BREAKING
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Agustus 2020

Redup Cahya Ramadhan

 

 

Ramadhan,

Meski sunyi sepi redup, cahyamu masih tetap meneduhkan

Menyejukkan nan menenangkan

Bagi setiap insan yang rindu kedamaian

Meski sepi dari keramaian, pesonamu tetap mengkhusyukkan

Tarawih tetap berjalan syahdu, meski ada sedikit pilu

Alunan tadarus samar-samar mengalun merdu

Insan mengayun tasbih pada kedalaman palung dzikir

Mengingat dosa mengenang khilaf yang telah lalu

Menjemput malam seribu bulan mengharap ampunan

Menggapai anugerah dan sejuta berkah

Tiada lain, karena cahya ramadhanMu

Dalam sepuluh terakhirku, melangitkan pinta

Harapan dan asa yang kugantung di sana

Semoga kembali bertemu dalam indahnya cahya ramadhanMu

Karena obat sebuah semua rindu hanya butuh temu

Ilahi Rabbi, ampuni dosa-dosaku

dan dosa semua insan di dunia

Rabbii… Ighfirlana Dzunubanaa

 

Bina Karya Darussalam, Jum’at 22 Ramadhan 1441 H – 15 Mei 2020 M

 

 

Jumat, 14 Agustus 2020

Cemara Kehidupan

 



Apa yang lebih berharga dari sebuah keluarga?

Apa yang lebih bermakna dari sebuah cinta?

Lalu, apa yang lebih dekat dari sang Pencipta?

Apa lagi?

 

Saat semua dirundung nestapa

Akankah kita masih peduli dengan yang sedang menahan lara?

Akankah kita kan tetap peduli meski cobaan melanda jiwa raga?

Melanda yang ada di kepala dan di balik dada

 

Ya, di saat pandemi ini memporak porandakan semua

Tak peduli tua atau muda

Remaja maupun dewasa

Bapak, ibu atau bahkan yang tua renta

 

Pandemi pun menyerang tak pilih pilih agama

Semua sama, di mata Sang Corona

Tak peduli ia rakyat jelata atau bahkan pejabat negara

Juga tak memandang kapan dan di mana

 

Hanya kita.

Hanya kita semua.

Hanya kita semua yang harus peduli sesama

Tak hanya diri pribadi dan keluarga

 

Jika mampu dan bermanfaat tuk sesama, mengapa tak direlakan saja?

Jiwa dan raga kita kerahkan semua

Indonesia saat ini butuh kita

Kepedulian semua elemen masyarakat dan bangsa

 

Terima kasih para relawan kesehatan

Yang berjuang dan berkorban

Tetap bertahan di tenda tenda darurat peperangan

Walau harus rela tak pulang lebaran dan ikhlas tak jumpa handai taulan

Engkau bergerak di garda terdepan

Sementara kami 'seharusnya' tetap di rumah sebagai tanda bertahan

Tak perlu egois keluyuran malam

Berkerumun tanpa kepentingan yang begitu mengharuskan

 

Terima kasih tuk para aparat pemerintah

Pun pada semua yang terlibat supaya korban tak terus bertambah

Juga para birokrat yang sudah membuat kebijakan dengan susah payah

Yakin saja Indonesia akan terarah

 

Terima kasih juga para masyarakat Indonesia

Yang sudah patuh pada aturan negara

Atau mengindahkan fatwa para ulama

Serta yang sayang pada sanak keluarga

 

Kalian pun adalah pahlawan

Tanpa perlu banyak berkelana kemana mana

Meski dengan sederet sebutan

Termasuk sebutan masyarakat milenial, kaum rebahan

 

Hanya kebersamaan kita lah yang mampu memutus rantai penularan

Kepedulian dan keseriusan kita bersama yang perlu dikedepankan

Hapus semua rasa keegoisan

Yang dengan bebas berkegiatan seperti tanpa beban

 

Dengan tetap selalu berdoa pada Tuhan

Semoga pandemi ini segera menghilang

Hingga dunia kembali tersenyum penuh kegembiraan

Menyambut dunia baru dengan sejuta hal yang berbau kebaikan

 

Yah, kebaikan-kebaikan yang telah diajarkan selama karantina total

Mencuci tangan, memakai masker dan menjaga kebersihan

Saling 'bergandeng tangan' meski tanpa sentuhan

Tetap tersenyum meski tak perlu berdekatan

 


 

Menjaga silaturrahim walau tanpa pertemuan

Bertambah produktif, kreatif serta inovatif dalam mengarungi kehidupan

Tak gentar walau ombak deras menerjang

Itulah hal-hal baik tuk dilestarikan

 

Meski dunia dan kita semua sedang susah

Bukan lantas kita berputus asa dan pasrah

Kita masih punya Tuhan tuk berkesah

Masih punya saudara tuk saling memberi senyuman cerah

 

Sejuta semangat tuk kita yang tak pernah mudah menyerah

Masih ada sejuta harapan tuk kembali menikmati senyum yang merekah

Dengan tetap bergandeng tangan mengurai kusutnya jerih payah

Pun jua pada Tuhan, tangan yang senantiasa bertengadah

 

Saudara dalam kemanusiaan

Saudara dalam berkebangsaan

Pun saudara dalam perjuangan

Demi merengkuh kembali cemara kehidupan

 

 

*)Sekilas Biodata Penulis

 

Namanya Charismanto. Biasa dan bisa juga dipanggil Charis atau Aris. Alamat emailnya adalah charismanto45@gmail.com. Nomor WhatsApp yang bisa dihubungi 082220541329. Selain itu pula memiliki akun Instagram charis.21. Alamat tempat asalnya yaitu di Ds. Bina Karya Dusun II, Blok B Kec. Karang Dapo, Kab, Musi Rawas Utara, Sumsel. Sedangkan domisili saat ini adalah di Jl. Babaran Gg. Cemani No.759, UH/V P, Kalangan Pandeyan, Umbulharjo, Yogyakarta. Terima kasih

Salam literasi, khususnya untuk para penikmat puisi JJJ

 

 

 

Selasa, 25 Juli 2017

Kau Puisi


(Oleh : Sang_jejak)

Kau, begitu dalam
Tak pernah sampai aku menyelam
Selaksa kedalaman makna sebuah puisi
Yang tak pernah mampu kuresapi
Kau adalah sastra
Sulit diurai dan dicerna secara bahasa
Namun bagiku selalu saja berarti
Sambil terus menari dalam naluri
Kau itu bagai rima
Selalu memberi keindahan dalam bait-bait kehidupan
Dalam kehadiran maupun ketiadaan
Meski harus kurekam dalam keimajinasian
Kau itu puisi
Mampu menampung rasa kesunyian
Dalam bait-bait dan sajak yang penuh arti kerinduan
Yang mungkin tak pernah bisa kau sebut indah dalam setiap tidurmu
Mungkin terlalu dalam untuk ku bisa menyelam
Di dasar palung samudera harapan
Kau tenggelamkan aku dalam kedalaman
Karena kau, PUISI



Hotel Bintang Fajar, 13 Juli 2017
Charismanto (13210095)

Visit my blog : www.jejakauthor.blogspot.co.id

Rabu, 12 Juli 2017

Pulang dan Kerinduan


Apa yang kau tahu tentang Pulang?
Ini bukan soal uang atau menang di perantauan
Apa yang kau tahu tentang Kerinduan?
Ini bukanlah soal siapa yang kau sayang
Semua ini tentang pulang dan kerinduan seorang anak rantau di pulau seberang
Yang tak mesti membawa uang atau perihal kemenangan
Justru pulang dan kerinduanlah yang jadi uang dan kemenangannya
Bisa pulang berarti menang
Tak membawa uang bukan berarti tak pernah berjuang di perantauan
“Pulang malu tak pulang rindu”
Kalimat itu yang menjadikan hati gundah gulana
Deretan kata itu pula yang seakan menjadi rasa takut yang menyerang
Dengan peluru-peluru tekad membulat dalam dada yang selalu membara
Meski kelam menyambut di pelataran
Ia tetap berharap kelam datangkan mendung, lalu hujan
Tuk basahi jiwa-jiwa yang sedang dirundung malang dan bimbang
Memilih pulang atau tetap berada di negeri orang
Akhirnya, ia pulang dengan sejuta kerinduan
Disambutlah dengan penuh kasih sayang
Oleh sosok yang tak pernah lelah berjuang
Ia sebut sosok itu dengan nama IBU, sepanjang zaman...

Bina Karya, #duasyawalempatbelastigadelapanhijriah

#mogaberkah

Minggu, 18 Juni 2017

Ketika Cinta tak Terbalas




Sepercik harapan kutorehkan.
Selaksa naluriku bergeming.
Asapun terkoyakkan.
Menunggu penantian cinta yang tak usai.
Terjerembabku dalam kubangan rindu.
Menyendiri tak diharapkan.
Hati yang meronta dalam fatamorgana cinta.
Cinta kasih yang tak sampai.
Lantas kapankah cinta hadir mengetuk sanubari ini ?
Hanya aku dan Dialah yang tahu.
Betapa besarnya hamparan kerinduan cinta kasih tak terbalas.
Merintih tiada kusesali lagi

Oleh : Ikhsan Ardi (grup WhatsApp "Ayo Menulis")
Pekanbaru, 18 Juni 2017

Rabu, 14 Juni 2017

Aku Ingin Berkelana




Aku ingin berkelana..

Bukan karena apa apa..

Hanya saja, aku ingin tahu..

Seluas apa tanah nusantara

Bahkan dunia..

Memuji besarnya ciptaan-Mu


Aku ingin berkelana..

Menghirup udara pada setiap tempat

di belahan bumi pertiwi

Menjejakkan kaki di setiap ranah yang berbeda

Mencium harumnya tanah dan air pusaka


Aku ingin berkelana...

Mengejar asa, menemukan cita

Bahkan tak dipungkiri pula, cinta

Yah, cinta. (Masih) cinta manusia biasa


Aku ingin berkelana...

Menemukan hal baru yang belum pernah ada dalam hidupku

Menyendiri, sembari memuji kebesaran ciptaan-Mu

Dalam relung kalbu, aku merindu.


Aku ingin berkelana...

Entah mengapa, hati serasa hampa

Teramat sesak di dada

Semoga Dia tunjukkan jalanNya

Minggu, 04 Juni 2017

Sajak Pencari Cinta




Ingin kucari cinta namun yang kudapat justru gundah gulana...

Kucari seorang kasih tetapi perih yang yang kuraih...

Ku berharap sebuah sayang, namun justru diri seakan terbuang...

Mengapa gerangan??

Mungkin karena cinta, kasih dan sayang adalah kebutuhan seorang hamba...

Bukan untuk sang Pencipta...

Baiklah, jikalau begitu ku tak kan terlalu berharap pada cinta. Aku kan menggantungkan cita-cita dengan pena...

Dengan pena, ku kan melanglang buana mengelilingi dunia. Mencari yang lebih bermakna pemberian Sang Maha Kuasa...

LQ Jannaty, Jogja City 1438 H

Jumat, 02 Juni 2017

Kala ...



Kala kau duduk di sampingku..
Getaran itu semakin menjadi..
Menggebu, dalam kalbu...
Bungkam bibirku..
Kaku tubuhku..
Terpaku diriku..

Masih terpana mataku...
Menatap teduhnya parasmu...
Ingin ku berucap, namun bibir ini hanya membisu..
Mengapa malu saat ada temu, namun rindu melanda saat kau sudah berlalu..

Ah, kala itu..
Mungkin ini hanya soal waktu.

*JOGJA.12042017*

Minggu, 10 Agustus 2014

Sedikit Puisiku

 `Jatidiri`

                 (*Charis’21)

Tak tahu siapa
Tak tahu bagaimana
Bahkan ku tak tahu haruskemana
Bagai sang nahkoda
Yang berlayar mengarungi luasnya samudera
Tanpa kompas tanpa peta
Terombang ambing tak terarah
Pun dihantam ombak yang murka
Tak tahu dimana kapalku harus berlabuh
Hingg aku tersadar
Harus ku temukan jati diri
Bahwa siapa sebenarya diriku
Bagaimana aku
Dan harus kemana aku

 
Copyright © 2013 PUJAKESUMA BLOGGER
Design by FBTemplates | BTT