BREAKING

Selasa, 04 Juni 2024

Semangat Kreativitas Anak Bangsa Sukses Membangun Negeri

(Sebuah Refleksi Jejak Dedikasi JNE dalam Nadi Kehidupan Sosial Masyarakat Nusantara)

Oleh Charismanto*

Ilustrasi: https://www.jne.co.id/


"Berbagi, Memberi dan Menyantuni”. Itulah tiga kata filosofis yang telah ditanamkan Alm H. Soeprapto Soeparno sejak lahirnya JNE. Tiga kata yang senantiasa terpatri kuat dalam budaya perusahaan. Sebagai pendiri, H. Soeprapto Soeparno memiliki peran penting dalam meletakkan dasar pemikiran di balik banyak kegiatan sosial JNE. Semangat filosofis ini telah menjadi fondasi budaya perusahaan yang kuat di sepanjang sejarahnya. Perjalanan panjang telah dilalui, rintangan dan hambatan pun telah dilewati. Kini, JNE akhirnya mampu mencapai puncak kesuksesannya. Selama tiga dekade terakhir, JNE mengalami proses jatuh-bangkit dan pasang-surut dalam melayani masyarakat. Berbagi, memberi, dan menyantuni; tiga prinsip inilah yang mendorong JNE untuk senantiasa hadir dan aktif dalam bidang kemanusiaan. Melalui program-programnya, JNE secara konsisten peduli terhadap anak yatim, fakir miskin, dan dhuafa. Tak lupa, JNE juga memberikan perhatian khusus terhadap korban bencana serta masalah-masalah kesehatan, pendidikan, dan pangan. Tentu, dengan bekerjasama dengan berbagai pihak.


Menilik JNE dalam Rentang Sejarah

Tiga dekade silam, JNE resmi lahir. Tepatnya pada tanggal 26 November 1990. Semula bernama PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir. Empat tahun kemudian, yakni pada tahun 1994, JNE mulai merintis layanan pengiriman domestik di Jl. Tomang Raya No. 3, Jakarta Barat. Baru pada tahun 1995, dengan keberadaan warung telekomunikasi (Wartel) yang mulai menjamur di masyarakat, JNE mulai memperkenalkan sistem drop point atau agen pengiriman “Takuhaibin”. Selanjutnya, pada tahun 2000, JNE merilis logo barunya. Kemajuan internet pun mulai dirasakan masyarakat, sehingga banyak transaksi penjualan secara daring (dalam jaringan). Jam operasional JNE pun ditingkatkan menjadi 24 jam.

Inilah yang kemudian membuat JNE semakin popular di kalangan pelaku bisnis online. JNE juga membangun pusat sortir otomatis berskala besar (Mega Hub) di Bandara Mas, Cengkareng, Tangerang. Mega Hub ini diproyeksikan mampu memproses lebih dari 1juta paket dalam sehari. Perjalanan panjang JNE sampailah pada layanan baru pada tahun 2022 yang bernama Roket Indonesia. Roket Indonesia yaitu layanan kurir instan berbasis aplikasi yang menjamin estimasi pengantaran sampai dalam waktu 1 jam. Layanan ini bahkan sudah tersedia di 54 kota atau Cabang JNE. [1]

Puncaknya, pada tahun 2022 JNE menerima penghargaan Indonesia Best 50 CSR Courier Service Category 2024 dari The Iconomics.[2] Bukan tanpa alasan, JNE pantas menerima penghargaan bergengsi tersebut lantaran inovasi dan terobosan – terobosan program CSR yang dilakukan oleh JNE selama ini. JNE dinilai mampu menjalankan program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai tujuan bisnis berkelanjutan. Dengan diraihnya penghargaan tersebut, maka selaras dengan tagline utama perusahaan “Connecting Happiness”. Yang artinya, JNE memiliki cita-cita untuk menghubungkan kebahagiaan masyarakat hingga ke pelosok negeri.[3]

Selama lebih dari tiga dekade, perusahaan yang bermarkas di Jakarta Barat ini kini tumbuh menjadi penyedia layanan pengiriman ekspres terbesar di Indonesia, mencakup lebih dari 83 kota. Untuk mendukung jangkauan layanannya yang luas, JNE kini menyediakan lebih dari 8.000 titik penjualan dan didukung oleh lebih dari 50.000 karyawan.[4]


Kurnia Nugraha selaku Head of Media Communication JNE menerima penghargaan Indonesia Best 50 CSR Awards 2024, yang diserahkan oleh Bram S. Putro selaku Founder & CEO The Iconomics (dua dari kiri), Alex Mulya selaku Director of Brand, Research and Strategy The Iconomics (pertama dari kiri), Arif Hatta Managing Editor The Iconomics (keempat dari kiri) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat (7/5). Foto: IST.


Dedikasi JNE dalam Berbagai Nadi Kehidupan Sosial

Sebagai salah satu perusahaan logistik terkemuka di Indonesia, JNE bukan sekadar memiliki nama besar dalam dunia pengiriman barang. Lebih dari itu, JNE telah merajut kisah panjang dengan dedikasinya dalam memperkuat serta menghubungkan berbagai nadi kehidupan sosial di seluruh penjuru Nusantara. Dengan semangat pengabdiannya, JNE telah membawa perubahan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Melalui program-programnya, JNE mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat, JNE menjadi salah satu elemen penting dalam menyokong kemajuan sosial di Indonesia.

Salah satu wujud nyata dari dedikasi JNE terhadap berbagai nadi kehidupan sosial adalah melalui program-program kemanusiaannya. JNE hadir sebagai mitra yang turut berperan dalam membantu mereka yang membutuhkan, baik melalui bantuan untuk korban bencana alam, dukungan terhadap anak-anak yatim, hingga upaya pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah.

Dedikasi Dalam Aspek Pendidikan

Salah satu dedikasi JNE untuk negeri adalah dalam aspek layanan pendidikan. Dengan menyediakan layanan pengiriman yang cepat dan handal, JNE membantu memastikan bahwa materi pendidikan dapat diakses oleh semua orang, terlepas dari lokasi geografis mereka. Hal ini memainkan peran krusial dalam meningkatkan kualitas pendidikan di berbagai daerah di Indonesia. Sebagai salah satu contoh, JNE pernah menjadi mitra dalam kegiatan pengiriman Perangkat Program Fasilitas Penunjang Riset milik Kemendiktiristek.[5]

Pada 29 Januari 2023 lalu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi menyerahkan hibah fasilitas penunjang riset bidang inovasi pembelajaran kepada 124 perguruan tinggi. Salah satunya adalah Sekolah Tinggi Maritim Yogyakarta (STIMARYO) yang terletak di Jl. Magelang 4.4 Pos 42 Tromol, Kutu Dukuh, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari pihak JNE sendiri diwakili oleh Head Regional Jateng-DIY, Marsudi. Tentu masih banyak lagi sumbangsih JNE untuk pendidikan anak negeri yang tak dapat disebutkan satu persatu dan secara detail di sini.

Para dosen Sekolah Tinggi Maritim  Yogyakarta (Stimaryo) mendengarkan pengarahan saat acara penyerahan dan peresmian bantuan pengadaan Smart Classroom di kampus Stimaryo di Jalan  Magelang 4.4 Pos 42 Tromol, Kutu Dukuh, Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa  Yogyakarta, Jumat (27/1/2023). Foto: IST.

Dedikasi dalam Aspek Kesehatan

Pada akhir bulan Desember 2019 lalu, virus Covid-19 pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok. Dalam tiga bulan selanjutnya, WHO menyatakan pandemi Covid-19 pada Maret 2020. Pada Juni 2020, virus tersebut menyebar secara global, menimbulkan kekacauan di berbagai sektor, terutama kesehatan dan ekonomi. Namun, seiring dengan penurunan kasus Covid-19, dampaknya secara bertahap membaik. Aktivitas ekonomi masyarakat pun mulai pulih.[6]

Dalam aspek kesehatan, JNE sebagai perusahaan ekspedisi pun menghadirkan berbagai program untuk memudahkan masyarakat. Penggunaan media daring yang masif saat itu menjadikan inovasi bagi JNE untuk memberikan pelayanan dalam bentuk daring pula. JNE sendiri memiliki produk dan layanan secara garis besar terbagi dalam empat divisi, yakni JNE Express, JNE Logistic, JNE Freight, dan JNE International.


Ilustrasi JNE pasca pandemi. Foto : Hasil desain canva.com. Footer : freepik.com

Dengan berbagai layanan logistik dan ekspedisi sekaligus didukung dengan adanya sistem digital handal ini, menjadikan masyarakat sangat terbantu untuk berkirim barang antar daerah di Indonesia. Prestasi JNE dalam aspek pelayanan digital ini dibuktikan dengan diraihnya penghargaan Inovasi Digital dari Indonesia Digital Ecosystem Summit (IDES) 2023.[7]

Dedikasi Dalam Aspek Sosial dan Kemanusiaan

Selain menjadi tulang punggung dalam rantai pasokan barang dan layanan, JNE juga turut serta dalam mendukung kegiatan sosial dan kemanusiaan. JNE seringkali menjadi mitra dalam pengiriman barang amal, bantuan kemanusiaan, dan dukungan logistik untuk kegiatan-kegiatan sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, JNE tidak hanya menjadi agen perubahan dalam dunia bisnis tetapi juga dalam memperjuangkan kebaikan sosial dan kemanusiaan.

Salah satu contoh peran JNE dalam aksi kemanusiaan adalah penyaluran bantuan untuk korban Bencana di Sumatera Barat pada 28 Mei 2024 lalu. Dilansir dari sumbarsatu.com, JNE menyalurkan bantuan untuk korban banjir lahar dingin dan longsor di Batungsangkar, Sumbar.[8] Selain kepeduliannya di dalam negeri, JNE juga turut berpartisipasi dalam memberikan bantuan kemanusiaan di taraf Internasional. 

JNE menyalurkan bantuan kepada rakyat Palestina. Sebagaimana kita ketahui bersama, Palestina saat ini sedang menghadapi penderitaan yang sangat besar. Kekejaman Zionis membuat pilu kita semua selaku ummat manusia di dunia, terutama terhadap perempuan dan anak-anak. Ini bisa dikatakan sebagai kejahatan perang terburuk dalam sejarah.[8] Menurut laporan Antara News, jumlah korban sudah mencapai 33ribu jiwa lebih per April 2024, termasuk di antaranya perempuan dan anak-anak.[9]




JNE menerima penghargaan Kolaborasi Palestina dan Tokoh Pemberdayaan, yang diberikan kepada 
Mohamad Feriadi Soeprapto selaku Presiden Direktur JNE Express, Kamis (1/2/2024). Foto: IST.

Terlepas dari perbedaan agama, donasi kemanusiaan ini diharapkan dapat meringankan beban saudara-saudara kita di Palestina. Dilansir dari situs resmi Baznas (Bazis) DKI Jakarta, JNE telah memberikan donasi sebesar Rp673,78 juta.[10] Dana tersebut dikumpulkan dari seluruh karyawan JNE di seluruh Indonesia melalui Baznas (Bazis) DKI Jakarta. Dikutip dari Situs Website Radar Bali, JNE pun menerima penghargaan Sebagai Tokoh Pemberdayaan dan Kolaborasi Palestina di Ajang Public Expose Rumah Zakat 2024.[11] 

Motivasi dan Inovasi Tanpa Batas dari JNE Untuk Generasi Emas

Inovasi yang dicontohkan dari perjalanan panjang JNE ini bukan sekadar tentang pengiriman paket, tetapi juga tentang mewujudkan impian dan memotivasi generasi emas bangsa mendatang. Dalam era di mana perubahan menjadi konstan, semangat inovatif JNE adalah pendorong utama di balik kemajuan bangsa. Dengan teknologi canggih dan komitmen terhadap pelayanan terbaik, JNE telah memperluas horison logistik di Indonesia saat ini.

Lebih dari sekadar perusahaan, JNE bisa diibaratkan pahlawan bagi para pebisnis muda dan pelaku industri kreatif. Mereka tidak hanya mengirimkan paket, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa tak ada batas untuk apa yang dapat dicapai”. Inspirasi ini membangkitkan semangat kewirausahaan dan kemajuan dalam masyarakat, membangun fondasi bagi generasi emas bangsa untuk mengukir sejarah baru.

Kita semua, sebagai anak bangsa diharapkan untuk dapat melanjutkan semangat inovasi tanpa batas ini. Jangan sampai kita hanya menjadi saksi, tetapi juga agen perubahan yang berkontribusi dalam membangun masa depan yang lebih cerah. Bersama-sama, mari kita terus menginspirasi dan memotivasi satu sama lain untuk mengejar impian, mengatasi batasan, dan menciptakan dunia yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Terakhir, ucapan terimakasih, atas kesempatan yang diberikan untuk ‘berbagi’ melalui tulisan ini. Mari bangkit dan terus bekerja keras dengan semangat 33 Tahun JNE, Gasss Terus Semangat Kreativitasnya! 


#JNE #ConnectingHappiness #JNE33Tahun #JNEContentCompetition2024 #GasssTerusSemangatKreativitasnya

 

*) Penulis saat ini berprofesi sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lingga. Pernah berkecimpung dalam dunia tulis-menulis saat masih duduk di bangku sekolah-kuliah-pasca kuliah juga di berbagai kesempatan dan media. Serta sedang terus berupaya menjadi seorang ayah dan suami yang baik dari anak-istri tercinta.



[1] https://www.jne.co.id/profil-perusahaan#:~:text=Berdiri%20pada%20tanggal%2026%20November,dari%20luar%20negeri%20ke%20Indonesia.

[2]  https://pressrelease.kontan.co.id/news/jne-raih-penghargaan-the-iconomics-indonesia-best-50-csr-awards-2024-courier-service#:~:text=JNE%20meraih%20penghargaan%20sebagai%20Indonesia,Category%202024%20dari%20The%20Iconomics.

[3] https://pressrelease.kontan.co.id/news/jne-raih-penghargaan-the-iconomics-indonesia-best-50-csr-awards-2024-courier-service

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/JNE

[5] https://metrosemarang.com/2023/01/29/jne-jadi-mitra-pengiriman-perangkat-program-fasilitas-penunjang-riset-kemendiktiristek/

[6] https://kumparan.com/mastop-giripurno/bangkit-bersama-jne-di-era-pasca-pandemi-covid-19-20P6VmwQ6EC/full

[7] https://ekbis.harianjogja.com/read/2023/11/15/502/1155109/jne-raih-penghargaan-inovasi-digital-dari-indonesia-digital-ecosystem-summit-2023

[8] https://sumbarsatu.com/berita/31301-jne-peduli-bencana-sumbar-salurkan-bantuan

 [9] https://www.kompas.id/baca/internasional/2023/12/22/sulit-sekali-menghitung-korban-perang-gaza-yang-lebih-buruk-dari-perang-dunia-ii

[10] https://www.antaranews.com/berita/4045821/jumlah-warga-palestina-yang-tewas-di-gaza-tembus-33000-orang

[11] https://m.beritajakarta.id/read/134109/baznas-bazis-dki-terima-donasi-pt-jne-untuk-palestina

[12] https://radarbali.jawapos.com/ekonomi/704153241/jne-terima-penghargaan-sebagai-tokoh-pemberdayaan-dan-kolaborasi-palestina-di-ajang-public-expose-rumah-zakat-2024





Senin, 20 Maret 2023

Refleksi dan Instropeksi Akhir Tahun (Sebuah Kilas Balik Momen di Tahun 2022)

 


Setiap detik, bahkan setiap waktu, dari dulu hingga kini, tentu bumi masih terus berputar. Buktinya dapat kita lihat dengan mata kepala kita sendiri. 

Matahari masih terbit dari Timur dan begitu pula tenggelamnya, masih sama, di bagian Barat sana. Langit  menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan berbagai macam tanaman. Meskipun berbagai sikap manusia berbeda-beda dalam menyikapinya. 

Tuhan sang pemilik alam masih memberikan sepercik kasih sayangnya kepada kita. Sepercik kasih sayang yang bagi kita tiada terhingga nilainya. Terutama nikmat kesehatan dalam menjalani kehidupan.

Tulisan ini ditulis dengan jemari yang sedikit kaku karena sudah begitu lama tak pernah menari di atas keyboard. Otak yang masih beku untuk diajak menata kata. 

Serta mata yang semakin sayu dimakan waktu. Waktu yang kian malam kian syahdu. Meski hati ini sendu, semoga tetap tegar tak lekang oleh waktu.

Kawan, entah apa maksud dan tujuanku menulis ini. Namun sudilah kiranya kawan membaca sejenak celotehan jemari yang menurutku kaku dan beku tadi. Semoga kawan-kawan pembaca tak marah padaku. Hehehe.

Kawan, deretan kata dan kalimat ini aku tulis di penghujung bulan tahun ini. Ya, bulan Desember. Di akhir tahun ini, aku hanya ingin menulis. 

Entah apa yang ada di dalam tulisan ini. Harapanku, semoga bermanfaat. Itu saja. Andaikan tidak penting, diabaikan juga tidak apa.

Kawan, di akhir tahun ini sudahkah kawan-kawan semua menyadari dan instropeksi diri? Atau dalam bahasa Syar’i-nya ‘Muhasabah.’ Jika sudah, alhamdulillah. 

Bagi yang belum, marilah segera bersama-sama kita instropeksi atau bermuhasabah diri. Akupun demikian. Melalui tulisan ini, aku sedang menyuguhkan kata-kata dan kalimat yang sesungguhnya adalah inntropeksi bagi diriku sendiri.

Kawan, di setiap penghujung biasanya kita akan melihat sebentar perjalanan yang sudah kita lalui di belakang. Perjalanan panjang selama setahun penuh dari Januari hingga bulan ini, Desember. 

Tentu kawan semua tidak mudah melewatinya. Penuh perjuangan dan air mata, mungkin. Kaki yang sudah semakin lelah karena harus berjalan. 

Tubuh yang mungkin juga hampir menyerah karena dihantam badai hidup. Hati yang hampir patah karena keadaan yang kian lama kian tak menentu. 

Tapi, semua itu akan kita istirahatkan sebentar. Untuk mengawali tahun depan yang juga tidak mudah.

Kawan, mari kita bersama-sama bersyukur kepada Sang Pencipta. Sang Pemilik alam semesta dan juga diri ini sepenuhnya. 

Karena hanya atas ridhoNya semua akan berjalan dengan baik dan tanpaNya kita hanyalah butiran debu tiada berdaya. Syukur berarti tidak mengeluh terhadap segala ketentuanNya. 

Meskipun tingkatan syukur setiap hamba berbeda-beda. Syukur paling tinggi adalah ketika mendapat musibah namun justru bersyukur. Yang biasanya jika mendapat musibah standarnya adalah bersabar. 

Beruntunglah bagik sudah mampu bersyukur meski diberikan cobaan atau musibah.

Kawan, di penghujung akhir tahun ini tentu banyak juga peristiwa dan kejadian yang dilalui. Mulai dari peristiwa kecil, sedang hingga luar biasa. 

Dari kejadian-kejadian yang menimpa diri sendiri, keluarga, tetangga, teman hingga negara bahkan di seluruh pelosok dan penjuru dunia dapat kita saksikan. Tentu dengan kemajuan internet saat ini.

Kawan, bagiku tahun ini ada beberapa peristiwa yang mungkin bisa menjadi kenangan. Mulai dari wisuda kuliah jenjang magister hingga aku boyong dari pesantren. Tentu semua itu adalah peristiwa penting bagi sebagian orang, termasuk bagiku.

Wisuda Program Magister 

Tahun ini, tepatnya pada 15 Juni lalu aku melaksanakan wisuda atau perayaan kelulusan perkuliahan. Selama kurang lebih dua tahun aku kuliah, yang tentunya banya dengan sistem daring (dalam jaringan), alhamdulillah akhirnya dapat terselesaikan juga. 

Meski dilalui dengan banyaknya kendala. Terutama soal kendala teknis saat perkuliahan, belum lagi kendala dana yang masih saja belum bisa full membayar mandiri karena masih menjadi beban orang tua. 

Terlebih pada masa pandemi, semua orang merasakan kesulitan. Apapun profesi dan bidang pekerjaannya.

Kuliah di jenjang ini sebenarnya sudah tertunda dua tahun semenjak kelulusan Strata 1. Karena saat itu aku mencari beasiswa kesana kemari yang alhamdulillah belum diberi rezeki melalui jalur tersebut. 

Barulah setelah diskusi dengan orang tua, jalur beasiswa orang tua akhirnya diterima. Meski dengan jalan hutang. Aku pun bertekad menyelesaikan tepat waktu dan berjanji mengembalikan biaya itu. 

Meskipun sedikitpun dari orang tua tak pernah membahasnya. Mungkin dari hati nuraniku yang akan bertekad sedikit meringankan beban keluarga. Terlebih aku adalah anak tertua dari empat bersaudara.

Meski pernah mengalami perkuliahan daring dan saat itu di desa, yang otomatis kendala teknis seperti internet yang sulit menjadi persoalan, akhirnya semua dapat dilalui dengan baik. Alhamdulillah.

Saat wisuda kemarin, kedua orang tuaku tak hadir. Tak mengapa. Karena kehadiran mereka justru akan menambah beban biaya lagi. Toh, yang penting kabar bahagia sudah tersampaikan. 

Beliau berdua juga sudah hadir saat wisuda S1 dulu. Dalam wisuda-ku kemarin yang hadir mewakili undangan sebagai wali adalah adikku yang di Jogja.

Selain itu, teman-teman pesantren di Jogja juga hadir dan memberikan ucapan selamat. Aku haturkan banyak terima kasih juga kepada mereka. 

Karena atas dukungan dan semangat dari mereka juga akhirnya aku dapat menyelesaikan perkuliahan dengan tepat waktu, meskipun tidak dengan predikat Cumlaude (pujian). Hehehe.

Sekali lagi, aku bersyukur sudah sampai hingga posisi saat ini dengan baik. PRnya, tentu masih banyak. 

Yang harus dilakukan tentu semakin besar dan tentunya tanggung jawab di pundak juga semakin berat. Status yang disandang di mata masyarakat dan negara sudah lumayan. 

Doanya, semoga badan ini selalu sehat dan hati yang selalu kuat. Aamiin.

Boyong dari Pesantren dan Kota Istimewa

Ya, selain wisuda, peristiwa tahun ini yang tak kalah istimewa dan terkenang adalah boyong dari pesantren. Boyong, istilah lainnya adalah pergi atau meninggalkan atau pindah. Ya, boyong. Aku boyong dari pesantren untuk kembali ke kampung halaman. 

Kurang lebih dua belas tahun di pesantren dan kota istimewa, Jogja, rasanya sungguh berat untuk meninggalkan kenangan dan pengalaman tersebut.

Tapi mau bagaimana lagi, semua itu adalah pilihan. Pilihan untuk belajar dan mencari pengalaman di kota istimewa. 

Pilihan untuk jauh dari sanak saudara dan orang tua. Ataupun pilihan untuk mengambil resiko apapun. Karena sejatinya hidup adalah pilihan. 

Termasuk pilihan untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya. Seseorang yang membuatku menentukan pilihan akan menghabiskan hidup di mana.

Ya, aku akhirnya menentukan untuk hidup di luar Jawa. Tepatnya di Sumatera. Tanah kelahiranku. Bahkan akhirnya aku menikah dengan orang Sumatera juga. 

Meskipun kenalnya di Kota Istimewa. Semoga pilihan-pilihan yang disuguhkan Tuhan itu membuatku juga mantap untuk melaluinya. Tentunya tetap dengan berusaha dan berdo’a.

Tulisan ini aku selesaikan di tahun 2023, tepatnya di bulan Maret menjelang Puasa Ramadhan. Maklum, kemarin-kemarin sedang sibuk ‘menata ulang’ kehidupan baru bersama istri. Hehehe.

Kini, diriku telah berada di suatu tempat yang jauh dari kampung halaman. Merantau mungkin jalan ninjaku. Atau itu adalah takdirku? Hehehe. Diriku kini sedang di Tanah Melayu. Tepatnya di Daik, Kabupeten Lingga, Propinsi Kepri.

Semoga di manapun diriku hidup dan berada senantiasa diberi pertolongan serta petunjuk oleh Sang Maha Kuasa. Karena di manapun, sejatinya adalah buminya Allah Swt. 

Sekian. Terima kasih.

Kamis, 16 Maret 2023

Menyusuri Jejak Penguasa Kesultanan Melayu Lingga





Saat ini, diriku telah menginjakkan kaki di Bunda Tanah Melayu. Ya, Bunda Tanah Melayu. Sebutan lain dari Kabupaten Lingga. Tepatnya aku sekarang tinggal di Kelurahan Daik, Lingga, Kepulauan Riau. 

Aku mungkin ditakdirkan untuk menengok kembali sejarah dan jejak para penyebar Agama Islam di Tanah Melayu saat ini. Jejak-jejak dan sejarah perjuangan para pendiri kesultanan serta penegak kebenaran agama Allah yang berada di tanah Melayu. Sebuah pulau di Sumatera. 

Aku tak sendirian. Aku bersama istri menuju peristirahatan terakhir seorang sultan dan ulama penyebar Agama Allah itu. Sebuah makam yang terletak di belakang Masjid Sultan Daik Lingga. 

Tepat setelah menunaikan Shalat Ashar, disertai rintik hujan sore, kamipun berjalan menuju makam. Suasana sedikit mendung dan rintik air hujan menemani perjalanan kami saat itu. Tak apa, suasana yang akan menambah syahdu perjalanan religi kali ini.

Kurang lebih seminggu lalu, kami telah melangsungkan pernikahan. Hingga kami memutuskan untuk tinggal di sini, Bunda Tanah Melayu Lingga ini. Semoga kami -terutama diriku- betah tinggal di sini. Cerita perjalanan kisah kami sungguh panjang. Tak akan cukup dituliskan di sini. 

Pada intinya, kami telah sampai di gerbang pernikahan. Sebuah gerbang menuju kehidupan baru, menjalankan syariat Allah Swt. Kami berdua akhirnya sampai di depan pintu pemakaman. 

Pemakaman di Kompleks Masjid Sultan tersebut merupakan kompleks pemakaman khusus keluarga kesultanan. Terlihat banyak makam tua di sana. Jika dilihat dari batu nisan yang terkesan tua dan kusam serta terbuat dari batu, dapat dipastikan makam itu sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun lalu. 
 
Kamipun sampai di Makam pertama. Makam Sultan Mahmud Riayat Syah III. Beliau merupakan Sultan atau Raja di Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Menurut para ahli sejarah, beliau ini memimpin tanah Melayu dari Tahun 1761 hingga 1812 M. 

Banyak kisah perjuangan dan teladan yang dapat diambil dari sosok Sultan Mahmud Riayat Syah III ini. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang sangat disegani rakyatnya. Selain karena wibawanya sebagai keturunan kerajaan, beliau juga gigih membela rakyat dan negara dari segala bentuk penjajahan. 

Beliau tak pernah rela jika bangsanya ditindas oleh negara lain, termasuk Belanda dan Inggris pada waktu itu. Beliau juga merupakan panglima perang yang piawai dalam mengatur strategi untuk mengusir penjajah. 

Dengan kegigihan beliau bersama rakyat, akhirnya Belanda dan Inggris pun dibuat kalang kabut. Hal ini dibuktikan dengan adanya Perang Riau yang terjadi pada 1782 - 1784 (Dalam Buku Sejarah Kejuangan dan Kepahlawanan Sultan Mahmud Riayat Syah). Bahkan, Belanda pernah dipermalui pada tahun 1787 di Tanjungpinang. 

Musuh-musuh bahkan terpaksa melarikan diri dengan pakaian sehelai pinggang, termasuk pimpinannya Residen Belanda di Tanjungpinang -David Ruhde- yang dengan wajah tertunduk harus pulang ke markas nya di Malaka kala itu. 

"Silalah berbisnis secara beradab dengan semangat saling menjunjung martabat, tetapi begitu kalian berubah menjadi biadab dengan menganggap kami bangsa yang lemah; langkah dulu mayat beta!" begitu kurang lebih perkataan Sultan Mahmud. 

Sungguh sikap patriotisme seorang penguasa yang berwibawa. Sultan Mahmud juga terkenal dengan kepiawaian dalam mengatur pemerintahan. 

Penerapan sistem otonomi daerah menjadikan wilayah-wilayah taklukan kerajaan memiliki wewenang untuk mengatur dengan kreatif dan kerja keras. Sehingga wilayah-wilayah taklukkannya dapat hidup lebih makmur dan damai. 

Sungguh, teladan yang sangat luar biasa dari sosok Sultan Mahmud. Sultan berwibawa nan baik kala memerintah Kesultanan Tanah Melayu kala itu.





Selesai menziarahi Makam Sultan Mahmud, kamipun meneruskan perjalanan menuju Makam kedua, Makam Merah. Makam Merah merupakan sebutan lain dari makam Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi. 

Beliau adalah raja terakhir dari Kerajaan Melayu Riau-Lingga. Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi ini memimpin dari tahun 1858 hingga 1899. Empat puluh tahun lebih beliau memerintah Kerajaan Melayu Riau-Lingga. Makam Merah ini terletak di Daik, Kecamatan Lingga, Kepri. 

Tepatnya di sebelah barat Museum Linggam Cahaya yang dikelola Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lingga. Dinamakan Makam Merah karena warna dominan di kawasan makam tersebut berwarna merah. Pagar dan pintu area makam bercat merah hingga keramiknya.

Menariknya juga, dari kompleks pemakaman bisa disaksikan dengan jelas kemegahan Gunung Daik di sebelah Timur. Selain makam Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi, terdapat juga makam yang mengurus rumah tangga istana. 

Beliau dikenal dengan nama Encik Ismail. Hal itu dibenarkan oleh penjaga makam di sana. Selain makam kedua tokoh hebat tersebut, tentunya masih banyak makam dan jejak-jejak peninggalan di Tanah Melayu ini. 

Semoga kita dapat melanjutkan perjalanan religi itu lagi di kemudian hari. Demikian sekilas cerita singkat perjalanan kami menyusuri secuil jejak-jejak para penerus Agama Allah di Bumi Melayu ini. Semoga kita dapat mengambil teladan dan hikmah serta meneruskan perjuangan beliau-beliau. Aamiin.

Selasa, 19 April 2022

Jangan Lewatkan Beberapa Amalan Ini pada Sepuluh hari Terakhir Ramadhan !

“Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan ramadhan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut. (HR. Muslim) Sebentar lagi umat muslim memasuki penghujung bulan Ramadhan. Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan inilah Rasulullah melakukan ibadah lebih giat dari malam-malam sebelumnya. Seperti halnya hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA di atas. Dalam sepuluh malam terakhir itu, rasulullah mengajak anggota keluar yang lain untuk memperbanyak i’tikaf, bertaqarrub serta memperbanyak aktivitas ibadah-ibadah yang lain. Kalimat “bersungguh-sungguh” pada hadis di atas juga menunjukkan bahwa Rasulullah menunjukkan anjuran kepada ummatnya agar tidak kendor dan lesu dalam beribadah di sepertiga terakhir bulan Ramadhan. Meskipun malam-malam Ramadhan adalah malam baik untuk beribadah, namun sepuluh malam terakhir ini yang lebih dianjurkan dan diutamakan. Mengingat menjelang akhir Ramadhan banyak masyarakat yang terlena akan datangnya hari raya. Beberapa keutamaan di sepuluh malam bulan Ramadhan yang menjadi alasan Rasulullah mengajak agar lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah ini adalah sebagai berikut : Pertama, sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan ini merupakan malam-malam yang paling dicintai Rasulullah SAW. Kedua, sepuluh hari terakhir ini menjadi penutup bulan Ramadhan yang penuh berkah. Setiap amalan manusia, biasanya dinilai dari amalan penutupnya. Ketiga, terdapat Lailatul Qadar atau malam seribu bulan yang biasanya pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Keempat, beliau mencontohkan agar umatnya tidak terlena dengan kesibukan menjelang hari raya. Justru harus disibukkan dengan ibadah-ibadah yang lebih berkualitas maupun secara kuantitasnya. Berikut ini sepuluh amalan utama yang menjadi perhatian Rasulullah di malam-malam terakhir bulan Ramadhan. 1. Memperpanjang Shalat Malam Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut, “Rasulullah SAW biasa ketika memasuki 10 Ramadan terakhir, beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Rasulullah menikmati kesyahduan malam-malam terakhir Ramadhan dengan membangunkan anggota keluarganya untuk bersama-sama beribadah kepada Allah. Bahkan sampai ada kata “mengencangkan ikat pinggang”. Ini mengisyaratkan bahwa Rasulullah bersungguh-sungguh dan lebih bersemangat lagi dalam beribadah. 2. Memperbanyak Sedekah Sedekah merupakah amalan sebagai ungkapan rasa syukur. Termasuk juga bersyukur telah dipertemukan dengan bulan puasa ramadhan ini. Bersyukur karena mampu menjalankan ibadah-ibadah selama bulan puasa Ramadhan. Tidak hanya sedekah wajib berupa zakat fitrah dan zakat mal, sedekah sunnah pun sangat dianjurkan untuk dilakukan. Sebagaimana hadis Rasulullah berikut ini, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Qs. As-Sajdah: 16). Sedekah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini bisa dengan berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim atau dhuafa. Dengan membagi makanan saat berbuka puasa, paket ramadhan berupa sembako atau pakaian dan sebagainya. 3. I’tikaf I’tikaf berarti berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT. Tidak keluar dari masjid kecuali ketika ada hajat lain yang sangat mengharuskan. I’tikaf sebenarnya dianjurkan dalam setiap waktu, namun Rasulullah lebih menganjurkan lagi pada sepuluh terakhir hari terkahir pada bulan Ramadhan. Sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA , Rasulullah SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadan. (HR. Muttafaq ‘alaih) 4. Membaca Al-Qur’an Meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam membaca Al-Qur’an juga merupakan anjuran ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Membaca Al-Qur’an dapat dilakukan di mana saja, asal tempatnya suci. Baik di masjid maupun di rumah masing-masing. Tentu juga setelah suci dari hadas. Terkadang juga bulan Ramadhan dijadikan momentum untuk memperbanyak khatam dalam membaca Al-Qur’an. Sehingga tradisi mengejar khataman ini menjadi kebahagiaan serta kepuasan tersendiri bagi yang biasanya sibuk dengan berbagai aktivitas pekerjaan lain. Demikian beberapa anjuran amalan yang bisa dilakukan selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Mari jadikan momentum Ramadhan kali ini dengan lebih giat lagi dalam beribadah kepada Allah SWT sehingga menjadi hamba yang bertaqwa di sisiNya. Aamiin.

Rabu, 24 November 2021

Refleksi Hari Guru Nasional 2021

Part I [Sebuah Intropeksi Diri]

Menjadi Guru, bukan sekedar mampu mengajar, namun juga mampu mendidik. Mengajar hanyalah sebatas tentang materi pelajaran. Mendidik lebih dari itu, mengasah pikir sekaligus mengasuh jiwa agar murid menjadi terarah. Membimbing dari kebodohan menuju pengetahuan dan kebenaran.

Guru, sebagai sosok yang patut untuk digugu dan ditiru, sepatutnya selalu berusaha untuk itu. Segala tindak tanduknya diperhatikan murid. Setidaknya dapat menjadi contoh dan teladan para muridnya.

Selain mengajar, guru pun sebaiknya terus belajar. Belajar dari pengalaman dan pengamalan yang sudah dilaluinya. Belajar untuk sabar, belajar untuk ikhlas dan belajar untuk tidak terlalu menuntut muridnya. Karena kewajiban seorang guru hanyalah menyampaikan ilmu. Adapun kepahaman adalah sepenuhnya milik sang Pemilik Ilmu.


Part II [ Sebuah Apresiasi ]

Guru, darimu aku belajar dan menimba ilmu. Mengerti banyak hal akan dunia. Pun tentang akhirat yang abadi. Laksana pelita di tengah gulitanya malam. Penerang jalan suram menuju kemuliaan.

Guru, tanpamu tak kan mungkin aku tahu tentang Tuhanku. "Man ana laulakum". Tanpamu pula, aku tak kan tahu arah melangkahkan kaki. Meski satu huruf yang kau ajarkan, berhak atasmu satu dirham. Bahkan, gunung emas sekalipun kan ku berikan. Namun yang ku punya hanyalah untaian doa tulus yang kupanjatkan.

"Semoga doa-doa terbaik untukmu diijabah Rabb-ku. Sehat selalu, panjang umur dan senantiasa menebar kebaikan serta ilmu untuk para murid yang juga selalu menunggu kucuran ilmu darimu. Menjadi pelepas dari dahaga kebodohan dunia dan akhirat."

"Selamat Hari Guru Nasional. Tetap semangat dalam berkarya dan mengabdi demi anak cucu bangsa Indonesia !"

-al Faqir-

Senin, 25 Januari 2021

Renungan Manusia dalam Membersamai Semesta (Sebuah Refleksi Awal Tahun)

 


        Jika biasanya refleksi dibahas dan dibicarakan -ataupun ditulis- di akhir tahun, namun bagaimana jika sebuah refleksi -renungan- itu justru sudah dibicarakan di awal-awal tahun? Bahkan, ketika masih di awal hari-hari bulan pertama. Jika refleksi akhir tahun biasanya membahas mengenai pencapaian-pencapaian serta evaluasi kinerja sebuah lembaga, pemerintahan maupun hanya sebatas bahan renungan pribadi bagi diri sendiri, kini renungan dan refleksi tak butuh untuk dilakukan pada akhir tahun dan membicarakan soal pencapaian atau evaluasi. Justru malah jauh dari itu.

    Seperti yang telah kita ketahui bersama,  hampir satu tahun kita dihadapkan cobaan berupa pandemi Covid-19. Cobaan yang melanda manusia di berbagai belahan dunia. Semua usia merasakan, segala aspek merasa menerima beban. Sudah tak terhitung lagi berapa korban yang disebabkan oleh makhluk kecil ciptaan Yang Maha Kuasa ini. Sudah berapa kepala keluarga kehilangan pekerjaan. Sudah tak terhitung lagi kerugian para pedagang. Atau bahkan, sudah berapa kali diadakan acara yang membahas mengenai pandemi yang satu ini. Hingga, sudah berapa podcast yang hadir di beranda Youtube kita yang mencoba mengulik, mengupas dan mencoba mengurai benang kusut pandemi (-tentang birokrasi, konspirasi hingga mencari solusi).

    Hampir satu tahun menahan derita pandemi. Ketika pandemi belum sepenuhnya beranjak pergi, kini kita sudah berada di awal tahun yang berbeda. Belum hilang bekas air mata kesedihan, kini di awal tahun kita disambut lagi dengan berbagai ujian dan cobaan dari Sang Maha Pemilik Semesta. Di akhir tahun lalu hingga di awal tahun ini, beberapa musibah mengiringi dan membersamai pandemi. Mulai dari di wafatkannya para ulama besar di negeri ini, bencana alam, korupsi pejabat negara di tengah masyarakat yang sedang kesusahan, hingga deretan bencana alam dan bencana transportasi pesawat terbang.

    Deretan peristiwa itu seakan melengkapi deretan pilu berkepanjangan yang dialami negeri ini. Tak kurang dari 13 ulama besar telah diwafatkan Yang Maha Mematikan. Berikut ini daftar ulama besar yang wafat tersebut: Habib Ja’far bin Muhammad Al Kaff Kudus (1 Januari 2021), KHR Muhaimin Asnawi – PP Al Asnawi Magelang (1 Januari 2021), KHR Abdullah Nachrowi – PP Ash-Shogiri Bogor (2 Januari 2021), KHR Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir – PP Al Munawir Krapyak (4 Januari 2021), Drs. M.Sai MHI – PP Nurul Yakin Malaka (5 Januari 2021), KH Muhammad Nuruddin A.Rahman – PP Al Hikam Bangkalan (9 Januari 2021), Habib Abu Bakar bin Salim Al Hamid Bondowoso – (9 Januari 2021), KH.Zainuddin Badrus – PP Al Hikmah Kediri (10 Januari 2021), KH. A. Yasin Asmuni – PP Hidyatut Thullab (11 Januari 2021), Drs. H. Ibnu Hazen – LTMNU (12 Januari 2021), Syekh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber (14 Januari 2021), Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf (15 Januari 2021). Selain nama-nama beliau di atas, tentu juga masih banyak ulama yang tidak terberitakan di media massa.

    Ke 13 ulama besar tersebut sudah tidak diragukan lagi keluasan ilmunya. Para tokoh pengayom masyarakat dan agama yang fatwa dan petuahnya selalu di nanti-nanti umat. Maka sangat wajar dan maklum jika sepeninggalan beliau-beliau ini masyarakat menjadi sangat bersedih hati. Bahkan, alam pun turut menunjukkan kesedihannya. Dibuktikan dengan gerimis yang menyertai setiap pemakaman para ulama dan kiai tersebut. Seakan alam pun ikut menangis. Tentu saja kematian adalah suatu keniscayaan bagi setiap yang bernyawa. Kull nafsin dzaiqatul mauut. Semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati.

    Namun, bukan itu yang membuat hati pilu dan kalut. Bukan tentang kematian setiap manusianya. Namun tentang siapa yang dikehendaki untuk segera bertemu denganNya. Mereka adalah para ulama pewaris para Nabi dan sebagai penerus risalah agama. Ilmupun dicabut dari muka bumi dengan cara diwafatkannya para pemilik ilmu itu. Inilah yang selayaknya menjadi kesedihan bersama. Ketika para ulama banyak yang sudah wafat sementara umat masih kebingungan mencari dan mengais ilmu yang tak kunjung paham.

    Selain wafatnya para ulama dan kiai, baru-baru ini juga kita sedang dihadapkan dengan berbagai bencana yang mengawali tahun. Mulai dari gunung meletus, jatuhnya pesawat terbang jatuh, banjir, longsor, gempa bumi, puting beliung hingga hujan es yang merupakan fenomena langka di negeri tropis kita ini.

    Rentetan peristiwa bencana alam di negeri tersebut mulai dari musibah banjir yang melanda Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Gempa di Majene Sulawesi Barat, Longsor di Sumedang Jawa Barat, banjir dan longsor di Gunung Emas Bogor, Erupsi Gunung Merapi dan Semeru, hingga jatuhnya pesawat terbang Sriwijaya SJ 182 dan yang terakhir ada peristiwa hujan es di Cianjur Jawa Barat. Memang, dari kacamata alam itu disebut dengan ‘fenomena alam’ atau ‘perjalanan alam’.

    Namun, berbeda jika dilihat dari kacamata agama. Kejadian-kejadian alam bukan saja menjadi sebuah fenomena biasa. Lebih dari itu, sebagai manusia dan hambaNya, hendaknya menjadikan setiap kejadian sebagai ibrah atau pelajaran. Sebagai motivasi untuk semakin mendekat kepada Sang Pencipta. Juga sebagai bahan renungan bagi setiap diri manusia.

    Sesungguhnya ada apa dengan semua semua rentetan peristiwa itu? Apakah alam murka? Bumi muak dengan segala tingkah laku manusia? Yang seenaknya mengeksploitasi alam sesuka mereka. Banjir yang disebabkan gundulnya hutan hanya dianggap sepele dengan ungkapan ‘karena curah hujan tinggi’. Miris. Belum lagi dengan murkanya deretan gunung berapi karena wilayah Indonesia berada di Cincin Api Pasifik atau Lingkaran Api Pasifik (bahasa Inggris: Ring of Fire). Yang tentu, itu semua hanya Allah yang tahu.

    Di awal tahun 2021 ini, setidaknya sebagai manusia kita mampu merefleksikan atau merenungkan setiap kejadian agar lebih waspada. Karena ada sebuah pepatah Jawa mengatakan, "Sak bejo-bejone wong kang lali, isih luwih bejo wong kang eling lan waspodo” (seberuntung-beruntungnya orang lupa, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada). Wallahu a’lam.

Senin, 31 Agustus 2020

Agar Mencapai Kesempurnaan Puasa


Dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, disebutkan bahwa untuk mencapai kesempurnaan puasa dapat dilakukan dengan enam perkara berikut ini :

1. Mencegah mata dari melihat perkara-perkara yang diharamkan dan dimakruhkan dan dari perkara-perkara yang dapat menghilangkan kita dari mengingat Allah Swt.

2. Mencegah lisan dari berbohong, menggunjing, adu domba, dan lain-lain.

3. Mencegah pendengaran dari berbagai perkara yang diharamkan.

4. Menjaga anggota yang lain dari perkara-perkara dosa dan tidak berbuka dengan perkara yang subhat.

5. Tidak memperbanyak makan dari perkara halal ketika berbuka sehingba terlalu kenyang.

6. Setelah berbuka, hati harus selalu berharap agar puasa kita diterima dan takut kalau puasa kita ditolak.


Sedangkan beberapa sunah puasa yang diambil dari beberapa sumber kitab fiqh adalah sebagai berikut :

1. Mengakhirkan sahur sampai akhir waktu malam, selama tidak dikhawatirkan terbit fajar.

2. Segera berbuka puasa bila benar-benar matahari terbenam.

3. Memperbanyak amal kebaikan, terutama menjaga shalat lima waktu pada waktunya dengan berjamaah, menunaikan zakat harta benda kepada orang-orang yang berhak, memperbanyak shalat sunah, sedekah, membaca al Qur’an dan amal kebajikan lainnya.

4. Jika dicaci maki, supaya mengatakan: ” Saya berpuasa,” dan jangan membalas mengejek orang yang mengejeknya, memaki orang yang memakinya, membalas kejahatan orang yang berbuat kejahatan terhadapnya; tetapi membalas itu semua dengan kebaikan agar mendapatkkan pahala dan terhindar dari dosa.

5. Berdoa ketika berbuka puasa.

6. Berbuka dengan kurma segar, jika tidak punya maka dengan kurma kering dan jika tidak punya maka dengan makanan yang manis, seperti kolak dan jika tidak ada maka cukup dengan air putih.


Tiga Macam Orang Berpuasa dan Sepuluh Keutamaannya

 


            Puasa menurut Syara’ adalah mencegah diri dari makan, minum dan bersetubuh mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari karena mengharap ridho Allah dan menyiapkan diri untuk bertaqwa kepadaNya.

            Ibnu Qudamah al Muqaddasiy membagi puasa menjadi tiga macam :

Pertama, puasa orang awam, yaitu sekedar menahan perut dan kemaluan dari keinginannya.

Kedua, puasa orang khusus, yaitu menahan pandangan lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa.

Ketiga, puasa orang yang paling khusus, yaitu puasanya qalbu dari keinginan-keinginan yang hina, pemikiran-pemikiran yang menjauhkan dari Allah dan menahan qalbu dari selain Allah SWT secara total.

Sedangkan fadhilah atau keutamaan yang kita peroleh dari puasa diantaranya :

1.      Puasa adalah seperempat iman. Ini merupakan kesimpulan dari makna dua buah hadits yang menyebutkan : “Ashaumu nishfush shabri (Puasa adalah separuh dari sabar).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah) dan hadits “Ash Shabru nishful Iman (Sabar adalah separuh dari Iman).” (H.R Abu Nu’aim).

2.      Pahala puasa dilipatgandakan. Dalam sebuah hadits disebutkan demikian, “Setiap kebaikan seorang hamba akan dilipatgandakan pahalanya dari 10 sampai 700 kebaikan, terkecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku (Allah) dan aku yang akan membalasnya.” (H.R Bukhari Muslim)

3.      Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih harum dibanding minyak kasturi.

4.      Orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu Ar Rayyan.

“Surga memiliki pintu yang disebut Ar Rayyan. Tidak akan memasukinya selain orang-orang yang berpuasa.” (H.R Bukhari)

5.      Orang yang berpuasa memiliki dua puncak kegembiraan.

“Orang yang berpuasa memiliki dua puncak kegembiraan: gembira pada saat berbuka puasa (ketika d dunia) dan gembira ketika bertemu Tuhannya (ketika di akhirat).” (H.R Bukhari Muslim)

6.      Puasa adalah pintu ibadah.

“Segala sesuatu ada pintunya. Adapun pintu ibadah adalah puasa.” (H.R Ibnu Mubarak)

7.      Puasa bisa menjadikan sehat. Sebagaimana sebuah hadits, “Berpuasalah, maka kalian akan sehat.” (H.R Abu Nu’aim)

8.      Puasa bisa menjadi benteng.

“Sesungguhnya puasa adalah tameng, maka jika salah seorang kamu sekalian berpuasa janganlah berkata kotor dan janganlah berlagak bodoh, kalau ada salah seorang yang ingin membunuh salah satu dari kamu atau berkata kotor pada salah satu dari kamu, maka katakanlah, ‘Saya sedang berpuasa, saya sedang berpuasa.” (H.R Muslim)

9.      Puasa bisa melebur dosa. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R Bukhari)

10.  Puasa menumbuhkan rasa kepedulian sosial terhadap sesama.

 

Minggu, 30 Agustus 2020

Sabar di Tengah Cobaan

 


            Pada zaman dahulu tersebutlah seorang yang bernama Abul Hasan. Ia pergi haji ke Baitul Haram dan ia melihat sebuah keajaiban. Sewaktu tawaf, dia tiba-tiba  melihat seorang wanita dengan wajah bersinar dan berseri-seri. Dengan kagum ia memuji, “Demi Allah saya belum pernah melihat wanita secantik dan secerah wanita ini, pasti tidak lain ia tidak pernah risau dan susah.”

            Rupanya wanita tersebut mendengar ucapan Abul Hasan, dan lantas ia bertanya, “Apa katamu, wahai saudaraku? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan duka cita dan luka hati yang mendalam karena risau”.

Abul Hasan heran, “Lalu apa yang membuatmu risau, saudaraku?”

Wanita itupun menjawab, “Suatu ketika suamiku menyembelih kambing qurban dan kala itu aku mempunyai dua orang anak.”

Saat aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang besar berkata, “Hai Dik, maukah kamu saya tunjukkan bagaimana cara ayah menyembelih kambing?” “Baiklah jika begitu,” Jawab adiknya,

Lalu disuruhlah adiknya tadi berbaring dan disembelihlah leher sang adik hingga meninggal. Setelah melihat darah bercucuran, ia disergap perasaan takut yang hebat sehingga larilah ia ke pucuk bukit dan bersembunyi, tetapi ia di sana malah dimakan srigala. Lalu ayahnya mencarinya dengan menyusul ke bukit. Setelah sekian lama mencari-cari anaknya yang tak kunjung ditemukan, akhirnya ia pun mati karena kelelahan dan kehausan.

Lalu Abul Hasan berkata, “Bagaimana kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu?”

Wanita itu menjawab, “Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dan mengeluh, melainkan ia menemukan di antaranya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan lebih terpuji akibatnya, Dan adapun mengeluh, maka seseorang tidak mendapatkan ganti kecuali hanya kesia-siaan saja.”

(Sumber : Ihya’ ‘Ulumiddin)

 
Copyright © 2013 PUJAKESUMA BLOGGER
Design by FBTemplates | BTT