial ini. Seperti contoh jika ingin memasak sebuah menu masakan, tak perlu repot menanyakan pada orang lain. Cukup klik dan mencarinya di Youtube atau sumber internet lainnya.

Selain kesempatan, hambatan serta tantangan yang ada juga menjadi masalah serius. Tantangan dalam menghadapi era teknologi dan informasi yang semakin lama tak bisa dibendung ini bagi mereka yang kurang selektif dalam memilih dan memilah sumber informasi dan kurang dalam penguasaan media teknologi. Sebagai contoh, ibu milenial memiliki Smartphone dan anak akan dengan mudahnya melihat aktivitas keseharian si ibu dengan smartphone ini. Ini akan bahaya jika suatu waktu si anak ikut memegangnya.

Pengawasan ibu milenial ini selaku pendidik utama tadi sangat dibutuhkan untuk pengawasan aktivitas anaknya dengan smartphone. Pengawasan orang tua sangat dibutuhkan untuk memfilter hal-hal yang cenderung negatif bagi si anak. Jangan sampai si anak mengakses hal-hal yang kurang bermanfaat, bahkan malah membahayakan. Akan sangat lebih baik lagi jika anak diarahkan meggunakan smartphone untuk mengakses tentang pendidikan. Yang tentunya sesuai dengan jenjang usia dan pendidikan si anak.

Perempuan Milenial dan Ketahanan Keluarga

Kokohnya sebuah negara ditentukan oleh perempuannya. Jika perempuan sebagai pendidik generasi bangsa (baca; anak dalam keluarga) itu kokoh dan mampu, berarti suatu negara akan kokoh pula tiang penyangganya. Lantas di mana letak milenialisme seorang perempuan sebagai ibu dalam lingkungan keluarganya dapat memperkuat ketahanan keluarga?

Seperti fakta yang ada, bahwa peran seorang perempuan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tak terlepas perannya di dalam lingkungan keluarganya sendiri. Kuatnya peran ibu dalam keluarga ini akan membawa anak untuk memiliki karakter yang kuat pula. Sehingga diharapkan jika semua keluarga dalam satu negara dapat memaksimalkan peran mereka mendidik anak, maka diharapkan dapat membawa menuju ke arah kokohnya ketahanan dalam keluarganya sendiri. Bahkan bisa saja pada aspek ketahanan nasional.

Karena sejatinya ketahanan nasional bangsa berawal dari ketahanan di dalam keluarga. Sebaliknya, jika keluarga di suatu negara banyak terdapat kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) maka mustahil suatu bangsa akan maju. Bayangkan saja, bagaimana akan memperkokoh tiang sebuah bangsa, jika menciptakan tiang-tiang keluarga yang kokoh dan baik saja belum mampu.

Inilah kemudian yang menjadi kegelisahan bersama. Bahwa di satu sisi ibu milenial memiliki andil besar dalam keluarga, namun di sisi lain pula dapat membawa keluarga (khususnya anak) dalam jurang ‘malapetaka’ jika tidak tepat dalam memainkan peran sebagai seorang ibu rumah tangga.

Terlebih dalam situasi pandemi saat ini yang semakin mempersulit keadaan. Baik segi ekonomi maupun psikologi dalam keluarga. Ini yang menjadi tugas bersama negara dan semua elemen masyarakat untuk saling bahu membahu menyelesaikan permasalahan saat ini. Semoga segala kesulitan dan cobaan bangsa dapat kita lalui bersama serta senantiasa diberi kesehatan dan kelancaran olehNya. Aamiin.

 


Kamis, 27 Agustus 2020

Momen Pandemi Yang Merekatkan

 


Pada setiap musibah tentu ada hikmah. Pada setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Begitu pula dengan yang terjadi saat ini. Di saat-saat terjadi musibah yang menasional bahkan mendunia, juga banyak yang merasa mendapat kemudahan dan berkah tersendiri.

            Pandemi berupa Virus Korona ini memang membuat susah sebagian besar orang. Mulai dari pemerintah hingga masyarakat bawah. Semua merasa dibuat kewalahan. Para tenaga medis sudah berjuang mati-matian menyembuhkan pasien yang positif terpapar virus. Pemerintah dan segenap perangkatnya seperti TNI-Polri-Dokter pun turut membantu dengan segala daya upayanya. Tak luput pula, kita dengan apapun yang bisa dilakukan.

            Pandemi ini juga membuat sebagian orang perantauan memilih pulang ke kampung halamannya. Di satu sisi karena alasan ekonomi dan di sisi lain mungkin karena kangen keluarga. Di rumah, selain mengikuti aturan ahli kesehatan dari desa, juga ikut sedikit-sedikit membantu pekerjaan orang tua. Apapun itu, baik ibu maupun bapak. Atau bahkan tetap berusaha mengikuti perkuliahan atau pekerjaan secara Daring (Dalam Jaringan).

            Pulang ke rumah selain tujuan untuk membantu orang tua, juga ternyata bisa menjadi kesempatan curhat dan merembugkan berbagai hal. Baik cerita-cerita ketika di perantauan maupun rencana-rencana yang akan dilakukan selanjutnya. Di saat berkumpul dengan keluarga, bapak dan ibu saya menanyakan dan ngobrol ringan dengan kami anak-anaknya. Hal-hal yang diobrolkan pun seperti meliputi proses pendidikan, pekerjaan di perantauan, jodoh, dan lain sebagainya.

            Hal-hal seperti ini dirasa perlu dalam keluarga. Tanpa bicara dan kehangatan keluarga, terkadang bisa membuat keadaan kurang harmonis di antara anggota keluarga. Bahkan lebih dari itu anak-anak bisa saja menjadi liar tanpa arah di perantauan sana. Salah satu manfaat dari adanya kumpul keluarga ini adalah adanya saling keterbukaan antar anggota keluarga. Dengan keterbukaan ini diharapkan dapat memberikan gambaran-gambaran tujuan dan rencana yang akan dilakukan ke depannya lagi. Misal soal pendidikan, pekerjaan, karir, serta hal lain yang memang perlu dibicarakan dalam lingkup keluarga.

            Yang lebih penting dari itu semua adalah adanya rasa saling mengasihi antar anggota keluarga. Sehingga tercipta hubungan harmonis dan kedekatan yang baik. Ini lah yang saat ini banyak hilang di banyak keluarga di mana-mana, termasuk Indonesia apalagi di Amerika. Banyak contoh dari keluarga yang kurang harmonis dapat menyebabkan anggota keluarga (dalam hal ini adalah anak) tujuan hidup maupun dalam menjalani hidupnya kurang lancar dan dipenuhi banyak cobaan yang beresiko membuat si anak menjadi liar tadi. Meskipun tidak semua orang pula mengalami hal ini.

Ini biasa disebut dengan broken home atau keluarga buruk. Ada pula yang keluarganya broken home tetapi dirinya sukses. Ini saya juga tidak menjamin. Tentu kita semua tak berharap menjadi bagian dari korban broken home ini. Maka, kedekatan dan keharmonisan di dalam keluarga ini dirasa perlu adanya.

Pandemi Korona ini selain menjadi musibah, juga menjadi berkah dan kesempatan tersendiri bagi keluarga yang selama ini sulit berkumpul karena alasan kesibukan pekerjaan di perantauan. Sehingga momen pandemi ini dapat kita lihat dari sudut pandang positifnya juga. Sembari mencari solusi juga menata apa-apa yang selama ini belum tertata di dalam lingkup keluarga. 


Rabu, 26 Agustus 2020

Panduan Mencari Istri Shalihah Menurut Al-Qur’an dan Hadits

 


                Semua makhluk diciptakan Allah di muka bumi ini dengan berpasang-pasangan. Termasuk manusia, diciptakan dari jenis laki-laki dan perempuan. Soal jodoh tentu menjadi rahasia Allah, tak Ada seorang pun yang tahu. Hanya saja manusia bisa berusaha mencari dan berusaha mendapatkannya.

Seorang lelaki yang baik tentu mendambakan istri shalihah. Karena istri shalihah inilah yang akan mampu menciptakan keluarga sakinah, melahirkan, mengasuh dan mendidik keturunannya menjadi anak baik-baik, yang shalih dan shalihah. Allah Swt berfirman

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِي ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًاۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيّٗا كَبِيرٗا ٣٤

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisaa’ : 34)

Bagi seorang laki-laki beriman dalam mencari pendamping hidupnya tentu harus mempunyai pedoman. Saking pentingnya memperoleh istri shalihah ini, Nabi Saw sampai bersabda

“Tidaklah seorang mukmin memperoleh sesuatu yang lebih baik sesudah taqwa kepada Allah Swt selain dari  istri yang shalihah ; jika diperintah ia patuh, jika dipandang menyenangkan, jika diminta untuk menunaikan sesuatu ditunaikannya dengan baik, dan jika suami jauh darinya, dijagalah harta dan harga dirinya.”

Berikut ini adalah beberapa ciri istri shalihah menurut Al-Qur’an dan Hadits Nabi.

1.    Jika diperintah ia patuh

Posisi istri di dalam rumah tangga tentu bukan sebagai pembantu rumah tangga yang selalu siap untuk disuruh-suruh suami maupun untuk mengurus seluruh tugas rumah. Namun adakalanya ketika suami meminta istri dalam suatu hal yang dirasa mampu untuk dilakukannya, istri sebaiknya melakukan dan patuh terhadap perintah tersebut. Selama perintah suami tersebut tidak maksiat dan melanggar agama, maka wajiblah hukumnya seorang istri patuh. Sebagaimana dalam sebuah hadits

“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, lalu istrinya tidak mau menurutinya dan suaminya sepanjang malam marah kepadanya, niscaya dia dilaknat oleh malaikat hingga pagi hari.” (HR. Bukhari Muslim)

2.    Jika dipandang menyenangkan

Siapa sih suami yang ingin memandang istrinya yang acak-acakan dan kurang enak dipandang mata? Tentu semua suami normalnya ingin melihat penampilan istri yang baik dan enak dipandang. Namun dipandang sedap bukan berarti dengan selalu berpenampilan mewah dan merias wajah dengan wah. Penampilan dari sikap yang  baik, tutur kata yang sopan dan bibir yang sering menampakkan senyum pun sudah cukup dan dianggap menyejukkan mata bagi suami. Adakalanya juga seorang wanita merias diri dan berpenampilan menarik di hadapan suaminya. Selama sesuai kondisi dan situasi.

3.    Jika diminta untuk menunaikan sesuatu ditunaikannya dengan baik

Selama perintah dari suaminya baik dan tidak melanggar agama, si istri wajib patuh dan menunaikannya. Termasuk kewajiban melayani hasrat sebagai seorang lelaki. 

4.    Jika suami jauh darinya, dijagalah harta dan harga dirinya.

Suatu ketika suami pergi meninggalkan rumah dan meninggalkan harta bendanya, ia tidak lantas berfoya-foya dan bebas menggunakan harta. Selain itu pula ia mampu menjaga dirinya di hadapan laki-laki lain yang bukan mahramnya. Jangan sampai ketika suami pergi keluar kota  malah istri berkeluyuran kemana-mana dan tidak menjaga harta justru malah menghabiskannya.

“Apabila seorang istri telah mendirikan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, selalu menjaga diri dan menaati suaminya, niscaya dia masuk surga Tuhannya.” (HR. Al Bazaar)

                        Demikian beberapa poin ciri-ciri istri shalihah menurut Al-Qur’an dan hadits. Semoga kita semua senantiasa mendapat kebaikan-kebaikan di dunia maupun di akhirat kelak, termasuk bagi para pembaca jomblowan-jomblowati yang belum menemukan jodoh agar segera dipertemukan dengan jodohnya yang shalih-shalihah dan dapat menuju ke jenjang ke pernikahan hingga membina kehidupan rumah tangga yang sesuai dengan yang diperintahkan agama. Wallahu A’lam. 

Lima hal dalam Makna Lebaran

 


Allahu Akbar
, Allahu Akbar, Allahu Akbar… Laa ilaaha illallah huwallahu akbar… Allahu akbar walillahilhamd.

Suara takbir yang bergema hampir di seluruh tempat menambah indahnya lebaran atau Idul Fitri bagi umat Islam yang merayakannya. Ibadah puasa selama 30 hari lamanya benar-benar telah dijalani dengan harapan agar kembali kepada fitrah, yaitu lahir dan batin menjadi suci tanpa mempunyai dosa sama sekali seperti halnya bayi yang baru lahir. Itulah makna yang terkandung dari Idul Fitri. (‘id=kembali, fitri=kesucian). Allah SWT berfirman,

 قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S As Syams : 9-10)

Selain itu, tradisi lebaran yang identik dengan pakaian yang baru bukanlah hal yang utama. Akan tetapi makna lebaran yang sesungguhnya adalah bertambahnya ketaatan hamba terhadap Sang Pencipta. Seperti maqolah berikut,

Laisal ‘id liman labisal jadiid... Walakinnal ‘id liman tho’atuhu taziid...

“Hari raya bukanlah bagi orang yang berpakaian baru. Tetapi hari raya adalah bagi orang yang ketaatannya bertambah.”

Makna Idul Fitri yang terkandung di dalamnya bisa diaplikasikan pada lima hal yang terangkum dalam “5 L” yaitu : Lebur, Labur, Libur Luber dan Lebar.

Pertama, Lebur. Maksudnya setelah melewati 30 hari berpuasa dengan iimaanan wahtisaaban, maka dosa-doa kita akan lebur atau dimaafkan oleh Allah. Sesuai sabda Nabi yang artinya : “Barangsiapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari)

Kedua, Labur. Maksudnya sebagian masyarakat terutama di negara kita dalam menyambur hari raya biasanya saling menghias rumah dengan mengecat (ngelabur : Jawa) tembok rumah, pagar dan lainnya sebagai tanda suka cita.

Ketiga, Libur. Maksudnya Hari Raya di negara kita sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional, sehingga semua kegiatan seperti kerja, sekolah dan lainnya diberhentikan sementara.

Keempat, Luber. Maksudnya pahala seseorang setelah melewati bulan Ramadhan akan bertambah banyak dan meluap (luber:Jawa). Hal ini karena setiap amal yang dilakukan pada bulan Ramadhan dilipatgandakan.

Kelima, Lebar. Maksudnya telah berakhirnya kita dalam menjalankan ibaddah Puasa Ramadhan, maka kita akan menjadi lebar (bebas). Bahkan dilarang atau haram berpuasa pada hari pertama. Sebagaimana sabda Nabi,

“Sesungguhnya Rasulullah melarang puasa pada dua hari raya, yakni hari raya Idul Fitri dan Idul Kurban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi yang dimaksud di sini adalah orang mukmin yang menjalankan puasa dengan benar, sehingga dapat dikatakan dengan LEBARAN yang memperoleh pahala yang banyak dari ibadah puasa kita selama Bulan Ramadhan, serta bisa mencapai derajat muttaqiin sesuai di dalam firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah:183.

Mungkin ada banyak versi lain mengenai pemaknaan lebaran atau Idul Fitri ini. Namun yang pasti makna mengenai lebaran pastilah mempunyai tujuan agar umat Islam selalu menuju kepada kebaikan-kebaikan. Wallahu A’lam.

Selasa, 25 Agustus 2020

Tradisi Halal Bi Halal

   


                Halal bi Halal adalah bentuk perayaan Idul Fitri dimana umat muslim saling memaafkan atau saling berkunjung ke rumah saudara (silaturrrahim) dan tetangga guna memohon dan memberi maaf yang diteruskan dengan saling berjabat tangan. Tradisi semacam ini sudah melekat dan mengakar di kalangan masyarakat kita berpuluh-puluh tahun lamanya. Tak tahu pastinya kapan. Namun yang jelas tradisi semacam ini sangat sesuai dengan syari’at Islam yang diajarkan para ulama ketika menyebarkan dakwah di penjuru nusantara.

            Istilah Halal bi Halal ini hanya terdapat di Indonesia. Konon, sejarahnya di mulai ketika Presiden Soekarno memerintahkan kepada KH. Wahab Hasbullah, salah satu pendiri NU untuk membuat suatu pertemuan bagi para pejabat beragama Islam di Istana Negara saat Hari Raya Idul Fitri. KH. Wahab Hasbullah memprakarsai acara tersebut dengan istilah halal bi halal. Selanjutnya, istilah tersebut dipakai sampai sekarang.

            Adapun maksud dan tujuan tradisi ini sesuai dengan hadits Nabi SAW berikut,

            “Barangsiapa yang telah menganiaya kepada orang lain baik dengan cara menghilangkan kehormatannya ataupun dengan sesuatu yang lain, maka mintalah halalnya pada orang tersebut seketika itu sebelum adanya dinar atau dirham tidak laku lagi (maksudnya sebelum mati). Apabila belum meminta halal sudah mati, dan orang yang menganiaya tadi mempunyai amal sholeh maka diambillah amal sholehnya sebanding dengan penganiayaannya tadi. Dan apabila tidak punya amal sholeh, maka amal jelek yang dianiaya akan diberikan pada orang yang menganiaya.” (HR. Bukhari)

            Rasulullah SAW juga bersabda,

“Sesungguhnya apabila dua orang Islam bertemu dan kemudian bersalaman, maka gugurlah dosa dari keduanya seperti gugurnya daun dari pohonnya.” (HR. Tirmidzi)

Budaya Silaturrahim atau saling berkunjung ke rumah saudara dan tetangga yang sudah menjadi tradisi di masyarakat kita ini merupakan perintah Allah SWT sebagaimana firmanNya :

وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيَخۡشَوۡنَ رَبَّهُمۡ وَيَخَافُونَ سُوٓءَ ٱلۡحِسَابِ ٢١

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar Ra’d : 21)

Selain itu pula keutamaan silaturrahim sendiri disebutkan dalam sabda Nabi SAW yang berbunyi “Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menghubungkan tali persaudaraan (silaturrahim).” (HR. Bukhari)

“Tidak akan masuk syurga seorang pemutus, yakni pemutus tali persaudaraan.” (HR. Bukhari Muslim). Wallahu A’lam

Rabu, 19 Agustus 2020

Balasan Haji Mabrur Pada Masa Pandemi

  

“Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya selain syurga”

(HR. Bukhari No. 1773 dan Muslim No. 1349)

Ada banyak alasan orang Islam pergi ke Tanah Haramain untuk melaksanakan Ibadah Haji. Baik alasan ukhrawi maupun duniawi. Alasan ukhrawi tentu yang didasarkan pada kewajiban agama, itupun bagi yang sudah mampu melaksanakannya. Alasan ukhrawi yaitu sesuai pada banyak keterangan dalam hadits dan Al-Qur’an. Sedangkan alasan duniawi mungkin saja untuk menambah titel di depan nama atau mendapat status sosial yang lebih tinggi di lingkungan masyarakatnya. Wallahu A’lam. Hanya Tuhan lah yang lebih mengetahui hati manusia.

            Ibadah haji yang diwajibkan bagi orang Islam dan dilaksanakan setahun sekali merupakan sebuah keistimewaan tersendiri. Pasalnya tidak mudah dan tidak murah untuk bisa mencapai tanah suci dan kemudian melaksanakan perintah agama rukun terakhir ini. Biaya yang harus dikeluarkan pun tak sedikit. Juga kondisi fisik pun harus fit dan siap karena ibadah haji adalah ibadah yang lebih banyak menggunakan tenaga ekstra. Rukun ibadah yang berupa fisik seperti sa’i, melempar jumroh, wukuf, mabit, tahallul dan lainnya. Sebagian besar rukun haji adalah menggunakan fisik. Inilah yang memberatkan bagi para orang tua yang berusia lanjut.

            Haji merupakan sebuah kewajiban yang tentunya tidak memaksakan semua umat Islam. Namun dari segi kemampuan juga dipertimbangkan. Inilah yang kemudian dalam ketentuan haji adalah bagi orang yang mampu. Baik dari fisik maupun biaya. Namun ada juga yang mampu keduanya, namun tidak ada niat untuk melaksanakannya. Banyak alasan memang. Mungkin karena sayang terhadap harta bendanya atau hal lainnya. Inilah yang dimaksud dari ‘panggilan ilahi’. Karena panggilan ilahi sendiri berhubungan dengan hati dan hidayah kepada seseorang. Bisa juga dikarenakan hal lain yang lebih rumit seperti kesibukan hidup atau pekerjaan.

            Kebijakan Ibadah Haji Karena Pandemi

            Kegalauan dan kegelisahan mungkin menyelimuti para calon jamaah haji yang akan berangkat di bulan Dzulhijjah tahun ini. Sebagaimana yang telah dimaklumi bersama bahwa dikarenakan pandemi yang melanda dunia, keputusan dari Kementerian Agama di berbagai  negara melarang adanya haji tahun ini. Semua itu demi memutus rantai penularan virus. Terlebih di Haramain adalah tempat bertemunya para jamaah haji dari berbagai belahan dunia. Berjuta-juta orang datang berjubel dan berkerumun. Sehingga dari segi kesehatan potensi penularannya pun lebih tinggi.

            Lalu bagaimana dengan nasib 221 ribu lebih calon jamaah haji Indonesia yang gagal berangkat tahun ini? Karena pemerintah Indonesia secara resmi telah mengumumkan kebijakan ini pada Selasa, 2 Juni 2020 lalu. Bahkan tak hanya Indonesia, calon jamaah haji dari berbagai negara pun mungkin demikian. Apakah calon jamaah haji yang gagal berangkat itu tetap memperoleh titel haji mabrur?

            Nilai dalam Ibadah Haji

            Haji sendiri merupakan ibadah yang sarat akan simbol-simbol dalam ritualnya. Filosofi atau makna dalam berhaji sendiri tidak jauh dengan apa yang menjadi kisah Nabi Ibrahim alaihis salaam. Praktek ibadah haji merupakan manifestasi kehidupan Nabi Ibrahim bersama istrinya Siti Hajar serta putranya Nabi Ismail di Makkah. Seperti misalnya Sa’i merupakan lari-lari kecil Siti Hajar untuk menemukan air dari Bukit Safa dan Marwah. Kemudian melempar Jumroh adalah peristiwa ketika Iblis menggoda Nabi Ibrahim tatkala akan menyembelih putranya sesuai dengan perintah Allah. Iblis menggoda supaya perintah dari Allah tersebut tidak dilaksanakannya. Sehingga sesuai perintah Allah, Nabi Ibrahim melempari Iblis tersebut dengan batu.

            Dalam sebuah hadits Hasan, Syaikh Muhammad Nashiruddin Albani menjelaskan bahwa ciri haji mabrur sendiri ada tiga yang semuanya mengandung pesan sosial bagi sesama. Suatu ketika Nabi Muhammad SAW ditanya tentang kebaikan (Albirru) dalam haji. Beliau menjawab, ith’amut tha’aam (memberi makan), ifsya’us salaam (menebarkan kedamaian) dan thayyibul kalaam (bagusnya perkataan). Pada intinya manusia harus berbuat baik dan bermanfaat bagi sesama. Inilah yang kemudian sebagai para calon jamaah haji yang gagal berangkat tahun ini dapat mengambil makna dalam ibadah haji.

            Sehingga apabila nila-nilai kebaikan (albirru) dalam haji tersebut dapat diemplementasikan dengan memberi makan (ith’amut tha’aam) atau bisa juga pada sektor kesehatan dengan memberikan APD bagi relawan yang menangani pasien di rumah sakit. Sehingga kemudian akan muncul Ifsya’us salaam (menebarkan kedamaian atau keselamatan). Terakhir, thayyibul kalaam (bagusnya perkataan) berarti juga dengan tidak menyebar informasi bohong atau hoax di media sosial.

Kisah Haji Mabrur Karena Berderma

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa pada intinya ada seseorang yang gagal berangkat haji karena ongkosnya diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Namun karena yang dilakukan itu, ia justru menjadi haji mabrur. Bahkan dikarenakan doa orang tersebut, jamaah haji yang lain ikut menjadi haji mabrur pula. Orang tersebut bernama Muwaffaq yang tinggal di Damaskus. Ia hanyalah seorang pedagang sepatu yang mengumpulkan biaya haji selama kurang lebih 40 tahun. Kisah ini diceritakan langsung oleh Muwaffaq kepada Abdullah bin Mubarrak (118-181 H/726-797 M), seorang ulama Marwaz, Khurasan yang mendambakan dua hal dalam ibadah yakni haji dan jihad.

            Di masa pandemi seperti ini, harapan menjadi mabrur bagi para calon jamaah haji bisa saja terwujud jika kita melihat kisah Muwaffaq di atas. Mendapat predikat haji mabrur meski tak jadi berangkat ke tanah suci lantaran lebih mementingkan orang lain yang kelaparan dan kesusahan. Di masa pandemi seperti ini tentu banyak juga orang-orang yang merasa kesusahan dan kesulitan ekonomi. Terutama mereka yang berpenghasilan pas-pasan dan bergantung pada gaji harian. Dampak pandemi ini bahkan dirasakan kalangan menengah ke atas. Apalagi kaum bawah yang ketika hari-hari biasa saja penghasilan mereka sangat minim dan kekurangan.

            Maka dari itu, bagi para calon jamaah haji hendaknya bisa mengambil hikmah akan adanya pandemi seperti ini. Meski belum bisa berangkat tahun ini, alangkah lebih baiknya harta yang ada digunakan untuk menolong sesama di sekitar lingkungan tempat tinggal. Terutama bagi mereka  yang terdampak dan semakin terhimpit masalah ekonomi. Karena jika dilihat dari segi katanya, Mabrur adalah isim maf’ul (objek) dari akar kata albirru yang berarti ‘kebaikan’ sehingga alhajjul mabruru dapat diartikan dengan ‘haji yang diberi kebaikan’. Semoga dengan mengambil semangat kemabruran ini, kita semua mendapat pahala mabrur sebelum atau tanpa haji. Wallahu A’lam.

 
Copyright © 2013 PUJAKESUMA BLOGGER
Design by FBTemplates | BTT