Selasa, 19 April 2022
Jangan Lewatkan Beberapa Amalan Ini pada Sepuluh hari Terakhir Ramadhan !
Senin, 25 Januari 2021
Renungan Manusia dalam Membersamai Semesta (Sebuah Refleksi Awal Tahun)
Minggu, 30 Agustus 2020
Sabar di Tengah Cobaan
Pada zaman dahulu tersebutlah seorang
yang bernama Abul Hasan. Ia pergi haji ke Baitul Haram dan ia melihat sebuah
keajaiban. Sewaktu tawaf, dia tiba-tiba
melihat seorang wanita dengan wajah bersinar dan berseri-seri. Dengan
kagum ia memuji, “Demi Allah saya belum pernah melihat wanita secantik dan
secerah wanita ini, pasti tidak lain ia tidak pernah risau dan susah.”
Rupanya
wanita tersebut mendengar ucapan Abul Hasan, dan lantas ia bertanya, “Apa
katamu, wahai saudaraku? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan duka
cita dan luka hati yang mendalam karena risau”.
Abul Hasan heran, “Lalu
apa yang membuatmu risau, saudaraku?”
Wanita itupun menjawab,
“Suatu ketika suamiku menyembelih kambing qurban dan kala itu aku mempunyai dua
orang anak.”
Saat aku bangun untuk
membuat makanan, tiba-tiba anakku yang besar berkata, “Hai Dik, maukah kamu
saya tunjukkan bagaimana cara ayah menyembelih kambing?” “Baiklah jika begitu,”
Jawab adiknya,
Lalu disuruhlah adiknya
tadi berbaring dan disembelihlah leher sang adik hingga meninggal. Setelah
melihat darah bercucuran, ia disergap perasaan takut yang hebat sehingga
larilah ia ke pucuk bukit dan bersembunyi, tetapi ia di sana malah dimakan
srigala. Lalu ayahnya mencarinya dengan menyusul ke bukit. Setelah sekian lama
mencari-cari anaknya yang tak kunjung ditemukan, akhirnya ia pun mati karena
kelelahan dan kehausan.
Lalu Abul Hasan berkata,
“Bagaimana kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu?”
Wanita itu menjawab,
“Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dan mengeluh, melainkan
ia menemukan di antaranya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan
memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan lebih terpuji akibatnya, Dan
adapun mengeluh, maka seseorang tidak mendapatkan ganti kecuali hanya
kesia-siaan saja.”
(Sumber : Ihya’
‘Ulumiddin)
Sabtu, 29 Agustus 2020
Peran Perempuan Milenial dalam Keluarga
Saat ini, problem gender di Indonesia masih
menjadi pembahasan dan kajian yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Terbukti
dengan adanya polemik Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga belum lama ini
dipandang para aktivis gender seakan mendeskreditkan perempuan. Selain itu pula
RUU ini dianggap terlalu mengatur ranah privat warga negara, terutama yang berhubungan
dengan suami istri (Sumber: kompas.com).
Pasal-pasal yang dianggap ganjil lainnya
seperti kewajiban suami-istri untuk saling mencintai atau kewajiban istri untuk
mengurusi rumah tangga. Banyak orang yang menganggap RUU tersebut tidak akan
menjamin keluarga Indonesia menjadi lebih sejahtera dan bahagia. Namun mungkin
justru sebaliknya, malah membingungkan dan merepotkan. Inilah yang kemudian RUU
tersebut mendapat banyak pertentangan di kalangan aktivis.
Dari segi katanya, ada keistimewaan tersendiri pada kata perempuan ini. Mengapa tidak
menggunakan kata wanita atau cewek atau bahasa selainnya? Kata ‘perempuan’ jika
dipenggal akan menjadi tiga suku kata yakni per-empu-an. Kata ‘Per’ dan ‘an’
dalam tata bahasa Indonesia merupakan kata awalan dan akhiran. Yang mana ‘per’ dan
‘an’ menunjukkan proses pekerjaan. Seperti misal kata Penurunan Bendera artinya
sedang menurunkan bendera atau Pengembalian Hak berarti proses mengembalikan
sebuah hak, dan contoh-contoh lainnya.
Sedangkan kata ‘empu’ sendiri zaman
dulu sudah sangat lazim digunakan pada seseorang yang mampu menciptakan karya.
Semisal Empu Gandring sebagai ahli dalam menciptakan keris. Empu Tantular
dengan Kitab Sutasomanya yang kala itu sebagai kitab undang-undang Kerajaan
Majapahit. Jadi, ‘perempuan’ dapat disimpulkan sebagai seseorang yang memang
ahli dalam menciptakan.
Sehingga kemudian mengapa kata
perempuan ini diartikan sebagai ahli menciptakan atau membuat dikarenakan
perempuan inilah yang memiliki peran sebagai pembentuk kepribadian manusia
(baca; anak). Karena anak yang nantinya bakal menjadi generasi penerus orang
tua, keluarga bahkan bangsa. Maka wajar jika ada maqolah mengatakan Al ummu
madrasatul ulaa Lil Aulaad yang artinya ibu adalah madrasah atau sekolah
pertama bagi anak-anaknya.
Peran perempuan sebagai madrasah
atau pendidik pertama dalam lingkungan keluarga ini tentunya harus
diperhatikan. Jika dilihat dari proses panjang dari masa kehamilan hingga
kelahiran seorang anak tentu sangat panjang dan perjuangannya tidak mudah.
Setelah anak lahir dan beranjak menuju dewasa pun, orang tua (khususnya ibu)
memiliki peran utama. Meskipun saat ini dengan kemajuan dan kemodernan ada yang
bisa menggantikan perannya (misal asisten rumah tangga). Namun tetap saja peran
tersebut tidak bisa tergantikan sepenuhnya.
Sungguh sangat berbeda jika anak diasuh oleh
ibu kandungnya secara langsung dibandingkan dengan asisten . Dimulai dari
memberikan ASI sebagai makanan utamanya, kasih sayang serta ikatan batin antara
ibu dan anak hingga pendidikan semasa bayi. Tentu hasilnya berbeda. Terutama
dari segi karakter si anak.
Ibu Milenial
Istilah Milenial biasanya dilekatkan pada
mereka yang lahir dan berusia produktif pada zaman
penuh kemajuan seperti saat ini. Termasuk yang sudah berperan menjadi ibu. Ditandai dengan
meleknya mereka terhadap media dan sumber-sumber informasi yang semakin
membanjiri manusia milenial kini. Selain menjadi kesempatan, tak terlepas pula
hambatan dan tantangan yang menghadang.
Dari segi kesempatan, sangat mungkin jika para
ibu milenial ini mudah mengakses hal-hal baru dari teknologi setiap hari atau
bahkan setiap detik. Maraknya media sosial semakin memudahkan untuk mencari
berbagai referensi keilmuan. Media sosial pun menjadi kunci utama bagi para ibu
milenial ini. Seperti contoh jika ingin memasak sebuah menu masakan, tak perlu
repot menanyakan pada orang lain. Cukup klik dan mencarinya di Youtube atau
sumber internet lainnya.
Selain kesempatan, hambatan serta tantangan
yang ada juga menjadi masalah serius. Tantangan dalam menghadapi era teknologi
dan informasi yang semakin lama tak bisa dibendung ini bagi mereka yang kurang
selektif dalam memilih dan memilah sumber informasi dan kurang dalam penguasaan
media teknologi. Sebagai contoh, ibu milenial memiliki Smartphone dan
anak akan dengan mudahnya melihat aktivitas keseharian si ibu dengan smartphone
ini. Ini akan bahaya jika suatu waktu si anak ikut memegangnya.
Pengawasan ibu milenial ini selaku pendidik
utama tadi sangat dibutuhkan untuk pengawasan aktivitas anaknya dengan smartphone.
Pengawasan orang tua sangat dibutuhkan untuk memfilter hal-hal yang
cenderung negatif bagi si anak. Jangan sampai si anak mengakses hal-hal yang
kurang bermanfaat, bahkan malah membahayakan. Akan sangat lebih baik lagi jika
anak diarahkan meggunakan smartphone untuk mengakses tentang pendidikan.
Yang tentunya sesuai dengan jenjang usia dan pendidikan si anak.
Perempuan Milenial dan Ketahanan
Keluarga
Kokohnya sebuah negara
ditentukan oleh perempuannya. Jika perempuan sebagai pendidik generasi bangsa
(baca; anak dalam keluarga) itu kokoh dan mampu, berarti suatu negara akan
kokoh pula tiang penyangganya. Lantas di mana letak milenialisme seorang perempuan sebagai ibu dalam lingkungan keluarganya dapat memperkuat
ketahanan keluarga?
Seperti fakta yang ada,
bahwa peran seorang perempuan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tak terlepas
perannya di dalam lingkungan keluarganya sendiri. Kuatnya peran ibu dalam
keluarga ini akan membawa anak
untuk memiliki karakter yang kuat pula. Sehingga diharapkan
jika semua keluarga dalam satu negara dapat memaksimalkan peran mereka mendidik
anak, maka diharapkan dapat membawa
menuju ke arah kokohnya ketahanan dalam keluarganya sendiri. Bahkan bisa
saja pada aspek ketahanan nasional.
Karena sejatinya ketahanan nasional bangsa berawal
dari ketahanan di dalam keluarga. Sebaliknya, jika keluarga
di suatu negara banyak terdapat kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) maka mustahil suatu bangsa akan maju. Bayangkan saja, bagaimana akan
memperkokoh tiang sebuah bangsa, jika menciptakan tiang-tiang keluarga yang kokoh
dan baik saja belum mampu.
Inilah kemudian yang menjadi kegelisahan
bersama. Bahwa di satu sisi ibu milenial memiliki andil besar dalam keluarga,
namun di sisi lain pula dapat membawa keluarga (khususnya anak) dalam jurang ‘malapetaka’
jika tidak tepat dalam memainkan peran sebagai seorang ibu rumah tangga.
Terlebih dalam situasi
pandemi saat ini yang semakin mempersulit keadaan. Baik segi ekonomi maupun
psikologi dalam keluarga. Ini yang menjadi tugas bersama negara dan semua elemen
masyarakat untuk saling bahu membahu menyelesaikan permasalahan saat ini.
Semoga segala
kesulitan dan cobaan bangsa dapat kita lalui
bersama serta senantiasa diberi kesehatan dan kelancaran olehNya. Aamiin.
Kamis, 27 Agustus 2020
Momen Pandemi Yang Merekatkan
Pada setiap
musibah tentu ada hikmah. Pada setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Begitu
pula dengan yang terjadi saat ini. Di saat-saat terjadi musibah yang me ‘nasional’ bahkan mendunia, juga banyak yang merasa
mendapat kemudahan dan berkah tersendiri.
Pandemi berupa Virus Korona ini
memang membuat susah sebagian besar orang. Mulai dari pemerintah hingga
masyarakat bawah. Semua merasa dibuat kewalahan. Para tenaga medis sudah
berjuang mati-matian menyembuhkan pasien yang positif terpapar virus.
Pemerintah dan segenap perangkatnya seperti TNI-Polri-Dokter pun turut membantu dengan segala daya upayanya. Tak luput pula, kita dengan apapun yang bisa dilakukan.
Pandemi ini juga membuat sebagian
orang perantauan memilih pulang ke kampung halamannya. Di satu sisi karena
alasan ekonomi dan di sisi lain mungkin karena kangen
keluarga. Di rumah, selain mengikuti aturan ahli kesehatan dari desa, juga ikut
sedikit-sedikit membantu pekerjaan orang tua. Apapun itu, baik ibu maupun
bapak. Atau bahkan tetap berusaha mengikuti
perkuliahan atau pekerjaan secara Daring (Dalam
Jaringan).
Pulang ke rumah selain tujuan untuk
membantu orang tua, juga ternyata bisa menjadi kesempatan curhat dan merembugkan
berbagai hal. Baik cerita-cerita ketika di perantauan maupun rencana-rencana yang
akan dilakukan selanjutnya. Di saat berkumpul dengan keluarga, bapak dan ibu
saya menanyakan dan ngobrol ringan dengan kami anak-anaknya. Hal-hal
yang diobrolkan pun seperti meliputi proses pendidikan, pekerjaan di perantauan,
jodoh, dan lain sebagainya.
Hal-hal seperti ini dirasa perlu
dalam keluarga. Tanpa bicara dan kehangatan keluarga, terkadang bisa membuat
keadaan kurang harmonis di antara anggota keluarga. Bahkan lebih dari itu
anak-anak bisa saja menjadi liar tanpa arah di perantauan sana. Salah satu manfaat dari adanya
kumpul keluarga ini adalah adanya saling keterbukaan antar anggota keluarga.
Dengan keterbukaan ini diharapkan dapat memberikan gambaran-gambaran tujuan dan
rencana yang akan dilakukan ke depannya lagi. Misal soal pendidikan, pekerjaan,
karir, serta hal lain yang memang perlu dibicarakan dalam lingkup keluarga.
Yang lebih penting dari itu semua
adalah adanya rasa saling mengasihi
antar anggota keluarga. Sehingga tercipta hubungan harmonis dan kedekatan yang
baik. Ini lah yang saat ini banyak hilang di banyak keluarga di mana-mana,
termasuk Indonesia apalagi di Amerika. Banyak contoh dari keluarga yang kurang harmonis dapat menyebabkan anggota
keluarga (dalam hal ini adalah anak) tujuan
hidup maupun dalam menjalani hidupnya kurang lancar dan dipenuhi banyak cobaan
yang beresiko membuat si anak menjadi liar tadi. Meskipun tidak semua orang
pula mengalami hal ini.
Ini biasa disebut dengan broken home atau keluarga buruk. Ada pula
yang keluarganya broken home tetapi dirinya sukses. Ini saya juga tidak
menjamin. Tentu kita semua tak berharap menjadi bagian dari korban broken
home ini. Maka, kedekatan dan keharmonisan di dalam keluarga ini dirasa perlu
adanya.
Pandemi Korona
ini selain menjadi musibah, juga menjadi berkah dan kesempatan tersendiri bagi
keluarga yang selama ini sulit berkumpul karena alasan kesibukan pekerjaan di
perantauan. Sehingga momen pandemi ini dapat kita lihat dari sudut pandang
positifnya juga. Sembari mencari solusi juga menata apa-apa yang selama ini
belum tertata di dalam lingkup keluarga.
Rabu, 26 Agustus 2020
Panduan Mencari Istri Shalihah Menurut Al-Qur’an dan Hadits
Semua makhluk diciptakan Allah di
muka bumi ini dengan berpasang-pasangan. Termasuk manusia, diciptakan dari
jenis laki-laki dan perempuan. Soal jodoh tentu menjadi rahasia Allah, tak Ada
seorang pun yang tahu. Hanya saja manusia bisa berusaha mencari dan berusaha
mendapatkannya.
Seorang lelaki
yang baik tentu mendambakan istri shalihah. Karena istri shalihah inilah yang
akan mampu menciptakan keluarga sakinah, melahirkan, mengasuh dan mendidik
keturunannya menjadi anak baik-baik, yang shalih dan shalihah. Allah Swt
berfirman
ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ
عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ
حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ
فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِي ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ
فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًاۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيّٗا كَبِيرٗا
٣٤
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh
karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian
yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian
dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada
Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah
memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka
nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah
mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan
untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisaa’ : 34)
Bagi seorang laki-laki beriman dalam
mencari pendamping hidupnya tentu harus mempunyai pedoman. Saking pentingnya
memperoleh istri shalihah ini, Nabi Saw sampai bersabda
“Tidaklah
seorang mukmin memperoleh sesuatu yang lebih baik sesudah taqwa kepada Allah
Swt selain dari istri yang shalihah ;
jika diperintah ia patuh, jika dipandang menyenangkan, jika diminta untuk
menunaikan sesuatu ditunaikannya dengan baik, dan jika suami jauh darinya,
dijagalah harta dan harga dirinya.”
Berikut ini adalah beberapa ciri istri shalihah menurut
Al-Qur’an dan Hadits Nabi.
1. Jika diperintah ia
patuh
Posisi istri di dalam rumah tangga tentu bukan
sebagai pembantu rumah tangga yang selalu siap untuk disuruh-suruh suami maupun
untuk mengurus seluruh tugas rumah. Namun adakalanya ketika suami meminta istri
dalam suatu hal yang dirasa mampu untuk dilakukannya, istri sebaiknya melakukan
dan patuh terhadap perintah tersebut. Selama perintah suami tersebut tidak
maksiat dan melanggar agama, maka wajiblah hukumnya seorang istri patuh.
Sebagaimana dalam sebuah hadits
“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, lalu istrinya tidak mau menurutinya dan suaminya sepanjang malam marah kepadanya, niscaya dia dilaknat oleh malaikat hingga pagi hari.” (HR. Bukhari Muslim)
2. Jika dipandang
menyenangkan
Siapa sih suami yang ingin memandang istrinya yang acak-acakan dan kurang enak dipandang mata? Tentu semua suami normalnya ingin melihat penampilan istri yang baik dan enak dipandang. Namun dipandang sedap bukan berarti dengan selalu berpenampilan mewah dan merias wajah dengan wah. Penampilan dari sikap yang baik, tutur kata yang sopan dan bibir yang sering menampakkan senyum pun sudah cukup dan dianggap menyejukkan mata bagi suami. Adakalanya juga seorang wanita merias diri dan berpenampilan menarik di hadapan suaminya. Selama sesuai kondisi dan situasi.
3. Jika diminta untuk
menunaikan sesuatu ditunaikannya dengan baik
Selama perintah dari suaminya baik dan tidak melanggar agama, si istri wajib patuh dan menunaikannya. Termasuk kewajiban melayani hasrat sebagai seorang lelaki.
4. Jika suami jauh
darinya, dijagalah harta dan harga dirinya.
Suatu ketika suami pergi meninggalkan rumah dan
meninggalkan harta bendanya, ia tidak lantas berfoya-foya dan bebas menggunakan
harta. Selain itu pula ia mampu menjaga dirinya di hadapan laki-laki lain yang
bukan mahramnya. Jangan sampai ketika suami pergi keluar kota malah istri berkeluyuran kemana-mana dan
tidak menjaga harta justru malah menghabiskannya.
“Apabila
seorang istri telah mendirikan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan,
selalu menjaga diri dan menaati suaminya, niscaya dia masuk surga Tuhannya.”
(HR. Al Bazaar)
Demikian
beberapa poin ciri-ciri istri shalihah menurut Al-Qur’an dan hadits. Semoga kita semua senantiasa mendapat
kebaikan-kebaikan di dunia maupun di akhirat kelak, termasuk bagi para pembaca jomblowan-jomblowati
yang belum menemukan jodoh agar segera dipertemukan dengan jodohnya yang shalih-shalihah
dan dapat menuju ke jenjang ke pernikahan hingga membina kehidupan rumah tangga
yang sesuai dengan yang diperintahkan agama. Wallahu A’lam.
Lima hal dalam Makna Lebaran
Suara takbir yang bergema hampir di seluruh tempat menambah
indahnya lebaran atau Idul Fitri bagi umat Islam yang merayakannya. Ibadah
puasa selama 30 hari lamanya benar-benar telah dijalani dengan harapan agar
kembali kepada fitrah, yaitu lahir dan batin menjadi suci tanpa mempunyai dosa
sama sekali seperti halnya bayi yang baru lahir. Itulah makna yang terkandung
dari Idul Fitri. (‘id=kembali, fitri=kesucian). Allah SWT berfirman,
قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ
مَن دَسَّىٰهَا ١٠
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan
jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S As Syams : 9-10)
Selain itu, tradisi lebaran yang identik dengan pakaian yang baru bukanlah hal yang utama. Akan tetapi
makna lebaran yang sesungguhnya adalah bertambahnya ketaatan hamba terhadap
Sang Pencipta. Seperti maqolah berikut,
Laisal
‘id liman labisal jadiid... Walakinnal ‘id liman tho’atuhu taziid...
“Hari
raya bukanlah bagi orang yang berpakaian baru. Tetapi hari raya adalah bagi
orang yang ketaatannya bertambah.”
Makna
Idul Fitri yang terkandung di dalamnya bisa diaplikasikan pada lima hal yang terangkum
dalam “5 L” yaitu : Lebur, Labur, Libur Luber dan Lebar.
Pertama,
Lebur.
Maksudnya setelah melewati 30 hari berpuasa dengan iimaanan wahtisaaban, maka
dosa-doa kita akan lebur atau dimaafkan oleh Allah. Sesuai sabda Nabi yang
artinya : “Barangsiapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab
maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari)
Kedua,
Labur.
Maksudnya sebagian masyarakat terutama di negara kita dalam menyambur hari raya
biasanya saling menghias rumah dengan mengecat (ngelabur : Jawa) tembok
rumah, pagar dan lainnya sebagai tanda suka cita.
Ketiga,
Libur.
Maksudnya Hari Raya di negara kita sudah ditetapkan sebagai hari libur
nasional, sehingga semua kegiatan seperti kerja, sekolah dan lainnya
diberhentikan sementara.
Keempat,
Luber.
Maksudnya pahala seseorang setelah melewati bulan Ramadhan akan bertambah
banyak dan meluap (luber:Jawa). Hal ini karena setiap amal yang
dilakukan pada bulan Ramadhan dilipatgandakan.
Kelima,
Lebar.
Maksudnya telah berakhirnya kita dalam menjalankan ibaddah Puasa Ramadhan, maka
kita akan menjadi lebar (bebas). Bahkan dilarang atau haram berpuasa
pada hari pertama. Sebagaimana sabda Nabi,
“Sesungguhnya
Rasulullah melarang puasa pada dua hari raya, yakni hari raya Idul Fitri dan Idul
Kurban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Akan
tetapi yang dimaksud di sini adalah orang mukmin yang menjalankan puasa dengan
benar, sehingga dapat dikatakan dengan LEBARAN yang memperoleh pahala yang
banyak dari ibadah puasa kita selama Bulan Ramadhan, serta bisa mencapai
derajat muttaqiin sesuai di dalam firman Allah SWT dalam QS. Al
Baqarah:183.
Mungkin
ada banyak versi lain mengenai pemaknaan lebaran atau Idul Fitri ini. Namun
yang pasti makna mengenai lebaran pastilah mempunyai tujuan agar umat Islam
selalu menuju kepada kebaikan-kebaikan. Wallahu A’lam.
Selasa, 25 Agustus 2020
Tradisi Halal Bi Halal
Istilah Halal bi
Halal ini hanya terdapat di Indonesia. Konon, sejarahnya di mulai ketika
Presiden Soekarno memerintahkan kepada KH. Wahab Hasbullah, salah satu pendiri
NU untuk membuat suatu pertemuan bagi para pejabat beragama Islam di Istana
Negara saat Hari Raya Idul Fitri. KH. Wahab Hasbullah memprakarsai acara
tersebut dengan istilah halal bi halal. Selanjutnya, istilah tersebut dipakai
sampai sekarang.
Adapun
maksud dan tujuan tradisi ini sesuai dengan hadits Nabi SAW berikut,
“Barangsiapa yang telah menganiaya
kepada orang lain baik dengan cara menghilangkan kehormatannya ataupun dengan
sesuatu yang lain, maka mintalah halalnya pada orang tersebut seketika itu sebelum
adanya dinar atau dirham tidak laku lagi (maksudnya sebelum mati). Apabila
belum meminta halal sudah mati, dan orang yang menganiaya tadi mempunyai amal
sholeh maka diambillah amal sholehnya sebanding dengan penganiayaannya tadi.
Dan apabila tidak punya amal sholeh, maka amal jelek yang dianiaya akan
diberikan pada orang yang menganiaya.” (HR. Bukhari)
Rasulullah
SAW juga bersabda,
“Sesungguhnya
apabila dua orang Islam bertemu dan kemudian bersalaman, maka gugurlah dosa
dari keduanya seperti gugurnya daun dari pohonnya.” (HR. Tirmidzi)
Budaya Silaturrahim
atau saling berkunjung ke rumah saudara dan tetangga yang sudah menjadi
tradisi di masyarakat kita ini merupakan perintah Allah SWT sebagaimana
firmanNya :
وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ
أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيَخۡشَوۡنَ رَبَّهُمۡ وَيَخَافُونَ سُوٓءَ ٱلۡحِسَابِ
٢١
“Dan orang-orang yang
menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka
takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar Ra’d : 21)
Selain itu pula keutamaan
silaturrahim sendiri disebutkan dalam sabda Nabi SAW yang berbunyi “Barangsiapa
ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menghubungkan
tali persaudaraan (silaturrahim).” (HR. Bukhari)
“Tidak akan masuk syurga
seorang pemutus, yakni pemutus tali persaudaraan.” (HR. Bukhari Muslim). Wallahu
A’lam
Rabu, 19 Agustus 2020
Balasan Haji Mabrur Pada Masa Pandemi
“Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya
selain syurga”
(HR. Bukhari No. 1773 dan Muslim No. 1349)
Ada banyak alasan orang Islam pergi ke Tanah
Haramain untuk melaksanakan Ibadah Haji. Baik alasan ukhrawi maupun duniawi.
Alasan ukhrawi tentu yang didasarkan pada kewajiban agama, itupun bagi yang
sudah mampu melaksanakannya. Alasan ukhrawi yaitu sesuai pada banyak keterangan
dalam hadits dan Al-Qur’an. Sedangkan alasan duniawi mungkin saja untuk
menambah titel di depan nama atau mendapat status sosial yang lebih tinggi di
lingkungan masyarakatnya. Wallahu A’lam. Hanya Tuhan lah yang lebih mengetahui
hati manusia.
Ibadah
haji yang diwajibkan bagi orang Islam dan dilaksanakan setahun sekali merupakan
sebuah keistimewaan tersendiri. Pasalnya tidak mudah dan tidak murah untuk bisa
mencapai tanah suci dan kemudian melaksanakan perintah agama rukun terakhir ini.
Biaya yang harus dikeluarkan pun tak sedikit. Juga kondisi fisik pun harus fit dan
siap karena ibadah haji adalah ibadah yang lebih banyak menggunakan tenaga
ekstra. Rukun ibadah yang berupa fisik seperti sa’i, melempar jumroh, wukuf,
mabit, tahallul dan lainnya. Sebagian besar rukun haji adalah menggunakan
fisik. Inilah yang memberatkan bagi para orang tua yang berusia lanjut.
Haji
merupakan sebuah kewajiban yang tentunya tidak memaksakan semua umat Islam.
Namun dari segi kemampuan juga dipertimbangkan. Inilah yang kemudian dalam
ketentuan haji adalah bagi orang yang mampu. Baik dari fisik maupun biaya.
Namun ada juga yang mampu keduanya, namun tidak ada niat untuk melaksanakannya.
Banyak alasan memang. Mungkin karena sayang terhadap harta bendanya atau hal
lainnya. Inilah yang dimaksud dari ‘panggilan ilahi’. Karena panggilan ilahi
sendiri berhubungan dengan hati dan hidayah kepada seseorang. Bisa juga
dikarenakan hal lain yang lebih rumit seperti kesibukan hidup atau pekerjaan.
Kebijakan
Ibadah Haji Karena Pandemi
Kegalauan
dan kegelisahan mungkin menyelimuti para calon jamaah haji yang akan berangkat
di bulan Dzulhijjah tahun ini. Sebagaimana yang telah dimaklumi bersama bahwa
dikarenakan pandemi yang melanda dunia, keputusan dari Kementerian Agama di
berbagai negara melarang adanya haji
tahun ini. Semua itu demi memutus rantai penularan virus. Terlebih di Haramain
adalah tempat bertemunya para jamaah haji dari berbagai belahan dunia.
Berjuta-juta orang datang berjubel dan berkerumun. Sehingga dari segi kesehatan
potensi penularannya pun lebih tinggi.
Lalu
bagaimana dengan nasib 221 ribu lebih calon jamaah haji Indonesia yang gagal
berangkat tahun ini? Karena pemerintah Indonesia secara resmi telah mengumumkan
kebijakan ini pada Selasa, 2 Juni 2020 lalu. Bahkan tak hanya Indonesia, calon
jamaah haji dari berbagai negara pun mungkin demikian. Apakah calon jamaah haji
yang gagal berangkat itu tetap memperoleh titel haji mabrur?
Nilai
dalam Ibadah Haji
Haji
sendiri merupakan ibadah yang sarat akan simbol-simbol dalam ritualnya.
Filosofi atau makna dalam berhaji sendiri tidak jauh dengan apa yang menjadi
kisah Nabi Ibrahim alaihis salaam. Praktek ibadah haji merupakan
manifestasi kehidupan Nabi Ibrahim bersama istrinya Siti Hajar serta putranya
Nabi Ismail di Makkah. Seperti misalnya Sa’i merupakan lari-lari kecil Siti
Hajar untuk menemukan air dari Bukit Safa dan Marwah. Kemudian melempar Jumroh
adalah peristiwa ketika Iblis menggoda Nabi Ibrahim tatkala akan menyembelih
putranya sesuai dengan perintah Allah. Iblis menggoda supaya perintah dari
Allah tersebut tidak dilaksanakannya. Sehingga sesuai perintah Allah, Nabi
Ibrahim melempari Iblis tersebut dengan batu.
Dalam
sebuah hadits Hasan, Syaikh Muhammad Nashiruddin Albani menjelaskan bahwa ciri
haji mabrur sendiri ada tiga yang semuanya mengandung pesan sosial bagi sesama.
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW ditanya tentang kebaikan (Albirru) dalam
haji. Beliau menjawab, ith’amut tha’aam (memberi makan), ifsya’us
salaam (menebarkan kedamaian) dan thayyibul kalaam (bagusnya
perkataan). Pada intinya manusia harus berbuat baik dan bermanfaat bagi sesama.
Inilah yang kemudian sebagai para calon jamaah haji yang gagal berangkat tahun
ini dapat mengambil makna dalam ibadah haji.
Sehingga
apabila nila-nilai kebaikan (albirru) dalam haji tersebut dapat diemplementasikan
dengan memberi makan (ith’amut tha’aam) atau bisa juga pada sektor
kesehatan dengan memberikan APD bagi relawan yang menangani pasien di rumah sakit.
Sehingga kemudian akan muncul Ifsya’us salaam (menebarkan kedamaian atau
keselamatan). Terakhir, thayyibul kalaam (bagusnya perkataan) berarti
juga dengan tidak menyebar informasi bohong atau hoax di media sosial.
Kisah Haji
Mabrur Karena Berderma
Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa pada
intinya ada seseorang yang gagal berangkat haji karena ongkosnya diberikan
kepada orang yang lebih membutuhkan. Namun karena yang dilakukan itu, ia justru
menjadi haji mabrur. Bahkan dikarenakan doa orang tersebut, jamaah haji yang
lain ikut menjadi haji mabrur pula. Orang tersebut bernama Muwaffaq yang
tinggal di Damaskus. Ia hanyalah seorang pedagang sepatu yang mengumpulkan
biaya haji selama kurang lebih 40 tahun. Kisah ini diceritakan langsung oleh
Muwaffaq kepada Abdullah bin Mubarrak (118-181 H/726-797 M), seorang ulama
Marwaz, Khurasan yang mendambakan dua hal dalam ibadah yakni haji dan jihad.
Di
masa pandemi seperti ini, harapan menjadi mabrur bagi para calon jamaah haji
bisa saja terwujud jika kita melihat kisah Muwaffaq di atas. Mendapat predikat
haji mabrur meski tak jadi berangkat ke tanah suci lantaran lebih mementingkan
orang lain yang kelaparan dan kesusahan. Di masa pandemi seperti ini tentu
banyak juga orang-orang yang merasa kesusahan dan kesulitan ekonomi. Terutama
mereka yang berpenghasilan pas-pasan dan bergantung pada gaji harian. Dampak
pandemi ini bahkan dirasakan kalangan menengah ke atas. Apalagi kaum bawah yang
ketika hari-hari biasa saja penghasilan mereka sangat minim dan kekurangan.
Maka dari itu, bagi para calon jamaah haji hendaknya bisa mengambil hikmah akan adanya pandemi seperti ini. Meski belum bisa berangkat tahun ini, alangkah lebih baiknya harta yang ada digunakan untuk menolong sesama di sekitar lingkungan tempat tinggal. Terutama bagi mereka yang terdampak dan semakin terhimpit masalah ekonomi. Karena jika dilihat dari segi katanya, Mabrur adalah isim maf’ul (objek) dari akar kata albirru yang berarti ‘kebaikan’ sehingga alhajjul mabruru dapat diartikan dengan ‘haji yang diberi kebaikan’. Semoga dengan mengambil semangat kemabruran ini, kita semua mendapat pahala mabrur sebelum atau tanpa haji. Wallahu A’lam.








